Penentuan Awal Ramadan 2026: Pendekatan Pemerintah dan Muhammadiyah
Bulan Ramadan bagi umat Muslim merupakan bulan istimewa yang penuh makna. Selain menjadi momentum untuk menahan diri dari lapar dan dahaga, bulan ini juga dipercayai sebagai waktu di mana pintu ampunan dibuka lebar bagi hamba-hambanya. Di Indonesia, penentuan awal Ramadan biasanya dilakukan melalui dua pendekatan yang telah lama digunakan, yaitu metode Rukyatul Hilal oleh pemerintah dan metode hisab hakiki wujudul hilal oleh Muhammadiyah.
Metode Pemerintah dalam Menentukan Awal Ramadan
Pemerintah Indonesia menggunakan metode Rukyatul Hilal yang kemudian diverifikasi dengan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria baru MABIMS mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimal 6,4 derajat agar dapat dilihat (imkanur rukyat). Penentuan resmi 1 Ramadan oleh pemerintah tetap akan menunggu hasil Sidang Isbat, sebuah forum resmi yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Agama, perwakilan ormas Islam, hingga para ahli astronomi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, awal puasa Ramadan 2026 versi pemerintah baru akan ditetapkan setelah sidang isbat digelar. Sidang isbat biasanya diadakan pada 29 Sya’ban. Tahun ini, 29 Sya'ban 1447 Hijriah akan bertepatan pada tanggal 17 Februari 2026. Hasil sidang inilah yang nantinya menjadi dasar penetapan awal Ramadan bagi umat Islam yang mengikuti keputusan pemerintah.

Pendekatan Muhammadiyah dalam Menentukan Awal Ramadan
Berbeda dengan pemerintah yang menunggu keputusan sidang isbat, Muhammadiyah sudah menentukan awal puasa Ramadan 2026. Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah akan jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026 Masehi, sebagaimana keterangan yang ditulis dalam situs resmi Muhammadiyah. Penetapan awal puasa ini bakal dijadikan pedoman bagi seluruh jamaah Muhammadiyah di berbagai daerah.
Penentuan 1 Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada 18 Februari 2026 tersebut merujuk pada hasil hisab hakiki Majelis Tarjih dan Tajdid. Penetapan ini berlandas pada prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebagaimana diatur dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
Berdasarkan perhitungan astronomis, ijtimak jelang Ramadan tercatat pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 12:01:09 UTC. Namun, saat matahari terbenam di hari ijtimak, kriteria visibilitas hilal Parameter Kalender Global (PKG) 1 belum ada yang terpenuhi di berbagai penjuru bumi. Kriterianya memiliki syarat tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum tengah malam UTC.
Namun, hisab PKG 2 menunjukkan setelah pukul 24.00 UTC, wilayah Amerika sudah memenuhi syarat dengan tinggi Bulan 5°23’35” dan elongasi 8°00’11”, meski waktu ijtimak tercatat sebelum fajar di New Zealand. Dengan begitu, 1 Ramadan 1447 H akan dimulai serentak di seluruh dunia pada 18 Februari 2026 berdasarkan prinsip kesatuan matlak global.
Perbedaan Pendekatan dan Dampaknya pada Masyarakat
Perbedaan metode antara pemerintah dan Muhammadiyah kerap membuat masyarakat menunggu kepastian, terutama menjelang awal Ramadan dan Idul Fitri. Pemerintah menunggu hasil sidang isbat yang dilaksanakan secara nasional, sementara Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan berdasarkan perhitungan astronomis tanpa bergantung pada pengamatan langsung.
Meskipun kedua pendekatan memiliki dasar yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan kepastian bagi umat Muslim dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan adanya perbedaan ini, masyarakat diharapkan lebih memahami proses penentuan awal Ramadan dan menghargai perbedaan pendekatan yang digunakan oleh masing-masing institusi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar