Warga Korban Banjir Menyayangkan, DPRD Sebut Pemko Medan Kurang Siap

Warga Korban Banjir Menyayangkan, DPRD Sebut Pemko Medan Kurang Siap

Kondisi Darurat di Medan Akibat Banjir Besar

Tiga hari setelah banjir besar melanda 19 kecamatan di Kota Medan, kondisi kian memprihatinkan. Cerita-cerita dari lokasi pengungsian terus berdatangan, mulai dari tenda yang gelap gulita tanpa listrik, anak-anak yang menggigil karena malam dingin, hingga antrean panjang warga menunggu makanan yang tak kunjung datang.

Di tengah situasi ini, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Medan, Muslim menilai Pemerintah Kota Medan gagal merespons cepat bencana yang telah diperingatkan jauh hari oleh BMKG. Menurutnya, Pemko Medan tidak siap menghadapi banjir dan warga memprihatinkan.

Pengungsian Tanpa Dapur Umum

Keluhan terbesar warga datang dari lokasi yang padat pengungsi, terutama di Medan Marelan. Banyak titik pengungsian yang berdiri seadanya, menggunakan aula, sekolah, atau rumah ibadah, namun tanpa dapur umum pemerintah. Akibatnya, warga hanya bisa menunggu bantuan nasi bungkus dari swadaya dan sisa-sisa stok selama dua hari.

Pemko terlambat mengirimkan pangan penting, dengan alasan jalurnya pun terhambat karena banjir memutuskan akses jalan. Muslim menyatakan bahwa jika sejak awal camat, lurah, dan kepala lingkungan diperintahkan membuat dapur umum, warga tidak akan kelaparan. Namun karena tidak ada instruksi, semuanya terlambat.

Tiga Hari Tanpa Listrik dan Air Bersih

Di Medan Utara, kondisi pengungsi semakin berat, tiga hari tanpa listrik, tiga hari tanpa air bersih, dan akses telekomunikasi terputus. Banyak warga yang menghabiskan malam gelap dalam tenda lembap, tanpa kepastian kapan bantuan berikutnya tiba.

Bayangkan sengsaranya warga. Sudah rumah terendam, makanan telat, listrik padam, internet mati. Ini bukan kondisi ringan. Karena itu Pemko seharusnya lebih siap.

Pelayanan Kesehatan Dinilai Lemah

Selain masalah logistik, Muslim menyoroti lemahnya kesiapan layanan kesehatan pasca-banjir. Banyak anak-anak mengalami demam, batuk, dan diare setelah berhari-hari terjebak di pengungsian. Ia menilai posko kesehatan belum merata, dan pelayanan masih mengandalkan puskesmas-puskesmas terdekat, yang kapasitasnya terbatas.

Muslim menyarankan agar Pemko melibatkan banyak rumah sakit di Medan. Ini status Tanggap Darurat Bencana, bukan situasi biasa. Harus ada langkah ekstra.

Warga Masih Menunggu Perbaikan Respons

Di lapangan, pengungsi masih bertahan dengan peralatan seadanya. Beberapa kelompok masyarakat mulai memasak mandiri menggunakan tungku darurat. Relawan datang silih berganti membawa air mineral, obat-obatan, hingga tikar. Namun kebutuhan tetap jauh lebih besar dari suplai.

Muslim berharap kritik ini menjadi alarm keras bagi Pemko Medan agar memperbaiki sistem penanganan bencana ke depan, mulai dari koordinasi, distribusi logistik, hingga layanan kesehatan. Kita tak bisa terus-terusan gagap menghadapi banjir. Medan berada di jalur cuaca ekstrem, dan perubahan iklim membuat risiko makin tinggi. Pemerintah harus lebih tanggap sebelum warga kembali menjadi korban.

Masalah Kebersihan dan Bantuan Petugas Medis

Warga Terjun Marelan yang terdampak banjir parah, ketinggian air hingga seleher, hingga Selasa mengeluhkan masalah kebersihan dan tak ada bantuan petugas medis ke lapangan. Rizky mengaku masih memulihkan rumah abang berlumpur dan perabotan yang telah menjadi sampah, namun tak ada bantuan petugas kebersihan.

Sampai hari ini gak ada petugas kebersihan. Kompleks kami di Terjun penuh sampah, dan bau. Waega mulai sakit tak ada kehadiran pemerintah. Kami takut sampah bau sudah dua hari jadi sumber penyakit.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan