Yudha ungkap kesalahan DTSEN, lansia miskin tinggal di bangunan bekas pabrik tahu

Yudha ungkap kesalahan DTSEN, lansia miskin tinggal di bangunan bekas pabrik tahu

Kehidupan Seorang Lansia yang Tinggal di Bangunan Bekas Pabrik Tahu

Odah, seorang lansia yang tinggal di Kabupaten Garut, menjalani hidupnya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia tinggal di sebuah bangunan bekas pabrik tahu yang sudah tidak terpakai lagi, berada di Kampung Soga, RT 02 RW 02, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles. Bangunan itu menjadi tempat tinggal satu-satunya bagi Odah karena ia tidak memiliki rumah sendiri.

Kondisi Odah mulai diketahui oleh masyarakat setelah Anggota DPRD Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, melakukan kunjungan ke lokasi tempat tinggalnya. Dari kunjungan tersebut, Yudha melihat langsung bagaimana Odah hidup dalam keterbatasan ekstrem dan jauh dari kata layak.

"Emak Odah adalah seorang lansia duafa karena tidak memiliki rumah sendiri dan tinggal di bangunan terbengkalai yang dulunya merupakan pabrik tahu. Pada hari Kamis, 25 Desember, Pak Basri, kader PDI Perjuangan Kecamatan Leles, Ibu Viny dan Ibu Kharisma, pendamping sosial di kecamatan Leles, datang menengok Emak Odah. Saya memberikan bantuan sembako dan santunan uang untuk Emak Odah," ujar Yudha pada 26 Desember.

Selain masalah tempat tinggal, kunjungan ini juga mengungkapkan adanya masalah serius terkait akurasi DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional). Yudha menyatakan bahwa data yang seharusnya menjadi dasar penyaluran bantuan sosial belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata masyarakat di lapangan.

Menurut Yudha, Odah yang jelas hidup dalam kemiskinan ekstrem justru tercatat dalam kelompok desil 6–10 atau kategori warga mampu. Kesalahan penempatan data ini memiliki dampak besar karena Odah tidak menerima bantuan sosial apa pun dari pemerintah pusat.

"Padahal, Emak Odah sangat miskin ekstrem," tambah Yudha.

Yudha berharap pihak-pihak terkait segera melakukan koreksi terhadap data DTSEN, khususnya menyangkut penetapan desil Odah, agar hak-hak dasar lansia miskin seperti dirinya tidak terus terabaikan.

"Fenomena Emak Odah ini menggambarkan bahwa DTSEN belum sepenuhnya akurat, sehingga banyak lansia miskin ekstrem termarjinalkan untuk bisa mengakses bantuan sosial pemerintah pusat," ujarnya.

Kesalahan-kesalahan dalam DTSEN yang Ditemukan Yudha

Selama ini, Yudha sering menemukan kesalahan dalam penempatan desil dalam DTSEN. Banyak warga miskin yang seharusnya masuk dalam desil 1–5 justru terdaftar dalam desil 6–10. Hal ini membuat warga miskin tidak dapat mendapatkan bansos pemerintah pusat.

  • Masalah utama dalam DTSEN adalah ketidakakuratan data yang mengakibatkan warga miskin tidak bisa mendapatkan bantuan yang seharusnya mereka terima.
  • Kesalahan penempatan desil ini sering kali disebabkan oleh proses verifikasi yang tidak tepat atau kurangnya pengawasan terhadap data yang masuk.
  • Dampak dari kesalahan ini sangat besar, karena banyak lansia dan warga miskin yang tidak bisa merasakan manfaat dari program bantuan sosial pemerintah.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan