Warga Kampung Pinangsia Menolak Direlokasi, Beban Hidup dan Trauma Menghantui

Kehidupan di Sekitar Rel: Kampung Pinangsia yang Menolak Relokasi

JAKARTA, aiotrade
Kampung Pinangsia, sebuah permukiman padat yang berdempetan dengan rel kereta api di perbatasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara, menjadi contoh nyata dari tantangan hidup di tengah kota besar. Meski tinggal dalam kondisi sempit, rentan kecelakaan, dan minim fasilitas, warga setempat enggan direlokasi. Alasan utamanya adalah ketakutan akan kehilangan mata pencaharian, biaya hidup yang mahal di tempat baru, serta trauma terhadap program relokasi sebelumnya.

Penolakan ini muncul saat aiotrade menelusuri kawasan tersebut pada Senin (1/12/2025). Di tengah lorong-lorong gelap, suara logam KRL yang melintas dari Stasiun Kampung Bandan menuju Stasiun Duri terdengar berulang tanpa jeda. Getaran terasa sampai ke tanah, mengguncang seng-seng lapuk dan menimbulkan suara berdenting dari peralatan dapur.

Namun, bagi warga, kebisingan dan risiko bukan alasan untuk pergi. “Di sini dekat kerja, dekat pasar. Kalau dipindah jauh, gimana kami hidup?” ujar Nopi (32), salah satu warga yang rumahnya hanya berjarak kurang dari satu meter dari bibir rel. Ia juga menyebutkan bahwa dulu pernah ditawari pindah ke rusun, tapi biaya bulanannya berat dan dagangan jadi sepi.

Kehidupan di Samping Rel

Untuk mencapai kampung yang berada persis di bawah dan di sisi lintasan rel itu, aiotrade memasuki kawasan melalui Jalan Cengkeh, lalu menelusuri belokan kecil menuju Jalan Pasar Pisang. Gang-gang yang tampak dari mulut jalan sudah memberi gambaran betapa padatnya kawasan ini. Lorong-lorong kurang dari satu meter, penuh jemuran, kabel kusut, dan papan tripleks yang menutup rumah-rumah bedeng.

Setiap beberapa menit, kereta lewat dengan suara memekakkan telinga. Getaran membuat beberapa jemuran bergoyang dan menimbulkan debu dari seng atap yang sudah lapuk. Beberapa anak kecil tampak berlari kecil menjauh saat klakson KRL terdengar dari kejauhan.

Di sisi bawah rel, permukiman lebih gelap. Sebagian lorong lantainya masih berupa tanah yang mengeras, sementara atapnya ditutup seng dan terpal, membuat cahaya matahari hampir tak masuk. Meski demikian, warga tetap beraktivitas seperti biasa memasak, menambal sandal, memperbaiki ponsel, hingga memotong sayuran di depan rumah.

Gelombang Kepadatan Setelah Penggusuran

Kepadatan Kampung Pinangsia bukan hanya hasil pertumbuhan alami warga lama. Banyak keluarga pindahan dari kolong tol, bantaran kali, dan lahan-lahan yang pernah ditertibkan pemerintah dalam proyek penataan kota. Beberapa tahun terakhir, setelah penggusuran di kolong tol di beberapa titik Jakarta, kampung ini menjadi tujuan warga yang tak memiliki cukup dana untuk menyewa rumah formal.

“Kolong tol digusur, banyak yang pindah ke sini. Karena di sini masih bisa bikin rumah kecil-kecilan, bayar listrik patungan, dan dekat tempat kerja,” kata Nopi. Menurut catatan warga, satu RT kecil RT 07 RW 01 diperkirakan berisi sekitar 200 kepala keluarga. Tidak ada data resmi pemerintah yang memperbarui jumlah ini, mengingat sebagian besar warga tidak memiliki dokumen kependudukan di alamat tersebut.

Mengapa Warga Menolak Relokasi

Dari hasil wawancara dengan sejumlah warga, ada beberapa alasan utama mereka enggan direlokasi. Sebagian besar warga bekerja sebagai pedagang kecil, pekerja serabutan, tukang ojek, karyawan pasar, atau buruh bongkar muat. “Kerja itu yang paling penting. Kalau rusun jauh, ongkos naik. Kalau dagangan sepi, habis kami,” kata Umi. Meskipun sewa rusun disubsidi, warga mengeluhkan biaya listrik, air, transportasi, dan kewajiban administratif.

Trauma masa lalu relokasi juga menjadi faktor. Beberapa warga pernah melihat atau mengalami sendiri kegagalan adaptasi di rusun. “Ada yang pindah rusun, akhirnya balik lagi ke sini karena dagangan nggak laku,” kata Dita. Pinangsia memiliki ekosistem informal tetangga membantu menjaga anak, ada warung murah, akses listrik kolektif, dan tidak ada biaya parkir.

Risiko Hidup Melekat di Pinggir Rel

Meski menolak relokasi, warga tidak menampik bahwa tinggal di pinggir rel adalah pilihan penuh risiko. Setiap tahun, beberapa kejadian nyaris celaka terjadi, terutama melibatkan anak-anak dan pengguna ojek yang melintas di lintasan tidak resmi. Kereta melintas tiap 5–7 menit di jam sibuk. Suaranya menggelegar, getarannya mengguncang tiang-tiang rumah, dan bagi anak kecil, lingkungan ini dapat menjadi jebakan berbahaya.

Selain risiko kecelakaan, ada bahaya kebakaran. Kabel listrik yang berseliweran, tersambung tidak resmi, dan dibiarkan menggantung rendah di beberapa titik. “Kalau korslet, habis satu lorong,” ujar Asep (50) seorang warga laki-laki yang sedang memperbaiki kabel di tiang kayu.

Pandangan Pengamat

Menanggapi persoalan permukiman di koridor rel aktif seperti Pinangsia, pengamat tata kota Yayat Supriyatna menyebut bahwa pendekatan relokasi tidak bisa dilakukan secara spontan atau dipaksakan tanpa perhitungan matang. Menurut Yayat, penertiban permukiman bantaran rel idealnya melibatkan tiga unsur utama PT KAI sebagai operator lahan operasional, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan kementerian atau lembaga yang memiliki kewenangan atas lahan negara jika status tanah belum jelas.

Yayat mencontohkan era Jonan di PT KAI, ketika banyak permukiman di sepanjang koridor kereta ditertibkan secara tegas. Namun, penertiban itu harus dibarengi dengan pemanfaatan kembali lahan yang dibersihkan agar tidak ditempati kembali oleh pendatang baru. “Masalah terbesar di kita adalah ketika penertiban tidak diikuti pemanfaatan. Kalau tanah yang ditertibkan tidak dibuat taman, dipagar besi, atau diberi fungsi jelas, maka akan dijamah lagi,” kata Yayat.

Pemerintah pusat disebut berhati-hati untuk menghindari konflik sosial yang bisa mengganggu stabilitas kota. “Penertiban pun harus ada plan B, misalnya dipindahkan ke mana, ada uang kerohiman atau tidak, ada ganti rugi atau tidak. Jangan sampai menimbulkan kerusuhan,” kata Yayat.

Saat aiotrade menanyakan harapan warga, sebagian besar menginginkan perbaikan fasilitas dasar tanpa relokasi. “Kalau bisa, listrik ditata, MCK diperbaiki, dan rel kasih pagar. Kami mau aman, tapi nggak mau jauh dari kerjaan,” ujar Umi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan