5 Centimeters per Second Tayang Ulang di Bioskop, Hadirkan Behind The Scene 20 Tahun Lalu

nurulamin.pro, JAKARTA - Film animasi yang mengadaptasi komik, 5 Centimeters per Second, kembali hadir di bioskop setelah sebelumnya dirilis pada 2007. 

Film animasi 5 Centimeters per Second ditulis dan disutradarai oleh Makoto Shinkai. Judul 5 Centimeters per Second diambil dari kecepatan jatuhnya kelopak bunga sakura, dengan kelopak sebagai representasi metaforis dari manusia.

Film ini pertama kali diputar di bioskop Jepang pada tanggal 3 Maret 2007. Namun, kini tayang ulang di bioskop untuk menyambut versi live-action, yang sudah tayang di Jepang sejak Oktober 2025, tapi baru akan hadir di layar lebar Indonesia tahun ini. 

Versi tayang ulangnya akan mulai diputar di bioskop pada 16 Januari 2025, berdurasi 77 menit dan diikuti dengan soundtrack "One More Time, One More Chance" dan 15 menit post-credit scene. 

Post-credit scene tersebut berisi behind the scene, cerita Makoto dalam pembuatan film animasinya sekitar 20 tahun lalu.   

Dalam ceritanya, Makoto mengatakan bahwa film ini seperti "serpihan dirinya" pada masa tersebut. Didasarkan pada kisahnya sendiri, di mana dia harus menempuh jarak yang jauh dan kesulitan menghubungi pasangannya.

Review 5 Centimeters per Second

Film ini terdiri dari tiga bagian episode yang masing-masing mengikuti periode dalam kehidupan tokoh utama Takaki Tōno dalam menjaga hubungan dan perasaannya pada Akari, temannya sejak SD, dan hubungannya dengan gadis-gadis di sekitarnya hingga ia dewasa.  

Sebagai film yang tayang hampir 20 tahun lalu, dan berlatar 1990-an, film ini masih sukes bikin galau dengan kisah romansanya yang pasti relate dengan banyak orang. 

Film ini begitu cerdas menggambarkan latar waktu kala itu, ketika belum ada telepon genggam, dan bagaimana sulitnya menjalin hubungan hanya dengan bersurat. 

Lewat gambar-gambar latar di sepanjang film, Makoto juga bisa membawa penonton "keliling Jepang" karena digambar berdasarkan lokasi asli, mulai dari stasiun, gedung sekolah dan ruang kelas, lingkungan rumah, pohon sakura besar, dan pemandangan lainnya. 

Meskipun dengan kisah yang menggantung di akhir, cukup membuat penonton gagal move on dan tak sabar untuk bisa segera menyaksikan versi live-actionnya.  

Film karya Makoto Shinkai ini memberikan pandangan realistis tentang perjuangan yang harus dihadapi banyak orang, soal waktu, ruang, orang, dan cinta.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan