
Pagi masih gelap ketika Asnamah (41) memulai perjalanan hariannya. Jarum jam belum menunjukkan pukul 04.00 WIB, tetapi perempuan asal Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang itu sudah siap dengan satu baskom, satu keranjang, dan satu buntelan berisi nasi merah, lemang, serta aneka sayur matang yang akan dijualnya.
Perjalanan ini telah ia lakukan selama 17 tahun. Ia mulai dari Stasiun Cikeusal menuju Rangkasbitung, kemudian melanjutkan ke Jakarta, dan kembali ke Cikeusal menjelang malam. Ritme yang terasa berat bagi banyak orang menjadi satu-satunya jalan untuk menjaga dapur tetap mengepul.
Setiap hari, Asnamah memulai perjalanan dengan Kereta Lokal Merak dari Cikeusal ke Rangkasbitung. Setibanya di Rangkasbitung, ia harus segera mengejar commuterline yang berangkat pukul 07.00 WIB. Jika terlambat, seluruh rangkaian aktivitasnya akan berantakan. “Kalau ketinggalan satu kereta saja, saya bisa tiba di Kebayoran terlalu siang. Jadi harus tepat waktu,” ujarnya saat ditemui di Kereta Petani-Pedagang, Selasa (1/12/2025).
Semangat Bertahan
Sekitar pukul 09.00 WIB, ia biasanya tiba di Stasiun Kebayoran. Di kawasan Pasar Kebayoran, ia mulai menjajakan nasi merah, lemang, gemblong, dan sayur matang kepada pelanggan tetapnya.
Sebagian besar barang dagangan itu ia ambil dari tetangga-tetangganya di Cikeusal. Sistemnya sederhana: Asnamah membawa titipan mereka ke Jakarta dan menjualnya dengan keuntungan kecil, hanya Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per item. Jika ada yang tidak habis, barang bisa dikembalikan tanpa menanggung rugi.
Dari rangkaian keuntungan tipis itulah ia bisa membawa pulang sekitar Rp 100.000 per hari. “Tidak besar, tapi selalu ada. Itu yang bikin saya bertahan,” katanya.
Tulang Punggung Keluarga
Sebelum 2008, Asnamah hanyalah ibu rumah tangga seperti pada umumnya. Ia mengurus keluarga di rumah, sedangkan suaminya bekerja serabutan. Namun, suatu hari, suaminya jatuh dari pohon rambutan dan mengalami patah tangan. Sejak saat itu, mata pencarian utama keluarga hilang.
Asnamah sempat bingung bagaimana memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anaknya. Di tengah kebingungan itu, seorang saudara mengajak Asnamah ikut berjualan ke Jakarta. Di Cikeusal, perempuan pergi berdagang ke ibu kota adalah hal umum. “Waktu pertama jualan, ya Allah capek banget, berangkat subuh, pulang malam, tapi lama-lama terbiasa,” ujarnya.
Sejak saat itu, hidupnya berubah. Dia resmi jadi tulang punggung keluarga. Kehidupannya dihabiskan berjualan dan turun naik kereta.
Dicibir dan Tantangan
Perjalanan panjang untuk berjualan tidak selalu mulus. Banyak suka duka yang dia alami. Asnamah mengaku pernah dicibir penumpang KRL karena membawa banyak barang. “Beberapa kali dapat omongan enggak enak dari penumpang, dibilang nyempit-nyempitin kereta, saya sih cuma senyum saja, saya cuma ingin kerja. Tidak ada maksud ganggu siapa pun,” ucapnya pelan.
Ketika pemerintah dan KAI menyediakan Kereta Khusus Petani dan Pedagang, ia merasa sedikit lebih lega karena ada ruang yang lebih ramah bagi pedagang seperti dirinya.
Di balik setiap perjalanan yang dia lakukan setiap hari ini, ada tiga wajah anak yang terus ia pikirkan. Dua di antaranya masih membutuhkan biaya sekolah. Ada pula suami yang kini hanya dapat membantu pekerjaan ringan di rumah.
Asnamah mengaku ikhlas menjalani hari-harinya seperti sekarang, turun naik kereta, berangkat subuh dan pulang malam. Ketika ditanya apakah ia lelah, Asnamah menjawab apa yang dia lakukan sangat melelahkan, namun pilihan untuk berhenti hampir tidak ada. “Kalau saya berhenti, dapur bisa sepi,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia sendiri tidak tahu sampai kapan tubuhnya sanggup mengikuti ritme ini. “Selama masih bisa angkat barang dan jalan jauh, ya bakal begini terus saya jalanin aja,” katanya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar