Wisuda di Kendari Jadi Sorotan Setelah Karangan Bunga dan Peristiwa Heboh
Acara wisuda di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menjadi viral setelah seorang mahasiswi mendapat karangan bunga bertuliskan sindiran. Kejadian ini menarik perhatian publik dan mengundang berbagai reaksi di media sosial.
Karangan Bunga dan Reaksi Heboh
Dalam video yang tersebar luas, terlihat dua karangan bunga yang menyebutkan kata “pelakor” disertai nama dan foto wisudawati yang dituding. Salah satu karangan bunga lainnya berisi ucapan “Selamat dan Sukses Sarjana Magister Managemen” yang sudah diplesetkan artinya, sementara yang lain menulis “Turut Berduka Cita” dengan kalimat bernada sindiran.

Selain itu, dalam video tersebut juga terlihat sosok istri sah yang melabrak wisudawati saat prosesi wisuda. Istri tersebut terus membuntuti wisudawati sambil merekamnya. Ia menyampaikan pernyataan yang menunjukkan kekesalannya terhadap sang wisudawati.
“Kasihannya ini pelakor, tidak ada malunya ini perempuan, ih ngerinya ini pelakor dia wisuda, da ambil suaminya orang,” katanya.
Wisudawati tersebut mencoba berjalan tanpa mempedulikan tindakan istri tersebut. Terjadi keributan antarkedua wanita di bagian belakang kursi wisudawan, sebelum akhirnya dilerai oleh tetamu lainnya.
Penjelasan dari Istri Saat Dikonfirmasi
Menurut penjelasan RSK, istri sah tersebut, TA telah menjalin hubungan asmara dengan suaminya selama 4 tahun. Mereka dikabarkan memiliki seorang anak. RSK mengungkap bahwa keduanya pernah bercerai pada tahun 2024, namun kembali rujuk dan menikah resmi pada tahun 2025.
RSK juga menyebutkan bahwa TA dan suaminya pernah membeli buku nikah palsu dan melakukan hubungan tanpa status. Ia menuding TA sebagai pelaku perselingkuhan.
Tanggapan dari Wisudawati dan Rekan
TR, salah satu rekan TR, mengatakan bahwa ia tidak terima dengan perlakuan RSK. Ia berencana melaporkan hal tersebut ke pihak kepolisian karena merasa diperlakukan tidak adil.
“Apa yang dilakukan RSK tidak pantas. Saya akan melapor ke polisi,” ujarnya.
TribunnewsSultra.com masih mencoba menghubungi TA untuk memberikan keterangan resmi terkait kejadian ini.
Perspektif Ahli Linguistik tentang Istilah "Pelakor"
Istilah “pelakor” sering digunakan dalam masyarakat Indonesia untuk menyebut perempuan yang dianggap bertanggung jawab atas perselingkuhan. Namun, menurut ahli linguistik, penggunaan istilah ini memiliki retorika yang timpang.
Retorika pelakor timpang karena menempatkan perempuan sebagai “perebut”, seorang pelaku yang aktif dalam kegiatan perselingkuhan, dan menempatkan sang laki-laki seolah-olah sebagai pelaku yang tidak berdaya. Istilah ini sangat berpihak pada laki-laki karena seringkali muncul dalam wacana keseharian tanpa istilah pendamping untuk laki-laki dalam hubungan tersebut.
Penggunaan istilah “pelakor” sendirian—tanpa didampingi istilah untuk si lelaki tak setia—menunjukkan kecenderungan masyarakat kita yang hanya menyalahkan perempuan dalam sebuah perselingkuhan, meski jelas dibutuhkan dua orang untuk itu.
Ahli linguistik menyarankan agar kita menggunakan istilah “pelakor” dan “letise” bersama-sama jika ingin memberi label pada perempuan yang melakukan perselingkuhan. Hal ini lebih netral dan mencerminkan keterlibatan kedua pihak dalam situasi tersebut.
Kesimpulan
Kejadian wisuda di Kendari menjadi perbincangan hangat di media sosial. Selain itu, penggunaan istilah “pelakor” juga menjadi topik pembicaraan. Penting bagi kita untuk memahami bahwa perselingkuhan melibatkan dua pihak, dan tidak boleh hanya menyalahkan satu pihak saja.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar