
Pembahasan mengenai biaya pembuatan sumur bor antara Rp 100 juta hingga Rp 150 juta yang terjadi dalam rapat antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Kepala BNPB Letjen Suharyanto dan KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Isu ini muncul setelah Prabowo bertanya tentang biaya pembuatan sumur bor untuk korban bencana di Pulau Sumatera.
Kadispenad Brigjen Donny Pramono menjelaskan bahwa biaya sebesar Rp 150 juta tidaklah berlebihan. Ia menyatakan bahwa pembangunan sumur bor yang dimaksud oleh Jenderal Maruli adalah di Desa Tipar, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Biaya tersebut mencakup pembangunan yang dapat menjangkau 500 kepala keluarga (KK).
"Secara rinci biayanya segitu, tapi sebesar itu program di Banyumas yang diresmikan Bapak KSAD, ini wajar," kata Donny kepada nurulamin.pro di Jakarta, Sabtu (3/1/2025).
Dia juga meminta publik tidak salah paham bahwa biaya Rp 150 juta hanya untuk satu rumah. Menurut Donny, program sumur bor yang dilakukan oleh KSAD menggunakan pompa hidram (hydraulic ram pump) yang saluran airnya juga bisa digunakan untuk irigasi.
"Jadi demikian, bukan sumur bor yang di rumah-rumah. Sekali lagi program ini dijalankan di Banyumas, di Karawang, banyak sekali program-program Bapak KSAD," ucap Donny.
Donny mengakui bahwa pernyataan biaya yang disampaikan oleh KSAD membuat publik berspekulasi. Namun, ia menegaskan bahwa TNI AD siap membuktikan bahwa biaya pembuatan sumur bor sangat terjangkau jika dilihat dari hasil lapangan.
"Seperti itulah, jadi dianggap kok mahal sekali itu. Biasa kita sudah disalahartikan. Nanti kita lihat hasilnya di lapangan," ujar Donny.
Dalam rapat terbatas di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Rabu (1/1/2026), Prabowo sempat menanyakan biaya pembuatan sumur bor kepada jajarannya. Kepala BNPB Letjen Suharyanto menyampaikan bahwa biayanya sekitar Rp 100 juta. Adapun KSAD Jenderal Maruli menyebut bahwa biayanya bisa sampai Rp 150 juta, tergantung kondisi tanah.
"(Biaya) Rp 100 juta sampai Rp 150 juta, Bapak," kata Suharyanto melaporkan kepada Prabowo. Menurut dia, dengan biaya sebesar itu sudah mencakup instalasi air dan tangki air, yang bisa langsung diambil oleh warga korban bencana.
"Mungkin gak cukup, di atas Rp 100 (juta) Bang," kata Maruli melanjutkan pernyataan Suharyanto.
Prabowo pun menganggap biaya sebesar itu sangat terjangkau. "Menurut saya Rp 150 juta itu murah. Tapi ini sudah termasuk biaya tenaga kerjanya atau belum? Atau malah tentaranya tidak dibayar?" kata Prabowo.
Ia juga berpesan agar prajurit TNI yang membangun sumur bor mendapatkan honor. Suharyanto pun menjawab dengan menyebut alokasi sebanyak itu, personel TNI AD yang ikut membuat sumur mendapatkan insentif. "Sudah dibayar, Pak. Siap," ujarnya.
KSAD Jenderal Maruli pun tertawa ketika Prabowo mengingatkan Kepala BNPB terkait pekerja sumur bor juga harus dibayar.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar