
Kekhawatiran Warga Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki
Warga yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di kawasan hunian sementara (huntara) khususnya di Huntara 3 dan 4 di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, mulai merasakan dampak buruk dari konstruksi yang tidak memadai. Prediksi mereka tentang potensi munculnya petaka baru semakin menjadi nyata.
Salah satu masalah utama adalah kemungkinan terjadinya banjir saat hujan deras. Selain itu, ada kekhawatiran akan kerusakan hunian jika terkena badai. Prediksi ini sudah kami dengar sejak awal proses pembangunan Huntara 3 dan 4, kata beberapa warga terdampak bencana letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki asal Desa Hokeng Jaya, Nawokote, dan Nobo, pada Kamis, 11 Desember 2025.
Realitas pembangunan di atas tanah hasil gusuran dengan sebaran dataran tinggi dan rendah telah diprediksi sejak lama bakal rentan terhadap banjir. Sementara itu, pada aspek konstruksi, penyintas yang digeserkan dari Poslap Bokang Wolo Matang meragukan kualitas material yang digunakan dalam pembangunan hunian.
Warga dari Dusun Wolorona dan Desa Persiapan Padang Pasir mengungkapkan adanya perbedaan yang mencolok antara Huntara 1 dan 2 dengan Huntara 3 dan 4. Pada komponen dasar di setiap copel, khususnya di Huntara 3, hanya dibentuk menyerupai fondasi di atas tanah tumpang. Hal ini menunjukkan kurangnya pemahaman atau kesengajaan dalam pengerjaan.
Material baja ringan yang terpasang pada sejumlah komponen hunian tersebut pun mudah koyak. Lebih parahnya lagi, material dinding, jendela, serta pintu juga dinilai tidak memadai.
Pada komponen atap, warga menyampaikan keluhan tentang pendeknya jarak tirisan yang berpotensi menyebabkan rembesan air hujan. Rembesan ini bisa merusak komponen dinding, pintu, jendela, serta isi dalam hunian pada copel-copel tersebut.
Entah pelaksana pembangunan huntara mendasari produk perencanaan dari mana serta seperti apa pengawasan selama proses pekerjaan, kami sendiri tidak tahu. Kami beruntung mendapat support dari dana desa sehingga bisa melakukan pembenahan-pembenahan seperlunya, ujar warga terdampak bencana letusan Gunung Lewotobi tersebut.
Tidak hanya itu, pada sisi penerangan, mereka juga menyayangkan kualitas material yang digunakan. Informasi tentang buruknya material serta potensi malapetaka baru di Huntara 3 sudah disampaikan ke para elite Kabupaten Flores Timur. Namun entah seperti apa skema pelaksanaan dan pengawasan pembangunan huntara, sepertinya Pemda Flores Timur tak berdaya.
Pemda Flores Timur, demikian lanjut para penyintas Huntara 3 itu, baru mengerutkan dahi ketika muncul malapetaka, lantas terbirit-birit meninjau dan memikirkan pola penanganannya. Semoga pada kawasan ini tidak tersentuh angin ribut dan angin yang biasa menyatu dengan hujan di kala musimnya. Entah apa jadinya hunian ini bila kondisi itu benar-benar terjadi, keluh mereka menyayangkan buruknya kualitas hunian pada Huntara 3 dan 4 itu.
Masalah Konstruksi yang Menjadi Sorotan
Beberapa masalah konstruksi yang muncul di Huntara 3 dan 4 meliputi:
-
Kualitas Dasar Hunian
Komponen dasar di setiap copel hanya dibentuk menyerupai fondasi di atas tanah tumpang, yang tidak cukup kuat untuk menahan beban berat atau cuaca ekstrem. -
Material Baja Ringan yang Mudah Koyak
Material baja ringan yang digunakan pada sejumlah komponen hunian mudah rusak, terutama saat terkena tekanan atau cuaca buruk. -
Masalah pada Dinding, Jendela, dan Pintu
Material dinding, jendela, dan pintu dinilai tidak memadai, sehingga rentan rusak dan tidak tahan terhadap cuaca ekstrem. -
Atap dengan Tirisan Pendek
Jarak tirisan yang pendek meningkatkan risiko rembesan air hujan yang dapat merusak bagian dalam hunian.
Kritik terhadap Pengawasan Pembangunan
Warga terdampak juga menyampaikan kritik terhadap pengawasan selama proses pembangunan. Mereka merasa tidak tahu dari mana perencanaan tersebut berasal dan bagaimana proses pengawasan dilakukan. Meskipun mereka mendapatkan dukungan dari dana desa, hal tersebut tidak cukup untuk mengatasi semua masalah.
Warga terdampak bencana letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki menunjukkan kerusakan pada salah satu hunian sementara mereka.
Sebuah hunian di Huntara 3 yang tampak tidak stabil akibat konstruksi yang buruk.
Warga sedang melakukan pembenahan pada hunian mereka menggunakan dana desa.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar