Yang tersisa dari Bioskop Mawar di Batang Hari yang berdiri sejak 1950-an

Pada medio abad ke-20, perkembangan perfilman di Jambi mulai terlihat. Sejumlah bioskop dibangun, satu di antaranya Bioskop Mawar, yang berlokasi di Kabupaten Batang Hari.

Namun, kini hanya sisa dinding dan penanda berupa papan bertulisakan "eks tanah bioskop" di tanah seluas 611 meter persegi itu.

nurulamin.pro, MUARA BULIAN - Jejak perjalanan dunia perfilman di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, kini tinggal cerita yang kian memudar seiring waktu.

Satu di antara bangunan bioskop tertua ini diperkirakan telah berdiri sejak era 1950-an dan menjadi saksi bisu peninggalan masa kolonial Belanda.

Kini bangunan itu sudah tidak lagi berdiri.

Yang tersisa hanyalah ruang kosong serta ingatan kolektif warga sebagai penanda keberadaannya di masa lalu.

Tersisa Lahan Kosong

Di lokasi, bekas bangunan bioskop tersebut kini berubah menjadi hamparan tanah kosong.

Tidak ada lagi dinding, atap, maupun struktur bangunan yang dahulu menjadi bagian dari kejayaan layar lebar di Batanghari. Gedung eks Bioskop Mawar telah runtuh.

Satu-satunya penanda yang masih dapat ditemukan adalah sebuah papan bertuliskan “eks tanah bioskop” yang menunjukkan bahwa lahan tersebut merupakan aset milik Pemerintah Kabupaten Batanghari.

Bagi warga setempat, bangunan itu bukan sekadar gedung biasa.

Alfi, salah seorang warga, mengenang bioskop tersebut sebagai satu-satunya sarana hiburan yang pernah dimiliki Kabupaten Batang Hari.

Hingga saat ini, belum ada fasilitas pengganti yang mampu mengisi kekosongan hiburan masyarakat di daerah tersebut.

Alfi juga mengingat masa ketika bioskop menjadi pusat berkumpul warga untuk menyaksikan berbagai film.

Setiap penayangan film selalu dinanti karena harga tiket yang sangat terjangkau dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Dulu cuma 500 perak (nonton), kalau wayang itu gratis, setiap malam dulu, satu-satunya ini bioskop di Batang Hari,” ungkapnya, melansir dari Kompas.com, Sabtu (3/1/2026).

Menurut Alfi, film India dan film Indonesia menjadi tayangan favorit yang paling sering diputar saat itu.

Kenangan akan bioskop tersebut masih melekat kuat, namun dibayangi rasa kehilangan karena bangunan bersejarah itu dibiarkan terbengkalai hingga akhirnya roboh.

Kurangnya Perhatian Pemerintah

Alfi menyesalkan minimnya perhatian pemerintah terhadap bangunan yang memiliki nilai sejarah dan sosial penting bagi masyarakat Batanghari.

"Kalau harapan kami kalau bisa dipugar kembalilah, kayak mana bentuknya, bisa dimanfaatkan, kalau ini terbengkalai,” ujarnya.

Keprihatinan serupa turut disampaikan Komunitas Jejak Kebudayaan Jambi.

Sandi, perwakilan komunitas tersebut, menilai runtuhnya bangunan eks bioskop sebagai kehilangan besar.

Menurutnya, bukan hanya nilai arsitektur yang hilang, tetapi juga memori kolektif dan identitas budaya masyarakat Batanghari ikut memudar.

"Bangunan ini banyak nilai sejarah dan menyimpan memori kenangan bagi masyarakat di Kabupaten Batanghari, sangat sayang bangun ini sudah tidak ada lagi,” katanya.

Ironisnya, bangunan eks bioskop di Kabupaten Batang  Hari telah berstatus sebagai cagar budaya tingkat kabupaten.

Status tersebut seharusnya menjadi dasar kuat untuk perlindungan dan pelestarian bangunan bersejarah itu.

Sandi berharap pemerintah daerah di Jambi dapat lebih serius menunjukkan komitmen dalam menjaga dan merawat peninggalan budaya yang masih ada, agar kehilangan serupa tidak kembali terjadi.

"Kalau bisa dijaga dan dirawat serta dilestarikan bangunan cagar budaya seperti ini, apalagi mempunyai kenangan-kenangan indah bagi masyarakat di Kabupaten Batanghari ini,” ucapnya.

Runtuh pada 2025

Sementara itu, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Batang Hari, Okta, memberikan penjelasan terkait identitas dan kondisi bangunan tersebut.

Ia menyebutkan bahwa bioskop tersebut dahulu bernama Bioskop Mawar dan telah mengalami keruntuhan pada tahun 2025.

"Bioskop Mawar, pada tahun 2025 sudah mengalami keruntuhan, beberapa bangunan itu sudah runtuh, datar dengan tanah,” ujarnya.

Lenyapnya Bioskop Mawar menambah daftar panjang aset sejarah di Batanghari yang hilang sebelum sempat direvitalisasi.

Bersamaan dengan runtuhnya bangunan tua itu, turut terkubur pula bagian penting dari sejarah hiburan dan ruang sosial masyarakat setempat.

 

Sumber:

Kompas.com

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan