119 relawan kesehatan dikerahkan Kemenkes ke Aceh Tamiang, RSUD dan pengungsian jadi fokus

119 relawan kesehatan dikerahkan Kemenkes ke Aceh Tamiang, RSUD dan pengungsian jadi fokus
Ringkasan Berita:
  • Kemenkes terjunkan 119 relawan TCK Batch II perkuat layanan kesehatan pascabencana Aceh Tamiang.
  • Relawan lintas profesi ditempatkan di RSUD Aceh Tamiang dan 14 titik pengungsian.
  • Fokus pelayanan medis, gizi, dan pengendalian kesehatan lingkungan bagi warga terdampak bencana.
 

Laporan Wartawan nurulamin.pro, Aisyah Nursyamsi

nurulamin.pro, JAKARTA– Kementerian Kesehatan RI kembali memperkuat layanan kesehatan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang dengan menerjunkan 119 relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Batch II.

Pengerahan relawan ini dilakukan melalui Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes untuk memastikan masyarakat terdampak bencana tetap memperoleh akses layanan kesehatan yang aman dan berkelanjutan.

Sebanyak 119 relawan tersebut terdiri dari tenaga medis, tenaga kesehatan, hingga tenaga non kesehatan dengan berbagai latar belakang keahlian. 

Mereka akan bertugas di total 15 lokus pelayanan kesehatan yang tersebar di wilayah terdampak.

Ditempatkan di RSUD dan Titik Pengungsian

Relawan TCK Batch II ditempatkan di satu fasilitas rujukan utama, yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang, serta 14 titik layanan kesehatan di lokasi pengungsian masyarakat terdampak bencana.

Pendamping Relawan TCK Batch II Kemenkes di Aceh Tamiang, Tirta Muhammad Rizki, menjelaskan bahwa pembagian lokasi ini bertujuan memastikan layanan kesehatan berjalan optimal di seluruh titik krusial.

“Sebanyak 119 relawan TCK Batch II kami bagi ke dalam 15 lokus pelayanan. Lokus pertama berada di RSUD sebagai fasilitas rujukan utama yang terus kami upayakan agar dapat berfungsi maksimal, sementara 14 lokus lainnya berada di lokasi pengungsian masyarakat terdampak,” ujar Tirta dilansir dari keterangan resmi, Minggu (11/1/2026).

Lintas Profesi untuk Jawab Kebutuhan Kesehatan

Komposisi relawan TCK Batch II mencakup 9 dokter spesialis, 16 dokter umum, 59 perawat, 4 tenaga gizi, 12 tenaga kesehatan lingkungan, serta tenaga non kesehatan lainnya.

Keberadaan relawan lintas profesi ini dinilai penting untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat terdampak secara menyeluruh.

Mulai dari layanan medis dasar hingga pengendalian kesehatan lingkungan di area pengungsian.

Tirta menegaskan, pendekatan kolaboratif menjadi kunci dalam penanganan krisis kesehatan pascabencana.

“Kolaborasi antara tenaga medis, tenaga kesehatan, dan tenaga non kesehatan menjadi kunci dalam respon krisis kesehatan. Kami berupaya memastikan masyarakat terdampak tetap mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman, cepat, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Fokus Jaga Layanan Kesehatan Pascabencana

Selain pelayanan medis dan keperawatan, relawan TCK juga berperan dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat serta pengendalian faktor risiko kesehatan lingkungan yang kerap muncul di lokasi pengungsian.

Kementerian Kesehatan menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi di Aceh Tamiang dan menyesuaikan dukungan sumber daya kesehatan sesuai kebutuhan di lapangan.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam melindungi kesehatan masyarakat terdampak bencana, sekaligus memastikan layanan kesehatan tetap berjalan meski dalam kondisi darurat.

(nurulamin.pro)

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan