
Pengelolaan Lingkungan dan Kebiasaan Masyarakat Jawa
Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, baru-baru ini melakukan tindakan yang menarik perhatian banyak pihak. Ia membagikan "berkat" kepada tetangganya di kawasan Crescent Park, Palo Alto, Amerika Serikat. Aksi ini mirip dengan tradisi masyarakat Jawa dalam membangun rumah, terutama dalam bentuk ritual "selametan".
Ritual selametan sering kali dilakukan oleh masyarakat Jawa sebelum memulai pembangunan rumah. Tujuan dari ritual tersebut biasanya untuk memohon keselamatan dan restu dari Tuhan serta tetangga. Dalam beberapa studi ilmiah, seperti "Makna Tradisi Sesajen dalam Pembangunan Rumah Masyarakat Jawa: Studi Kasus Pembangunan di Desa Srimulyo Kecamatan Air Saleh Kabupaten Banyuasin" (2020), "Persepsi Masyarakat Jawa Terhadap Tradisi Membangun Rumah di Desa Bandar Negeri Kabupaten Lampung Timur" (2018), dan "Islam dan Tradisi Jawa: Pencarian Motif Dan Makna Dalam Tradisi Selametan Mendirikan Rumah Di Dusun Gentan Ngrupit Jenangan Ponorogo" (2016), ditemukan bahwa ritual ini memiliki makna spiritual dan sosial.
Isi "Berkat" yang Diberikan oleh Zuckerberg
Meski aksi Zuckerberg cukup mirip dengan tradisi masyarakat Jawa, isi "berkat" yang diberikan tidak sepenuhnya sama. Dalam kasus ini, Zuckerberg memberikan bingkisan yang cukup unik dan mewah. Isi bingkisan tersebut antara lain headphone peredam bising, minuman bersoda, dan kotak donat. Tujuan utama dari pemberian headphone adalah agar warga sekitar dapat lebih tenang meskipun ada aktivitas konstruksi di lingkungan mereka.
Namun, meskipun telah diberi "berkat", sejumlah tetangga masih mengeluhkan dampak dari pembangunan yang berkepanjangan. Mereka menyebutkan kebisingan tanpa henti, jalan yang sering ditutup, serta puing-puing bangunan yang berserakan. Selain itu, lingkungan sekitar juga mengalami perubahan drastis akibat pengamanan ketat dan kamera pengawas.
Masalah Lingkungan dan Krisis Perumahan
Selain itu, beberapa properti milik Zuckerberg dibiarkan kosong. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena wilayah tersebut sedang mengalami krisis perumahan. Meskipun demikian, laporan mengenai bingkisan tersebut pertama kali diungkap oleh The New York Times. Hingga saat ini, pihak Meta belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.
Pembangunan yang Berlangsung Lama
Dalam 14 tahun terakhir, Zuckerberg diketahui telah menghabiskan lebih dari 110 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,7 triliun untuk membeli rumah di Edgewood Drive dan Hamilton Avenue, yang termasuk dalam kawasan Crescent Park. Total ada 11 rumah yang dimiliki Zuckerberg di kompleks tersebut.
Sejumlah properti telah diubah fungsinya menjadi rumah tamu, taman luas, lapangan pickleball, serta kolam renang dengan sistem hydrofloor. Beberapa bangunan juga sempat digunakan sebagai sekolah privat untuk anak-anak Zuckerberg dan beberapa anak lain. Selain itu, Zuckerberg juga menambahkan ruang bawah tanah seluas sekitar 7.000 kaki persegi. Struktur ini oleh sebagian warga disebut menyerupai "bunker". Konsep bangunan bawah tanah serupa juga diterapkan Zuckerberg di properti miliknya di Hawaii, meski ia membantah menyebutnya sebagai bunker.
Tanggapan dari Pihak Meta
Pembangunan di kawasan Crescent Park disebut berlangsung hampir delapan tahun. Warga menyebut aktivitas konstruksi yang terus-menerus membuat lingkungan sekitar tidak lagi nyaman untuk ditinggali. Menanggapi keluhan tersebut, juru bicara mengatakan kepada Fortune bahwa Zuckerberg dan keluarganya telah menjadikan Palo Alto sebagai rumah selama lebih dari satu dekade. Menurutnya, Zuckerberg berupaya meminimalkan gangguan dan bahkan melampaui kewajiban yang ditetapkan pemerintah setempat.
"Mereka menghargai peran sebagai bagian dari komunitas dan telah mengambil sejumlah langkah yang melampaui ketentuan lokal untuk meminimalisasi gangguan di lingkungan sekitar," ujar juru bicara tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar