Warisi Disiplin Ayah, Khabib Larang Murid Latihan Setengah-Setengah

Khabib Nurmagomedov: Karakter Seorang Pelatih Tidak Bisa Dinegosiasi

Khabib Nurmagomedov, mantan juara kelas ringan UFC, menegaskan bahwa sifat keras dan disiplin yang diterapkan dalam perannya sebagai pelatih tidak bisa dinegosiasi. Ia menjelaskan bahwa karakteristik ini menjadi bagian penting dari cara dirinya melatih atlet-atlet di bawah bimbingannya.

Setelah pensiun dari dunia pertarungan, Khabib aktif sebagai pelatih di Dagestan, Rusia. Ia meneruskan warisan ayahnya, Abdulmanap Nurmagomedov, yang juga seorang pelatih terkenal. Dalam perjalanan karier sebagai pelatih, banyak petarung UFC yang telah menjadi muridnya. Bagi para atlet tersebut, memiliki pelatih sekaliber Khabib tentu menjadi kebanggaan dan kehormatan tersendiri.

Namun, metode kepelatihan Khabib sering kali mendapat perhatian khusus. Di media sosial, banyak yang menyaksikan ketegasannya dalam melatih murid-muridnya, bahkan jika mereka adalah rekan satu tim atau sesama atlet. Menurut Khabib, ketika atlet datang ke tempat latihan, mereka harus siap untuk mengikuti instruksi tanpa ada ruang untuk berbicara bebas.

"Ketika kami datang ke sasana, ketika kami memulai latihan, mereka semua tahu tentang ini, tidak ada kebebasan berbicara," ujarnya dalam wawancara dengan MMAFighting.

"Tidak ada kebebasan berbicara. Semua orang melakukan apa yang saya katakan jika saya adalah pelatih."

Ia juga menjelaskan bahwa dalam latihan, tidak ada jalan tengah. "Masuk atau keluar, tidak ada 50-50 (setengah-setengah), dan saya mencoba mendorong mereka dengan sangat baik."

Menurutnya, hasil yang dicapai oleh timnya di hampir setiap organisasi menunjukkan bahwa pendekatannya berhasil. "Dan jika Anda melihat hasil yang kami miliki di hampai setiap organisasi, kami memiliki juara, dan kami memiliki beberapa petarung terbaik saat ini," tambahnya.

Mencari Calon Juara yang Disiplin

Khabib tidak hanya mencari atlet yang kuat secara fisik, tetapi juga yang bersungguh-sungguh dalam belajar, baik di dalam maupun di luar gym. Ia percaya bahwa disiplin dalam berlatih akan berdampak langsung pada hasil yang diperoleh.

"Kami adalah tim terbaik, dan saya sangat senang. Itu berarti saya melakukan pekerjaan dengan baik."

Namun, ia juga menekankan pentingnya memisahkan kompetisi dengan masalah pribadi. Menurutnya, dalam pertandingan, menang atau kalah adalah hal biasa. Yang terpenting adalah belajar dari setiap pertandingan agar menjadi pribadi yang lebih baik.

"Ada beberapa petarung yang menganggap kompetisi ini sangat pribadi,” jelas Nurmagomedov.

"Misalnya, ketika mereka kalah dalam kompetisi, dan saat ini, Anda bisa melihat bagaimana para pemain kehilangan bola dan hanya berdiri saja. Rasanya seperti, ayolah, saudaraku, kau tidak bisa melakukan ini.”

“Jika kamu berada di timku, bahkan saat aku bermain, jika kita kalah dan dia tersenyum, dia akan mendapat masalah besar. Kamu harus tampil. Siapa pun bisa kalah, tetapi kamu harus menunjukkan yang terbaik. Kamu tidak bisa berada di timku hanya tertawa dan tersenyum saat kita kalah.”

Warisan Ayah dan Keputusan Pensiun

Setelah ayahnya meninggal dunia, Khabib mempertahankan gelarnya untuk terakhir kalinya dengan mengalahkan Justin Gaethje di UFC 254 pada Oktober 2020. Keputusan untuk pensiun tidak lepas dari janjinya kepada ibunya, yang ingin ia meninggalkan kompetisi di dalam oktagon.

Dengan pengalaman dan pengetahuannya sebagai pelatih, Khabib terus memberikan kontribusi besar bagi dunia olahraga bela diri, terutama di Dagestan. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan yang tegas dan disiplin dapat menciptakan tim yang hebat dan berprestasi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan