
JAKARTA, nurulamin.pro
Wajah yang tidak mulus dari aktris Wulan Guritno beberapa waktu lalu sempat menjadi perbincangan di media sosial setelah ia berperan dalam film Norma: Antara Mertua dan Menantu. Perhatian publik terhadap wajahnya membuatnya merasa tidak nyaman.
Wulan mengungkapkan bahwa masalah jerawat dan bekas luka jerawat sudah dialaminya sejak masa remaja. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini sering muncul dan menghilang, tetapi kadang meninggalkan bekas luka.
"Sebenarnya itu adalah masalah yang aku alami sejak remaja, ada saatnya keluar dan ada juga yang hilang," ujarnya saat berbincang dengan Bang Denny Sumargo.
Menurut Wulan, tidak semua jerawat menyebabkan bekas luka, tapi yang besar atau memiliki tipe tertentu sering meninggalkan bekas. Hal ini membuatnya semakin merasa tidak percaya diri.
Selama bertahun-tahun, Wulan selalu merasa perlu menutupi wajahnya dengan riasan atau proses editing. Ia mengakui bahwa hal ini membuatnya merasa lebih aman dan nyaman. Namun, untuk film Norma, ia memilih tidak menggunakan editing pada wajahnya.
"Karena tuntutan peran, aku sampai memohon agar wajahku sedikit diedit. Tapi ternyata, atas dasar peran dan sebagainya, jadinya seperti itu," katanya.
Wulan juga mengungkapkan bahwa pengalaman ini kembali memicu rasa cemas dan ketidakpercayaan dirinya. Ia merasa trauma akan penampilannya, terlebih ketika menghadapi orang-orang secara langsung.
"Pada saat trauma terpicu lagi, aku benar-benar merasa cemas. Aku tidak tahu bagian mana yang menjadi pemicunya, tapi rasanya sangat kuat," ujarnya.
Bagi mereka yang tidak mengalami masalah jerawat, mungkin hal ini terdengar sepele. Namun bagi para pejuang jerawat, bekas luka jerawat bisa menjadi sumber kekhawatiran yang mendalam.
"Orang hanya melihatnya sebagai masalah kulit, padahal ini bisa memengaruhi kesehatan mental," kata Wulan.
Ia menjelaskan bahwa rasa cemas ini sering mengganggu fokusnya, terutama saat bekerja. Misalnya, saat mengikuti rapat, ia sering khawatir apa yang dipikirkan orang tentang wajahnya.
"Di kepala, aku merasa tidak fokus pada tujuan rapat karena pikiranku terganggu oleh kekhawatiran tersebut," tambahnya.
Meskipun kini ia telah menjalani perawatan dan sedikit lebih percaya diri, Wulan mengakui bahwa trauma dan ingatan buruk masih melekat di dalam dirinya.
"Sebenarnya aku sudah menerima, sudah ikhlas, dan 70 persen pulih. Tapi ingatan dan trauma itu tetap ada di dalam diriku," ujarnya.
Ia berharap bahwa masyarakat dapat lebih memahami bahwa masalah kulit bukan sekadar masalah fisik, tapi juga bisa memengaruhi kesehatan mental.
"Masih nempel, masih terekam di badan," lanjutnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar