
Perayaan Tahun Baru 2026 di Surabaya Tanpa Pesta Kembang Api
Pemerintah Kota Surabaya mengambil keputusan untuk tidak menyelenggarakan pesta kembang api dalam perayaan pergantian tahun baru 2026. Keputusan ini diambil sebagai bentuk empati terhadap saudara-saudara di Sumatera yang sedang menjalani proses pemulihan dari bencana. Selain itu, langkah ini juga dilakukan untuk menjaga ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat.
Namun, meskipun tidak ada acara resmi dari pemerintah, warga Surabaya tetap memperingati tahun baru dengan cara mereka sendiri. Berbagai lokasi populer seperti Kawasan Jalan Tunjungan dan Embong Malang menjadi pusat perayaan. Di sini, warga secara mandiri menyalakan kembang api, menciptakan suasana yang penuh semangat meskipun tanpa adanya pesta kembang api yang diadakan oleh pihak berwenang.
Satu jam sebelum pergantian tahun baru 2026, antusiasme warga terlihat jelas di Kawasan Jalan Tunjungan. Ribuan orang berkumpul di sepanjang jalan, menunggu momen penting tersebut. Meski terjadi kemacetan dan kerumunan, semangat perayaan tetap terasa tinggi. Banyak pengunjung yang memilih berada di pinggir jalan atau di area tertentu untuk menyaksikan nyala kembang api yang dinyalakan oleh warga setempat.
“Saya merasa prihatin dengan kondisi bencana di Indonesia dan saudara-saudara kita di Sumatera. Tapi, pergantian tahun biasanya identik dengan kembang api. Saya ikut merasakan prihatin juga,” ujar Aike, salah satu pengunjung yang hadir di Tunjungan Plaza.
Warga Merayakan dengan Inisiatif Sendiri
Meskipun tidak ada acara khusus yang diselenggarakan oleh pemerintah, warga Surabaya tetap meramaikan kawasan Jalan Tunjungan sejak sore hari. Pengendara roda dua mendominasi lalu lintas di pusat kota, sementara pengunjung memenuhi area pinggir jalan untuk menunggu momen kembang api.
Di dekat Siola hingga Jalan Gubernur Suryo, kemacetan terjadi semakin parah menjelang pergantian tahun. Banyak warga dan pengendara bersiap untuk mengabadikan momen spesial ini. Kembang api mulai menyala di berbagai titik, termasuk di Jalan Tunjungan, Jalan Gubernur Suryo, dan depan Tunjungan Plaza.
Kebiasaan menyalakan kembang api di kawasan ini selalu menjadi bagian dari tradisi tahun baru. Namun, kali ini, kegiatan ini dilakukan oleh warga secara mandiri. Kembang api menyala hingga pukul 00.30 WIB, memberikan pemandangan yang menarik bagi para penonton.
Selain Jalan Tunjungan, kawasan Jalan Embong Malang dan Pasar Kembang juga turut merayakan pergantian tahun. Banyak warga yang membawa kembang api sendiri, meskipun sebelumnya sempat ragu apakah aktivitas ini diperbolehkan atau tidak.
“Saya sempat berpikir apakah ada acara atau tidak. Katanya nggak boleh, tapi ternyata banyak orang yang membawa dan menyalakan kembang api. Saya merasakan suasana tahun baru, tapi di sisi lain saya prihatin dengan kondisi Indonesia yang sedang menghadapi bencana,” ujar Rukmana, warga Waru.
Kesimpulan
Perayaan tahun baru 2026 di Surabaya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Meskipun pesta kembang api resmi dibatalkan, antusiasme warga tetap terlihat melalui inisiatif mereka sendiri. Dengan berbagai lokasi yang dipilih, warga berhasil menciptakan suasana meriah yang tetap menghormati kondisi negara saat ini. Kombinasi antara kegembiraan dan rasa prihatin menjadi ciri khas perayaan tahun baru di Surabaya tahun ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar