
Peningkatan Kunjungan Wisatawan di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat
Pada masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung diperkirakan mencapai sekitar 4,5 juta orang. Hal ini berdampak signifikan pada tingkat hunian hotel di kota tersebut, dengan beberapa hotel mengalami peningkatan yang sangat tajam. Bahkan, beberapa penginapan terpaksa kehabisan kamar karena permintaan yang tinggi.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, lonjakan wisatawan dapat terlihat dari peningkatan okupansi hotel di berbagai kawasan, seperti Asia-Afrika, Braga, dan daerah-daerah lain yang dekat dengan tempat-tempat keramaian. Beberapa hotel di kawasan tersebut bahkan mencatatkan okupansi hingga 100%.
“Saya mendapatkan laporan bahwa beberapa hotel mencapai 100% okupansi, sementara hotel yang lebih jauh memiliki angka sekitar 60-70%, ada juga yang mencapai 80%. Namun, tidak semua hotel penuh. Perbedaan ini terjadi karena lokasi masing-masing hotel,” ujar Adi saat dihubungi, Jumat 2 Januari 2026.
Adi menyampaikan bahwa peningkatan kunjungan wisatawan dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk keamanan di tengah cuaca ekstrem dan kondisi ekonomi masyarakat yang sedang melemah. Akibatnya, banyak orang memilih Kota Bandung sebagai destinasi perayaan akhir tahun.
“Prediksi saya, karena sebelumnya beberapa tempat yang biasa dikunjungi saat akhir tahun, seperti Bali, sempat ramai dengan bencana. Selain itu, ekonomi sedang melemah, sehingga banyak orang memilih Bandung karena lokasinya yang dekat,” tambahnya.
Meskipun masih dalam proses pendataan, Adi memperkirakan bahwa jumlah wisatawan yang datang ke Kota Bandung selama Nataru mencapai 4,5 juta orang. Data tersebut didasarkan pada informasi dari kepolisian terkait jumlah mobil yang masuk serta indikator lainnya.
“Kami menghitung sejak sebelum Natal, yaitu sekitar 10 hari. Saat ini, data pasti belum tersedia, jadi target kunjungan wisatawan untuk tahun 2026 belum ditentukan,” katanya.
Adi menjelaskan bahwa proses pendataan dilakukan dengan mekanisme tertentu. Namun, jika data wisatawan tahun 2025 sudah lengkap, maka proyeksi untuk 2026 bisa dibuat lebih akurat.
“Jika 4,5 juta wisatawan sesuai dengan data Disbudpar, maka target 8,5 juta wisatawan untuk tahun 2025 akan tercapai. Hingga triwulan ketiga, kami telah mencatat 6,5 juta wisatawan. Prediksi saya, akhir tahun akan melebihi target tersebut,” ujarnya.
Tren Positif di Wilayah Bandung Barat
Tidak hanya di Kota Bandung, tren positif juga terjadi di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Tingkat hunian hotel di wilayah ini meningkat secara signifikan selama momentum Nataru. Berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bandung Barat, okupansi hotel setelah pergantian tahun mencapai 74% di 12 hotel. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ketua PHRI Bandung Barat, Eko Supriatno, menjelaskan bahwa lonjakan hunian mulai terasa sejak libur Natal. Pada masa itu, okupansi hotel di KBB mencapai sekitar 66%. Setelah Tahun Baru 2026, angka tersebut meningkat menjadi 74%, jauh melampaui capaian tahun lalu yang tidak sampai 70%.
“Ini menunjukkan adanya perbaikan pergerakan wisatawan. Hingga Natal, okupansi di kawasan hotel Bandung Barat mencapai 84%, dan setelah Tahun Baru, angkanya kembali naik. Bahkan, untuk pemesanan kamar akhir pekan pertama Januari 2026, tingkat booking sudah berada di atas 50%,” ujar Eko saat ditemui, Jumat 2 Januari 2026.
Eko menilai bahwa peningkatan kunjungan wisatawan kali ini tidak lepas dari beberapa faktor pendukung. Salah satunya adalah kebijakan promo tarif kereta api yang dinilai mampu menarik wisatawan dari luar daerah. Selain itu, tren wisatawan yang mulai mengurangi penggunaan kendaraan pribadi juga turut memengaruhi pergerakan wisata.
“Banyak wisatawan sekarang lebih memilih menggunakan kereta api dan memanfaatkan transportasi daring saat berwisata. Ini cukup membantu meningkatkan kunjungan, terutama ke kawasan Lembang,” katanya.
Daya Beli Masyarakat yang Melemah
Meski ada tren positif, Eko mengingatkan bahwa industri perhotelan dan restoran sepanjang tahun 2025 sebenarnya tidak dalam situasi ideal. Ia menilai daya beli masyarakat yang melemah serta kebijakan pemerintah terkait efisiensi anggaran turut berdampak pada sektor pariwisata.
“Sepanjang 2025 iklim usaha hotel dan restoran cenderung berat. Daya beli masyarakat menurun, ditambah kebijakan efisiensi pemerintah. Padahal, hotel-hotel di Bandung Barat sangat bergantung pada kegiatan MICE,” ujarnya.
Eko berharap tren positif pada awal 2026 dapat berlanjut dan diikuti dengan kebijakan yang lebih berpihak pada pemulihan sektor pariwisata, sehingga industri perhotelan dan restoran di Bandung Barat bisa kembali bergairah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar