
nurulamin.proPilihan jurusan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terus mengalami pergeseran seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap peluang kerja setelah lulus.
Dalam beberapa tahun terakhir, minat calon siswa semakin terkonsentrasi pada bidang keahlian yang dinilai memiliki tingkat serapan tinggi di dunia industri.
Perkembangan teknologi, ekonomi kreatif, hingga sektor jasa turut memengaruhi arah peminatan tersebut.
Data tracer study menunjukkan, jurusan dengan prospek kerja yang jelas cenderung lebih diminati dibandingkan program keahlian dengan peluang terbatas.
Kondisi ini menandai perubahan pola pikir calon siswa yang semakin rasional dalam memilih pendidikan vokasi.
Jurusan SMK yang paling diminati di Indonesia
Guru Besar Universitas Negeri Malang, Prof. Waras Kamdi, menilai tren minat siswa saat ini bergerak seiring kebutuhan dan tingkat serapan dunia kerja.
“Tren beberapa tahun belakangan dan ke depan menunjukkan bidang keahlian yang ramai peminat paralel dengan serapan dunia kerja,” ujarnya saat diwawancarai nurulamin.pro, Minggu (11/1/2026).
Ia menambahkan, meningkatnya akses informasi membuat calon siswa dan orang tua lebih kritis dalam menentukan pilihan pendidikan.
“Anak-anak makin melek informasi tren dunia kerja dan menggunakan pemahaman itu sebagai pertimbangan ketika memilih bidang keahlian di SMK,” kata dia.
Berikut adalah beberapap jurusan SMK yang paling diminati:
1. Teknologi dan rekayasa masih jadi primadona
Dari berbagai bidang keahlian, jurusan Teknologi dan Rekayasa tercatat sebagai yang paling diminati sekaligus memiliki tingkat serapan tertinggi.
Berdasarkan tracer study 2024 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) yang melibatkan 1,32 juta lulusan SMK, bidang ini mencatat tingkat keterserapan mencapai 52,24 persen, tertinggi dibandingkan bidang lainnya.
Waras menyebut, tingginya minat terhadap jurusan ini juga dipengaruhi faktor pendapatan lulusan.
“Di kelompok teknologi dan rekayasa, seperti Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik Kendaraan Ringan Otomotif, serta Teknik dan Bisnis Sepeda Motor, pendapatan lulusannya masuk tiga teratas dan berada di atas UMP,” jelasnya.
2. Seni dan industri kreatif
Selain teknologi, Seni dan Industri Kreatif menunjukkan lonjakan minat yang signifikan.
Data tracer study mencatat tingkat serapan lulusan bidang ini mencapai 49,51 persen, menjadikannya salah satu jurusan paling diminati saat ini.
Waras menilai, pergeseran ini menandai perubahan preferensi siswa.
Jika sebelumnya jurusan Bisnis dan Manajemen menjadi yang paling dominan di SMK, kini posisinya mulai tergeser.
“Sekarang mulai terlihat bahwa peminat Bisnis dan Manajemen bergeser ke Seni dan Industri Kreatif karena serapannya di dunia kerja cukup tinggi,” ujarnya.
3. Pariwisata
Di urutan berikutnya, jurusan Pariwisata masih mempertahankan minat tinggi dengan tingkat keterserapan lulusan 49,03 persen.
Pulihnya sektor jasa dan pariwisata dinilai membuat jurusan ini tetap relevan dan menjanjikan peluang kerja luas.
4. Bisnis dan manajemen
Sementara itu, jurusan Bisnis dan Manajemen mencatat tingkat serapan 47,61 persen.
Meski tidak lagi mendominasi seperti masa lalu, jurusan ini masih diminati karena fleksibel dan dibutuhkan di berbagai sektor usaha.
Waras menegaskan, jurusan dengan serapan rendah kini semakin ditinggalkan.
“Program keahlian di SMK yang ramai peminat tapi serapan kerjanya rendah tampaknya sudah menjadi fenomena masa lalu,” katanya.
Ia menyimpulkan, naik-turunnya minat terhadap jurusan SMK semakin dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat terhadap peluang kerja nyata.
“Mulai kelihatan bahwa tren peminatan program keahlian di SMK sangat dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat terhadap perkembangan serapan dunia kerja,” terang Waras.
Lebih dari 1/5 lulusan SMK pilih jadi wirausaha
Lebih lanjut, Prof. Waras juga mengungkapkan bahwa kewirausahaan kian menjadi pilihan nyata bagi lulusan SMK.
Mengacu pada data tracer study Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), rata-rata 23,64 persen lulusan SMK secara nasional memilih berwirausaha setelah menamatkan pendidikan.
Menurut Waras, jalur wirausaha paling banyak ditempuh lulusan dari bidang Agribisnis dan Agroindustri, Teknologi dan Rekayasa, Pariwisata, Bisnis dan Manajemen, serta Kemaritiman.
Namun, ia menilai potensi tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan oleh satuan pendidikan.
“Kesetengah-hatian SMK mendorong ke zona kewirausahaan itu mungkin karena pengaruh teori Prosser yang sangat dominan dalam praktik pendidikan vokasional kita selama ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendidikan kewirausahaan masih kerap diposisikan sebagai jalur alternatif, bukan arus utama dalam pendidikan vokasi.
“Penguatan pendidikan kewirausahaan sebagai alternatif skenario pendidikan vokasional masih dijalankan setengah hati,” kata Waras.
Padahal, menurutnya, kewirausahaan memiliki peran strategis dalam menekan angka pengangguran lulusan.
Waras menekankan bahwa minat berwirausaha sesungguhnya telah tumbuh kuat di kalangan generasi muda.
Ia merujuk pada survei IDN Research Institute tahun 2019 yang menunjukkan tujuh dari sepuluh milenial Indonesia memiliki keinginan memulai bisnis sebagai pilihan karier dan profesi.
“Ada kekuatan dari dalam, ada kemandirian, pada anak-anak muda Indonesia,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong agar arah pendidikan lebih menyesuaikan kebutuhan generasi muda dengan memperkuat ekosistem kewirausahaan.
“Pendidikan mestinya mengayun pendulum ke arah pemenuhan kebutuhan belajar anak-anak milenial dengan penguatan kewirausahaan ini,” kata Waras.
Ia menegaskan, membangun masyarakat lapis kreatif dan mandiri dapat dimulai dari sektor informal dan UMKM.
“Tidak apa dimulai dari UMKM, karena pada saatnya akan tumbuh wirausahawan besar dari barisan masyarakat lapis kreatif dan mandiri ini,” pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar