
Hidup sering kali terasa seperti sebuah adegan dalam game yang sedang di "pause", sementara kita hanya bisa menunggu tanpa tahu kapan tombol "play" akan ditekan. Ada masa-masa dalam hidup ketika kita merasa seperti sedang berdiri di depan pintu yang tak kunjung terbuka. Kita mengetuk pintu itu pelan, menunggu, dan berharap ada jawaban dari balik sana. Namun yang terdengar hanya suara dari langkah kita sendiri, hening, menggantung, dan membingungkan.
Begitulah kira-kira, rasa yang menyertai banyak dari kita di tahun 2025 ini. Ada sesuatu yang tak bisa kita jelaskan sepenuhnya, semacam jeda panjang dalam perjalanan hidup yang seharusnya mengalir tetapi malah tertahan seperti napas yang perlu kita keluarkan perlahan. Rasanya seakan-akan tahun ini berjalan pelan, menahan langkah kita, dan entah bagaimana membuat hidup terasa seperti puzzle yang kehilangan salah satu kepingannya.
Tahun 2025 seakan menjadi tahun di mana banyak pertanyaan mengendap di dasar kepala. Kita menatap kalender, tapi tak menemukan titik yang jelas. Kita menatap harapan, tapi justru menjumpai jarak. Kita menatap diri sendiri, namun sering merasa sedang menunggu versi yang lebih baik dari kita yang entah kapan akan muncul.
Di antara rutinitas dan perenungan itu, bisikan kecil muncul dari sudut hati dan berkata, “When ya?” (Kapan ya?). When will things get better? When will life move forward? When will we finally understand our path?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu diucapkan dengan suara keras, tapi menggema dalam diri. Dan pada akhirnya, kita sadar bahwa tahun 2025 bukan sekadar bilangan tahun, namun tahun ini adalah simbol dari penantian, penundaan, dan perjalanan batin yang sering kali tidak kita pilih, tetapi harus kita jalani. Pertanyaan yang tidak punya subjek, tidak punya objek, tapi terasa sangat hidup. Terkadang muncul dari penantian dan harapan yang belum sempat tumbuh sempurna, dan dari rasa lelah yang tidak tahu harus bersandar pada siapa.
Tahun ini seperti memiliki sahabat aneh yang tidak banyak bicara, tapi caranya menatap membuat kita memikirkan ulang seluruh hidup. Kita pun, menjalani hari-hari di tahun 2025 dengan perasaan bercampur. Antara ingin berlari, di sisi lain ingin berhenti sebentar. Antara ingin menyerah, tapi juga ingin mencoba sekali lagi.
Tahun 2025 sebentar lagi selesai, kalender sudah menunggu untuk diganti dan bulan desember sudah hampir lengkap terlewati. Namun anehnya, ada satu hal yang tidak ikut bergerak maju, yaitu rasa "when ya?" yang entah kenapa masih menempel kuat di batin kita.
Menjelang akhir tahun, seharusnya ada perasaan lega karena sudah berhasil bertahan sejauh ini. Tetapi justru, sebagian dari kita merasakan adanya kekosongan yang aneh. Bukan kosong karena tidak punya apa-apa, tapi kosong karena semua yang diinginkan belum juga menjadi kenyataan.
Tahun 2025 seakan ingin menutup pintunya dengan perlahan, sangat perlahan, sampai-sampai kita bisa mendengar setiap gesekan rasa yang belum selesai kita mengerti. Kita tahu tahun ini akan berakhir, tapi rasanya seperti masih ada yang menggantung. Masih ada mimpi, yang belum sempat menyapa. Masih ada rezeki, yang belum datang mengetuk. Masih ada ketenangan, yang belum menemukan jalan pulang.
Justru di menit-menit terakhir menuju pergantian tahun, rasa "when ya?" semakin terasa kuat. Sangat dan semakin kuat, bukan melemah. Bukan karena kita tidak sabar, tapi karena kita benar-benar ingin melihat titik terang yang belum sempat muncul sepanjang perjalanan ini. Dan yang paling membuat kita diam adalah kenyataan bahwa meski tahun berganti, tidak semua perasaan dan pikiran ikut berganti dan malah bertanya dalam batin, "Apa yang sebenarnya ingin 2025 ajarkan ke kita, sampai-sampai rasanya panjang sekali?".
Tahun 2025, Tahun Penuh Tanda Tanya
Ada sesuatu yang unik dari tahun 2025. Bukan sekadar angka umur yang bertambah, tetapi sebuah fase yang muncul seperti ruang tunggu panjang yang tidak kita pilih namun tetap kita masuki. Banyak hal di tahun ini terasa menggantung, entah rezeki yang serba pas-pasan, mimpi yang tidak jelas arahnya, ikatan yang samar, hingga cita-cita yang entah kenapa terlihat lebih jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kita berjalan melewati hari-hari dengan perasaan bahwa seharusnya ada yang lebih baik, namun kita belum mencapainya. Seakan-akan, tahun 2025 adalah jeda yang terlalu lama dirasakan. Sampai-sampai kita mulai menatap ke dalam pintu batin, mencari sesuatu yang sebenarnya sudah lama ingin kita tanyakan, "Aku sebenarnya mau jadi apa?", "Kenapa tidak ada kepastian yang datang?", dan "Sampai kapan aku harus menunggu?".
Pertanyaan-pertanyaan ini, bukan tanda bahwa kita lemah. Justru, ini cara hati memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diberi perhatian. Namun tetap saja, rasa gelisah itu nyata, rasanya seperti duduk di ruang tunggu yang tidak memiliki jam dinding. Kita tidak tahu kapan akan dipanggil, tapi juga tak bisa pergi karena kita tahu sesuatu sedang menunggu (kepastian hidup).
Dan di situlah, "When ya?" menjadi mantra yang tak disengaja terucap. Bukan mengeluh, bukan menyalahkan, hanya sebuah ekspresi jujur dari hati yang lelah menanti tetapi tetap ingin percaya. Kita mengulanginya dalam hati, kadang dengan senyum miris, dan kadang sambil menghela napas panjang. Kalimat itu menjadi simbol dari fase hidup yang penuh jeda, penuh tanya, hingga penuh pencarian arah.
Yang pasti, tidak semua tanda tanya lahir dari kebingungan. Ada yang lahir dari penantian panjang, dari rasa ingin tahu, dari harapan yang dipupuk diam-diam tapi tak kunjung tumbuh. Tahun 2025 menghadirkan begitu banyak tanda tanya untuk kita, bukan sedikit, bukan satu-dua, tapi berbagai rangkaian penuh yang menyambung tanpa jeda.
Banyak dari kita merasakan konflik batin, yang tidak kita bicarakan secara terbuka. Konflik antara ingin menyerah tetapi tidak bisa, antara ingin percaya tetapi lelah, antara ingin bergerak tetapi bingung mencari arah. Kita seperti berdiri di batas gerbang yang belum terbuka, meski kita sudah mengetuknya berkali-kali.
Yang paling menyakitkan, adalah ketika kita mulai meragukan diri sendiri. Kita mulai meragukan apakah kita terlambat, atau terlalu lambat, atau justru tidak bergerak sama sekali. Kita mulai merasa, bahwa tahun 2025 ini terlalu sunyi dan terlalu pasif.
Ya mungkin saja, tahun ini memang diciptakan sebagai ruang tanya. Ruang untuk membuat kita berhenti sejenak, menengok balik apa yang sudah terjadi, lalu bertanya ulang tentang siapa diri kita sebenarnya. Tahun yang membuat kita gelisah, tetapi diam-diam mengajarkan banyak hal tanpa kita sadari.
Makna di Balik "When Ya?"
Mungkin kita tidak pernah benar-benar menyadari, kekuatan dari sebuah pertanyaan kecil. "When ya?" terdengar ringan, hampir seperti ucapan gurauan batin atau angin lalu. Tetapi ketika pertanyaan itu muncul dari dalam diri, hal itu akan membawa makna yang jauh lebih berat. Kalimat itu adalah kumpulan rasa frustasi yang tidak berteriak, keinginan akan kepastian yang tidak kunjung tiba, dan kesabaran yang mulai teruji batasnya. Bukan sekadar keluhan, melainkan bentuk komunikasi hati ketika logika sudah tidak bisa mengurai apa yang terjadi.
Di tahun 2025 ini, banyak orang merasakan hal yang sama, yaitu stuck, tertunda, dan tidak memiliki kepastian jelas. Ternyata, kita bukan satu-satunya yang merasakan hal itu. Tahun ini menjadi semacam cermin besar, yang memantulkan keresahan banyak jiwa sekaligus. Kita mulai sadar bahwa tidak semua hal bisa dipaksa berjalan sesuai rencana, tidak semua hal bisa datang tepat waktu, dan tidak semua keinginan bisa dipenuhi saat itu juga.
"When ya?", adalah bentuk kejujuran. Sebuah pengakuan bahwa kita lelah tetapi tetap berharap, bahwa kita bingung tetapi tetap mencari jalan, bahwa kita tersesat sedikit tapi tidak ingin berhenti. Dan dibalik semua itu, sepertinya kita sedang menunggu sinyal bahwa semuanya akan baik-baik saja. Iya, kita menunggu semuanya akan baik-baik saja.
Aneh kan?, justru dalam masa tertahan inilah kita diam-diam bertumbuh. Seperti tanaman, yang akar-akarnya tumbuh jauh ke dalam tanah. Dimana hal itu bermakna, kita juga sedang memperdalam kekuatan yang selama ini tidak kita sadari. Bagaimana rasanya sabar yang sebenarnya, bagaimana rasanya percaya meskipun tidak melihat jalan, bagaimana menerima bahwa hidup tidak selalu cepat, dan bagaimana mendewasakan diri tanpa disadari.
Rasa "tertahan" di tahun 2025 mungkin bukan sekedar hambatan, melainkan jembatan. Kita hanya sedang berada pada bagian tengahnya, bagian yang paling berat, paling panjang, dan paling membingungkan. Tapi justru bagian tengah ini lah yang akan membentuk kita. Titik itu adalah titik di mana kita belajar memikul harapan, menata strategi baru, dan menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu harus cepat. Terkadang, hidup hanya meminta kita untuk hadir sepenuhnya di tempat kita berada sekarang.
Dan ketika kita sudah meresapi semua itu, kita mulai mengerti bahwa When ya? bukan sekadar keluhan, tetapi juga sebuah doa kecil. Doa yang tidak kita lafalkan dengan tangan terangkat, namun dengan hati yang tetap ingin melangkah walaupun perlahan. Mungkin kita sedang dilatih untuk tidak hanya menunggu jawaban, tetapi juga menunggu kemampuan untuk menerima jawaban itu.
Kita mulai memahami bahwa "When ya?" bukanlah tanda bahwa kita gagal mengatur hidup, melainkan tanda bahwa kita sedang belajar menerima bahwa hidup tidak bisa diprediksi sesempurna yang kita inginkan. Pertanyaan itu adalah cara halus yang diberikan waktu untuk mengingatkan kita, bahwa setiap hal besar membutuhkan proses yang tidak terlihat. Bahwa sebelum sebuah jawaban muncul, kita harus lebih dulu mengalami fase kosong yang membuat kita belajar menghargai isi.
Barangkali inilah makna terdalam dari pertanyaan "When ya?", kita belajar bahwa jarak antara keinginan dan kenyataan adalah ruang tumbuh yang harus kita isi, bukan ruang yang harus kita hindari. Rasa sakitnya, adalah bagian dari pematangan dan kedewasaan. Rasa menunggunya, adalah bagian dari pemahaman. Rasa frustrasinya, adalah bagian dari pembentukan diri.
Menyambut Tahun 2026 dengan "Be Nice Ya!"
Dari banyaknya perenungan batin sepanjang tahun 2025, kita mulai mengharapkan tahun 2026 sebagai halaman baru. Jika tahun 2025 adalah ruang bertanya, maka tahun 2026 adalah ruang berharap. Di tahun baru kelak itu, kita ingin kehidupan sedikit lebih lembut, sedikit lebih berpihak, dan sedikit lebih ramah pada langkah yang kita ambil.
"Be nice ya!" menjadi doa sederhana sekaligus Resolusi 2026, yang kita bisikkan pada tahun mendatang. Bukan karena kita ingin semuanya mudah, tetapi karena kita butuh sedikit kelegaan setelah perjalanan panjang penuh tanya. Kita ingin tahun 2026 menjadi jawaban, atau setidaknya jalan menuju jawaban dari "when ya?" yang kita pikirkankan sepanjang tahun 2025.
"Be nice ya!", adalah cara kita meminta hidup untuk sedikit lebih pengertian. Untuk tidak terlalu keras dalam memberikan ruang bagi kita bernapas, tumbuh, dan bergerak melampaui segala rintangan yang kita rasakan sepanjang tahun 2025. Dan di tahun 2026 nanti, kita mungkin tidak langsung mendapatkan semua yang kita inginkan. Tapi kita berharap ada lebih banyak kejernihan, ada keputusan yang lebih berani, ada langkah yang lebih terarah, hingga ada pintu yang terbuka sedikit lebih lebar daripada sebelumnya.
Tanpa "When ya?", kita mungkin tidak akan memiliki ruang untuk mengatakan "Be nice ya!". Karena di antara realita dan harapan, selalu ada masa transisi yang mempertemukan keduanya. Kita mungkin tidak sadar, tetapi seluruh perjalanan batin di tahun 2025 sebenarnya sedang mengantar kita ke titik kesiapan. Tanpa tahun penuh tanya itu, kita mungkin tidak akan siap menyambut jawaban pada tahun 2026.
Kita mungkin masih membawa sedikit trauma dari pengalaman yang menggantung, kita mungkin masih sedikit takut berharap terlalu besar. Namun di saat yang sama, ada getaran optimis yang perlahan tumbuh, bahwa tahun 2026 akan membuka pintu-pintu yang selama ini tertutup rapat.
Kita ingin tahun 2026 menjadi tahun jawaban, tetapi kita juga tahu bahwa jawaban tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan. Terkadang jawaban itu muncul sebagai suatu kesempatan baru, pertemuan baru, pemahaman baru, ataupun kekuatan baru dalam diri kita. Yang pasti, kita melangkah ke tahun 2026 dengan hati yang lebih matang, pikiran yang lebih luas, dan kesadaran bahwa segala sesuatu membutuhkan waktu.
Mungkin kita akan memasuki tahun 2026 dengan hati yang masih sama, tetapi dengan kedewasaan yang berbeda. Kita sudah melalui tahun yang penuh pertanyaan, dan tanpa itu kita mungkin tidak akan siap menerima jawaban yang akan datang.
Tanpa "When ya?", kita tidak akan belajar menghadapi ketidakpastian. Tanpa ragu, kita tidak akan pernah mencari. Tanpa jeda, kita tidak akan pernah merenung. Tanpa rasa tersesat, kita tidak akan pernah menemukan arah baru. Lantas "Be Nice Ya!", adalah permintaan lembut untuk tahun yang lebih baik. Sebuah kalimat pernyataan yang menggambarkan dengan nada halus, "Tolong, tahun depan... lebih baik, ya!".
Jika ada satu hal yang bisa kita ambil dari perjalanan ini, itu adalah bahwa hidup tidak pernah berjalan lurus. Ada kalanya kita bertemu jalan buntu, ada kalanya kita harus memutar lebih jauh, ada kalanya kita dipaksa berhenti. Tetapi, semua momen itu bukan tanpa makna. Mereka adalah bagian dari proses menjadi diri yang lebih kuat, lebih jernih, dan lebih dewasa.
Tahun 2025 ini mungkin akan meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Namun justru karena itulah, kita dapat menyambut Tahun 2026 dengan harapan yang lebih besar. Kita meninggalkan tahun yang penuh tanda tanya, tetapi membawa pelajaran berharganya. Dan kita melangkah menuju tahun yang baru dengan permintaan kecil yang sarat makna, Be nice ya!.
Semoga Tahun 2026 benar-benar menjadi tahun yang lebih baik dan lebih ramah pada langkah kita, lebih lembut pada hati kita, serta lebih jujur pada mimpi-mimpi yang masih kita perjuangkan. Semoga segala hal yang kita tunggu, yang kita pikirkan, yang kita doakan dalam diam, pada akhirnya menemukan jalannya.
Tetapi kita harus tetap memahami setiap realita kehidupan, bahwa tahun 2026 pasti juga memiliki gejolak yang berbeda. Masalah akan tetap datang, tantangan akan tetap ada. Namun, kita harus memasuki tahun itu dengan hati yang lebih siap. Dengan pengalaman dari tahun 2025, kita harus lebih paham bagaimana menghadapi rintangan yang akan terjadi kedepannya.
"2026, be nice ya... kita sudah berjuang sejauh ini", semoga tahun 2026 menjadi tahun ketika pintu-pintu yang lama tertutup akhirnya terbuka. Tahun di mana kita menemukan apa yang kita cari. Tahun ketika kita lebih dekat pada versi terbaik diri kita.
"2026, be nice ya... aku sudah cukup belajar di tahun 2025", kita masih berjalan. Kita masih ingin mencoba. Kita masih percaya bahwa tahun depan bisa lebih baik. Dan semoga, di tengah segala perubahan yang terjadi nanti, kita tetap menjadi diri yang terus bertumbuh. Karena pada akhirnya, tahun berganti, dunia berubah, tetapi kitalah yang menentukan arah perjalanan kita sendiri.
Semoga kita tidak lupa bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang menunggu jawaban, tetapi juga tentang menjadi seseorang yang pantas menerima jawaban. Karena setelah semua "when ya?" yang kita lalui, kita pada akhirnya harus siap berkata "2026, aku datang. Be nice ya!" (Jadilah lebih baik, Ya!).
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar