Warga Wonorejo Balikpapan Bantu Atasi Banjir dengan Hibahkan Lahan

Warga Wonorejo Balikpapan Bantu Atasi Banjir dengan Hibahkan Lahan

Upaya Warga Wonorejo Mengatasi Banjir dengan Hibah Lahan

Kota Balikpapan, yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur, sering kali menghadapi masalah banjir, terutama di kawasan Wonorejo, Kelurahan Gunung Samarinda, Balikpapan Utara. Namun, kini ada harapan baru untuk mengatasi permasalahan tersebut. Peran aktif warga menjadi kunci dalam penyelesaian masalah ini, khususnya melalui hibah lahan pribadi untuk pembangunan saluran drainase permanen.

Saluran drainase yang akan dibangun sepanjang 290 meter ini merupakan langkah awal dalam upaya mengatasi genangan air yang selama ini mengganggu kehidupan warga. Pembongkaran parit buntu di Kompleks Perumahan Kelapa Gading menjadi tanda awal dari proyek ini. Parit tersebut disebut sebagai salah satu penyebab utama genangan di kawasan Wonorejo. Dengan adanya pembongkaran ini, warga berharap bisa membangun sistem drainase yang lebih efisien dan mencegah banjir di masa depan.

Pembangunan drainase ini bisa direalisasikan setelah salah satu warga, Iskandar Lubis atau dikenal dengan panggilan Ucok, memberikan persetujuan pembangunan parit permanen di atas lahan miliknya. Lahan tersebut memiliki bentang parit terpanjang, sekitar 250 meter. Sementara sisanya, sepanjang kurang lebih 140 meter, berasal dari lahan milik keluarga Mbah Ali (65 meter) dan Suratmi (75 meter).

Selain masalah parit buntu, Ucok juga menyampaikan bahwa masih ada masalah lain yang belum terselesaikan di Kompleks Perumahan Kelapa Gading, yaitu belum dibangunnya bozem kompleks atau bangunan pengendali banjir (bendali). Padahal, pada Desember 2016 lalu, pihak pengembang kompleks sempat membuat surat pernyataan kesanggupan membangun bozem. Namun, dokumen tersebut tidak lagi ditemukan setelah diserahkan kepada mantan Ketua RT 34, Rumiyati. Hal ini menyulitkan warga dalam menagih janji pembuatan bozem Kompleks Perumahan Kelapa Gading.

Ucok berharap langkah hibah lahan yang dilakukan warga dapat mengubah sudut pandang masyarakat tentang pentingnya fasilitas umum, khususnya infrastruktur dasar seperti drainase yang menjadi kebutuhan pokok kawasan permukiman. Ia juga mendorong pergeseran cara pandang warga dalam bersedekah atau menyumbang, tidak hanya difokuskan pada pembangunan rumah ibadah, tetapi juga pada infrastruktur lingkungan.

Saat ini bukan masjid atau langgar yang dibutuhkan, tetapi saluran drainase yang memadai lebar dan panjangnya. Karena ini kebutuhan pokok lingkungan, apalagi di daerah rawan banjir, ujarnya.

Selain itu, Ucok mengusulkan kepada Pemerintah Kota Balikpapan agar menyediakan setidaknya satu unit alat berat excavator di setiap kelurahan. Dengan demikian, kegiatan perawatan saluran drainase bisa terjadwal dengan baik dan lebih efisien.

Suparmin, perwakilan keluarga Mbah Ali, menyebut hibah lahan untuk pembangunan parit ini merupakan kelanjutan dari amal baik yang telah dicontohkan almarhum ayahnya, Ali Marno. Ia mengungkapkan, Ali Marno sebelumnya juga telah menghibahkan tanah miliknya untuk dijadikan Jalan Wonorejo. Bahkan, nama Wonorejo adalah ide dari almarhum Ali Marno.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan