
Laporan Pemulihan Listrik di Aceh Menuai Kontroversi
Laporan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai pemulihan listrik di Aceh pasca-bencana banjir dan longsor menuai kontroversi besar. Klaim yang menyatakan bahwa 93 persen hingga 97 persen listrik telah kembali menyala disebut tidak akurat oleh berbagai pihak, termasuk anggota DPR dan Juru Bicara Pemerintah Aceh. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak wilayah masih gelap total, sehingga memicu sentimen kritis dari masyarakat.
Bahlil akhirnya harus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Aceh karena sebagian wilayah masih belum kembali mendapatkan suplai listrik secara penuh. Meski demikian, laporan tersebut telah memicu kekecewaan dan keluhan sinis dari warga setempat.
Berikut adalah tiga fakta terkait laporan pemulihan listrik di Aceh:
1. Laporan Bahlil Dianggap Tidak Akurat
Pada tanggal 7 dan 8 Desember 2025, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa listrik di Aceh sudah menyala antara 93 persen hingga 97 persen. Namun, saat laporan tersebut disampaikan, mayoritas listrik di 18 kabupaten/kota yang terdampak banjir dan longsor masih dalam keadaan padam.
Anggota DPR RI dari Partai Gerindra, TA Khalid, meluruskan informasi yang disampaikan Bahlil kepada presiden. Ia menilai laporan tersebut tidak akurat dan menuduh Bahlil berbohong tentang kondisi pasca-bencana di Aceh.
“Saat ini baru 60 persen listrik menyala di 18 kabupaten/kota yang terdampak banjir dan longsor di Aceh,” ujar Khalid. Ia meminta seluruh menteri untuk melaporkan data yang benar kepada Presiden agar bisa mengambil kebijakan yang tepat dan benar untuk rakyat.
Khalid juga menegaskan bahwa kebohongan dalam laporan data dapat berdampak langsung pada rakyat, serta memperlambat penanganan bencana di Aceh. Ia memperingatkan bahwa jika kondisi ini dibiarkan, akan sangat merugikan masyarakat Aceh.
2. Bahlil Memohon Maaf
Terbaru, Bahlil Lahadalia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Aceh karena hingga Selasa siang sebagian wilayah masih belum kembali mendapatkan suplai listrik secara penuh. Dalam laporan awal yang ia sampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto, pemulihan listrik diproyeksikan mencapai 93 persen dari total pelanggan di Aceh.
Perhitungan tersebut dibuat berdasarkan estimasi teknis awal serta laporan sementara tim di lapangan. Namun, proses pemulihan tidak berjalan sesuai prediksi. Bahlil mengakui adanya banyak kendala teknis yang sulit dipetakan sebelumnya, seperti akses menuju titik-titik kerusakan yang terputus, kondisi medan yang berubah akibat longsor, serta ditemukan tambahan jaringan distribusi yang rusak dan memerlukan perbaikan manual.
“Hitungan awal kami menunjukkan pemulihan bisa mencapai 93 persen. Namun faktanya di lapangan jauh lebih rumit dari perkiraan,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya. Ia menjelaskan bahwa banyak hambatan teknis yang tidak terduga, sehingga pekerjaan harus dilakukan lebih hati-hati dan memakan waktu lebih panjang.
Meski demikian, Bahlil menegaskan keselamatan petugas tetap menjadi prioritas, terutama karena beberapa jalur distribusi berada di area yang masih labil pasca longsor. Ia memastikan pemerintah tetap memantau perkembangan pemulihan listrik di Aceh secara langsung dan meminta masyarakat bersabar serta berjanji setiap perkembangan akan disampaikan secara terbuka.
3. Warga Mengeluh Karena Listrik Masih Padam
Klaim Menteri ESDM Bahlil soal 97 persen listrik menyala di Aceh juga sempat menuai protes dari warga. Warga menegaskan bahwa kondisi lapangan berbeda, di mana listrik masih padam dan rumah-rumah tetap gelap.
Melansir dari Serambinews.com, listrik di sebagian wilayah Aceh pada Senin (8/12/2025) malam masih padam. Misalnya, di sebagian Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Bireuen, dan Gayo Lues, listrik masih mati. Berbagai pihak di wilayah Aceh yang dihubungi secara terpisah menyatakan listrik di tempat domisilinya masih padam.
Hilmi Irsyadi, warga Gampong Pango Deah, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, mengatakan bahwa listrik di desanya padam total sejak Minggu pagi hingga Senin malam. Pernyataan serupa disampaikan oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Bireuen, M Zubair MH, yang menyatakan bahwa seluruh Bireuen gelap karena listrik masih padam.
Di Gayo Lues, Syarifah Aini, yang sedang menjadi sukarelawan Psikososial Mitigation Disaster Muhammadiyah Center (MDMC) Aceh, melaporkan bahwa listrik di sana masih mati. Akibatnya, Aini harus pergi ke Masjid Taqwa Muhammadiyah setempat untuk mencari sinyal Starlink dan mandi sore.
Ichsan MSn, dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, juga melaporkan bahwa listrik di Meunasah Krueng, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, mati sejak magrib. Murni, salah seorang dosen di Darussalam, Banda Aceh, mengaku bahwa listrik di kawasan tempat tinggalnya pun mati tadi malam.
Muhammad Nauval dari Sabang bahkan mengatakan bahwa Bahlil merupakan bukti nyata begitulah tipikal pejabat di negara kita saat ini dalam melakukan komunikasi politik. Sukma, salah seorang dosen di Banda Aceh, menyebut bahwa betapa sedihnya nasib masyarakat Aceh yang sudah dirundung bencana alam, masih saja di-prank oleh Bahlil dalam tiga hari terakhir.
Juru Bicara Pemerintahan Aceh, Muhammad MTA, juga mengeluarkan bantahan resmi terhadap klaim Bahlil. Menurutnya, apa yang diakui Bahlil di depan Presiden Prabowo itu tidak sesuai kenyataan. Ia berharap agar semua pihak hati-hati dalam menyampaikan kebijakan pusat, apalagi di tengah bencana yang berpengaruh besar terhadap psikologi masyarakat korban bencana dan terhadap pemerintahan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar