
nurulamin.pro, SEMARANG — Selain menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat, pasar tradisional juga sering kali menyimpan jejak sejarah panjang perkembangan kota dan budaya lokal. Di Jawa Tengah, sejumlah pasar tradisional telah berdiri sejak puluhan tahun dan hingga kini tetap berfungsi sebagai ruang transaksi sekaligus tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat.
Keberadaan pasar-pasar tradisional bersejarah ini menunjukkan daya tahan ekonomi rakyat di tengah perubahan zaman. Meski harus menghadapi arus modernisasi dan persaingan pusat perbelanjaan modern, pasar tradisional di Jawa Tengah masih bertahan sebagai simpul kehidupan sosial, budaya, dan identitas daerah yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Dikutip dari visitjawatengah.jatengprov.go.id, berikut 7 pasar tradisional bersejarah di Jawa Tengah:
1. Pasar Johar
Terletak di Kota Semarang, Pasar Johar merupakan pasar tradisional yang telah dibangun sejak tahun 1930-an pada masa pemerintahan kolonial Belanda dan dirancang oleh arsitek ternama, Herman Thomas Karsten. Sejak awal pembangunan, Pasar Johar dirancang sebagai pusat perdagangan rakyat yang terbuka dan mampu menampung aktivitas jual beli dalam skala besar.
Sebagai pusat ekonomi Kota Semarang, Pasar Johar pernah dikenal sebagai salah satu pasar tradisional terbesar di Asia Tenggara. Pasar ini menjadi tempat perdagangan utama untuk bahan pangan, kebutuhan pokok, dan komoditas harian. Meski sempat mengalami kebakaran dan proses revitalisasi, Pasar Johar kini telah berfungsi kembali dan tetap menjadi denyut ekonomi rakyat.
2. Pasar Klewer
Menjadi pasar pusat tekstil terbesar di kota Surakarta, Pasar Klewer merupakan pasar yang telah ada sejak tahun 1940-an yang kemudian diresmikan pada tahun 1971. Nama pasar ini diambil dari bahasa Jawa “Klewer” yang berarti “Baju yang digantung”. Namun, pasar ini juga mendapat julukan Pasar Slompretan, yang mana kata “Slompret” memiliki arti terompet yang menjadi penanda kereta api berangkat pada zaman dahulu.
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, kawasan Pasar Klewer digunakan menjadi tempat perhentian kereta api yang digunakan sebagai tempat berjualan kain batik oleh para pedagang pribumi. Saat berjualan, para pedagang biasanya menaruh kain atau pakaian yang dijual di pundak sehingga terlihat menjuntai atau tidak beraturan saat dilihat dari kejauhan.
Pasar Klewer mulai berkembang pada tahun 1942-1945 dan berkembang hingga tahun 1968. Selanjutnya, Pemerintah membangun gedung pasar permanen bertingkat pada 9 Juni 1970, kemudian diresmikan pada tahun 1971 oleh Presiden Soeharto. Saat ini, Pasar Klewer masih bertahan dan eksis sebagai pasar tekstil terbesar dan menjadi ikon dari kota Surakarta. Di dalamnya, banyak pedagang yang masih menjualkan kain batik dan pakaian mulai dari batik tulis, batik cap, pakaian jadi, dan lain-lain.
3. Pasar Gede
Selain Pasar Klewer, Kota Surakarta memiliki pasar tradisional bersejarah lainnya, yakni Pasar Gede. Dinamai pasar Gedhe karena pasar ini memiliki atap yang besar. Pasar Gede disebut bersejarah karena telah dibangun sejak tahun 1927 di bawah pemerintahan Pakubuwono X. Memiliki gaya arsitektur campuran Jawa dan Belanda, pasar ini dirancang oleh arsitek terkenal asal Belanda, Thomas Karsten.
Hingga saat ini, Pasar Gede masih menjadi pasar yang ramai dikunjungi oleh wisatawan maupun masyarakat sekitar. Pasar ini ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Sementara, wisatawan yang datang biasa melakukan wisata kuliner dengan membeli makanan tradisional khas Kota Surakarta, seperti seperti risol Solo, pastel, lumpia, cabuk rambak, klepon, grontol, es dawet telasih, hingga jamu.
4. Pasar Triwindu
Terkenal sebagai pusat perdagangan barang-barang antik, ternyata Pasar Triwindu merupakan pasar tradisional yang telah dibangun pada tahun 1939. Diketahui bahwa pasar ini dibangun untuk memperingati 24 tahun atau tiga windu pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII.
Terletak tidak jauh dari Pura Mangkunegaran, Pasar Triwindu saat ini masih eksis dan banyak dikunjungi oleh wisatawan, khususnya kolektor barang antik. Pasar ini telah lama menjual berbagai jenis barang antik mulai dari koin dan kertas tahun 1800-an, peralatan rumah tangga, mainan tempo dulu, patung kayu dan batu, hingga wayang. Eksisnya Pasar Triwindu hingga saat ini mampu menunjukkan bahwa peran pasar tidak hanya sebatas sebagai tempat transaksi, melainkan juga sebagai tempat menyimpan memori dan jejak sejarah Kota Surakarta.
5. Pasar Kliwon
Pasar Kliwon merupakan pasar tradisional bersejarah di Kabupaten Kudus yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1960-an. Pasar Kliwon berkembang sebagai salah satu pusat ekonomi perdagangan terbesar di Kabupaten Kudus. Berdasarkan sejarah yang ada, pasar ini dinamai Kliwon karena dulunya pasar ini hanya buka pada hari Kliwon berdasarkan penanggalan kalender Jawa.
Saat ini, Pasar Kliwon masih dikunjungi oleh masyarakat sekitar Kudus. Menjadi pusat perdagangan tekstil dan pakaian muslim, Pasar Kliwon banyak menjual barang-barang seperti saru, gamis, mukena, peci, dan lain-lain. Namun, selain pakaian, pasar ini juga menjual perlengkapan sekolah dan bahan kebutuhan masyarakat sehari-hari lainnya.
6. Pasar Rejowinangun
Pasar Rejowinangun merupakan pasar tradisional tertua yang ada di Kota Magelang. Pasar tradisional ini diketahui telah ada sejak tahun 1923. Dilansir dari jurnal Pengaruh Eksistensi Pasar Rejowinangun Terhadap Perkembangan Wilayah Kota Magelang karya Hakam Ansori, Minggu (11/1/2026), Pasar Rejowinangun merupakan pasar modern pada masa itu dengan bangunan pasar berupa kayu, atap genting, dan lincak bambu sebagai tempat berjualan.
Selama beroperasi, Pasar Rejowinangun pernah mengalami kebakaran pada tahun 2008 yang membuat para pedagang pasar ini harus direlokasi ke pasar penampungan di Sentra Ekonomi Lembah Tidar Magelang. Tiga tahun setelahnya, pada tahun 2011 pasar Rejowinangun kembali dibangun dan selesai pembangunan pada tahun 2013. Saat ini, pasar Rejowinangun masih ramai dikunjungi masyarakat dengan memiliki 2.512 tempat dagang yang terdiri dari 254 kios, 2.220 los, dan 38 los kuliner.
7. Pasar Wage
Pasar Wage merupakan pasar tradisional bersejarah yang berada di Kabupaten Banyumas. Dilansir dari instagram @banjoemas_history, pasar ini telah ada sejak abad ke-19 di masa kolonial Belanda. Pada zaman tersebut, Pasar Wage digunakan sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat pribumi.
Pasar Wage telah berkembang sebagai tempat perdagangan kebutuhan pokok, hasil pertanian, bahan pangan, serta sekaligus menjadi ruang interaksi sosial masyarakat. Hingga saat ini, Pasar Wage masih aktif sebagai pasar yang memiliki peran dalam penggerak ekonomi rakyat.
(Fadya Jasmin Malihah)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar