
Kisah Keluarga Singapura yang Mencari Mantan ART Indonesia
Keluarga Samuel, Willie, dan Felicia asal Singapura memiliki kisah unik tentang seorang mantan Asisten Rumah Tangga (ART) asal Indonesia bernama Susilowati. Wati, begitu mereka memanggilnya, telah menjadi bagian penting dalam kehidupan ketiga bersaudara ini selama bertahun-tahun.
Hubungan Khusus dengan Susilowati
Susilowati bekerja di rumah keluarga Samuel sejak 1994 sebagai ART. Selama 16 tahun, ia tinggal bersama Samuel, Willie, dan Felicia hingga mereka tumbuh dewasa. Ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai pembantu, tetapi juga seperti ibu kedua bagi ketiga anak tersebut. Samuel mengungkapkan bahwa selama masa itu, Wati menjadi bagian dari keluarga mereka.
“Kami sering menyebut keluarga kami ada enam orang, termasuk Mbak Wati,” kata Samuel. Felicia, yang merupakan anak bungsu, masih menyimpan beberapa barang peninggalan Wati seperti sarung dan cangkir favoritnya. Ia berharap suatu hari bisa menunjukkan barang-barang itu saat bertemu kembali dengan Wati.
Janji yang Tak Terlupakan
Pada 15 tahun lalu, ketiga bersaudara pernah berjanji bahwa salah satu dari mereka akan menikah dan mengundang Wati untuk hadir. Kini, Samuel, yang merupakan sulung dari tiga bersaudara, akan menikah pada 2026. Namun, hingga kini, mereka belum berhasil menemukan Wati.
Sejak Susilowati pulang ke Indonesia pada 2010, komunikasi antara keluarga dan Wati sempat berjalan baik. Namun, sejak awal pandemi, nomor telepon yang biasa digunakan Wati tidak lagi aktif. Samuel dan keluarga mencoba menelepon, tetapi tidak pernah tersambung. Pernah ada yang mengangkat sebentar lalu terputus.
Upaya Pencarian yang Dilakukan
Untuk mencari Wati, keluarga kini menggunakan akun Instagram @cari.wati. Beberapa warganet pernah memberi petunjuk, tetapi belum ada informasi yang mengarah pada keberadaan Wati. Samuel mengatakan bahwa mereka sangat berharap masyarakat Indonesia dapat membantu menemukan Wati.
“Kami ingin menepati janji yang pernah dibuat bersama. Kami ingin mengundang beliau sebagai bentuk terima kasih,” ujar Samuel. Felicia menambahkan bahwa jika Wati tidak bisa datang ke Singapura, mereka siap datang ke Semarang atau Pati untuk menemuinya.
Perasaan yang Mendalam
Jika akhirnya bertemu kembali, Felicia mengatakan bahwa yang ingin mereka lakukan adalah memeluk Wati dan mengucapkan terima kasih. Bagi keluarga ini, menemukan Wati bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi juga menepati janji yang pernah dibuat.
Mereka juga berharap masyarakat yang pernah mengenal Wati, diduga berasal dari Semarang atau Pati, diperkirakan berusia lebih dari 60 tahun, dapat memberikan informasi yang berguna. Masyarakat dapat menghubungi mereka melalui Instagram @cari.wati.
Berita Lain: Kecelakaan Kebakaran di Hongkong
Selain kisah keluarga Singapura, ada juga berita tentang Dina Martiana, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Ponorogo yang menjadi korban meninggal dunia dalam insiden kebakaran di kompleks apartemen Wang Fuk Court, Hongkong.
Dina Martiana, yang dikenal dengan nama Mardianq di media sosial, ditemukan meninggal dunia karena melindungi majikannya dari asap tebal. Riko Andi, adik bungsu Dina, mengungkapkan bahwa kakaknya meninggal pada Sabtu (29/11/2025), sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, Suhodo, suami Dina sedang mandi.
Menurut Riko, Dina terakhir berkomunikasi dengan dirinya pada Selasa (25/11/2025), sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah kebakaran, komunikasi dengan Dina terputus. Kejelasan tentang kematian Dina baru didapatkan pada malam hari.
Di rumah duka, suasana haru menyeruak. Para pelayat datang untuk memberikan dukacita atas kematian Dina. Menurut data dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), sejumlah besar CPMI (Calon Pekerja Migran Indonesia) bekerja di Hongkong. Tahun 2025, sebanyak 1.391 CPMI tercatat bekerja di sana.
Data dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyebutkan bahwa tujuh WNI menjadi korban jiwa dari insiden kebakaran tersebut. Satu WNI lainnya masih dalam perawatan medis namun dalam kondisi stabil.
KJRI Hong Kong mengungkapkan bahwa ada 140 WNI/PMI yang bekerja di sektor domestik di pemukiman Wang Fuk Court. Dari jumlah itu, 61 orang telah dikonfirmasi keberadaannya. Jumlah korban meninggal dunia akibat kebakaran tersebut mencapai 128 orang, sementara 79 orang lainnya mengalami luka serius dan tengah mendapatkan perawatan di 15 rumah sakit di Hong Kong.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar