Xtrem Langsa Jangkau Matang Ara, Desa Terisolir di Aceh Tamiang Sulit Dapat Bantuan Pasca Banjir

Xtrem Langsa Jangkau Matang Ara, Desa Terisolir di Aceh Tamiang Sulit Dapat Bantuan Pasca Banjir

Desa Matang Ara, yang Terisolir Pasca Banjir Besar

Desa Matang Ara, salah satu permukiman penduduk di daerah pedalaman wilayah Kecamatan Bandar Pusaka, mengalami dampak parah pasca banjir besar yang terjadi pada 26 November 2025. Wilayah ini sempat terisolir karena jalan-jalan utama rusak berat dan ditimbun lumpur tebal, sehingga sulit dijangkau oleh kendaraan. Hal ini membuat warga kesulitan dalam mendapatkan bantuan logistik.

Pascabanjir, hampir sebagian besar desa di wilayah Aceh Tamiang dapat diakses oleh relawan maupun pemerintah serta aparat TNI/POLRI yang memberikan bantuan logistik. Namun, Desa Matang Ara tidak termasuk dalam kategori tersebut. Air banjir mencapai ketinggian hingga 10 meter, menyebabkan banyak rumah hancur total atau bahkan hanyut. Masjid desa juga terlihat kokoh, tetapi kini belum bisa digunakan karena dipenuhi lumpur.

Selain air besar, daerah ini juga dihantam angin puting beliung atau angin topan, sehingga rata-rata atap rumah warga di sana porak-poranda. Akibatnya, warga menghadapi kesulitan ekstrem dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Tim Xtrim Langsa Berhasil Menembus Lokasi

Tim Xtrim Langsa berhasil menembus lokasi Desa Matang Ara menggunakan beberapa mobil jeep 4x4. Mereka tiba di sana pada Selasa (10/12/2025) setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 6 jam dari Langsa menuju Kota Kuala Simpang, Tamiang Hulu atau Pulau Tiga. Bantuan yang dibawa antara lain makanan, air mineral, makanan ringan untuk anak-anak, serta terpal yang akan dibagikan kepada warga.

Anggota tim Xtrim Langsa, Wahyu Baba, Saiful Badak, Zubir, dan sejumlah kru lainnya menjelaskan bahwa mereka sengaja menuju Desa Matang Ara karena informasi bahwa daerah ini terisolir dan sangat sulit dijangkau. Oleh karena itu, kebutuhan makanan dan air bersih bagi warga di sana sangat kurang.

"Alhamdulillah, sore menjelang magrib kita tiba ke desa ini. Fokus bantuan yang kita bawa adalah nasi berserta lauk, makanan ringan seperti roti untuk anak-anak, ratusan liter air mineral isi ulang dan botol, serta ambal tidur untuk anak-anak dan orang tua," ujar Wahyu.

Setelah tiba di Desa Matang Ara, rasa lelah dari perjalanan seolah hilang karena bisa berbagi dengan warga yang terdampak cukup parah oleh banjir. "Mereka di sana sangat menanti kedatangan kita sebagai saudaranya, membantu mereka yang kini dalam kesusahan dan keputus-asaan setelah banjir menghancurkan rumah dan desa mereka," tambahnya.

Warga Mengeluhkan Minimnya Bantuan

Warga Desa Matang Ara mengaku bahwa setelah banjir, bantuan yang mereka terima masih sangat minim. Salah satu penyebabnya adalah akses ke desa ini yang cukup sulit dijangkau oleh kendaraan. Selama beberapa kali mendapat bantuan usai air banjir surut, warga harus keluar dengan berjalan kaki untuk mengambil bantuan logistik yang dititipkan di desa tetangga.

"Kami hitung setelah banjir, baru 2 kali kami dapat bantuan mie instan, telur dan beras untuk beberapa kali masak. Itupun kami harus ambil ke desa tetangga, karena daerah kami hingga kini masih sulit dijangkau kendaraan," ujar salah satu warga setempat.

Sampai saat ini, warga Desa Matang Ara belum bisa bekerja karena kebanyakan bekerja sebagai penerima upah di kebun sawit. Selain itu, tidak ada stok makanan yang dijual di sini karena sudah habis atau dibawa banjir. Rumah mereka juga hampir rata-rata rusak berat, dengan beberapa hanya tersisa pondasi saja akibat air setinggi 10 meter dan angin kencang pada 26 November 2025 lalu.

Harapan Warga untuk Perbaikan Jalan

Masyarakat Desa Matang Ara berharap pemerintah segera melakukan scrap atau mengeruk lumpur di jalan desa mereka agar warga bisa keluar mencari makanan ke desa tetangga atau turun ke Tamiang Hulu, Pulau Tiga. Mereka juga berharap jalan di sini bisa segera diperbaiki agar bisa dilalui kendaraan dan warga bisa keluar ke desa tetangga untuk membeli bekal makanan. Selain itu, anak-anak di sana juga berharap bisa kembali sekolah.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan