Keputusan Maeng Se Na (Sooyoung) untuk menjadi kuasa hukum Do Ra Ik (Kim Jae Young) dalam drama Korea Idol I bukanlah langkah heroik yang disambut pujian. Sebaliknya, keputusan itu justru menyeretnya ke dalam pusaran konflik moral, tekanan publik, dan praktik hukum yang kotor. Maeng Se Na tidak hanya melawan tuduhan pembunuhan, tetapi juga sistem, opini massa, serta keraguan dalam dirinya sendiri.
Sebagai pengacara dengan reputasi nyaris sempurna, Maeng Se Na sadar bahwa membela Do Ra Ik, seorang idola yang sudah dicap sebagai pembunuh Kang Woo Seong (An Woo Yeon), berarti mempertaruhkan karier dan integritasnya sekaligus. Berikut tujuh terberat yang harus ia hadapi sepanjang membela Do Ra Ik di drakor Idol I.
1. Do Ra Ik sudah dianggap bersalah oleh publik
Sejak awal kasus mencuat, Do Ra Ik telah lebih dulu divonis bersalah oleh publik. Opini massa terbentuk begitu cepat, dipicu oleh pemberitaan media dan sentimen negatif terhadap Do Ra Ik. Akibatnya, Maeng Se Na sama sekali tidak mendapatkan dukungan ketika memutuskan membelanya. Ia justru dicap sebagai pengacara yang “membela pembunuh”, membuat posisinya terisolasi secara sosial dan profesional.
2. Penyelidikan kepolisian dan kejaksaan yang tidak profesional
Tantangan besar lainnya adalah cara kepolisian dan kejaksaan dalam menangani kasus ini. Alih-alih melakukan penyelidikan objektif, mereka justru bekerja tanpa integritas dan terlihat tergesa-gesa. Maeng Se Na berulang kali menemukan kejanggalan dalam proses penyidikan, mulai dari pengabaian bukti hingga kesimpulan yang ditarik tanpa dasar kuat. Hal ini membuat perjuangan hukum menjadi tidak seimbang sejak awal.
3. Penetapan tersangka tanpa bukti kuat
Do Ra Ik ditetapkan sebagai tersangka utama tanpa adanya bukti konkret yang mengikat. Tidak adanya alat pembunuhan yang jelas, motif yang solid, dan bahkan proses autopsi korban belum dilakukan. Bagi Maeng Se Na, kondisi ini menjadi tantangan serius karena ia harus membuktikan ketidakbersalahan kliennya di tengah sistem yang sudah mengunci satu kesimpulan.
4. Kepolisian mengarahan bukti untuk menguatkan tuduhan mereka
Lebih buruk lagi, kepolisian dan kejaksaan tidak sekadar lalai, tetapi juga mengarahkan bukti-bukti agar semakin menguatkan status Do Ra Ik sebagai tersangka. Fakta-fakta yang seharusnya membuka kemungkinan pelaku lain diabaikan, sementara detail kecil yang memberatkan Do Ra Ik dibesar-besarkan. Maeng Se Na harus bekerja ekstra keras untuk membongkar bias sistemik ini di ruang sidang.
5. Sikap ibu Do Ra Ik yang memperumit situasi
Tantangan datang pula dari pihak keluarga kliennya sendiri. Ibu Do Ra Ik kerap melakukan wawancara dengan media tanpa kontrol, menyampaikan pernyataan emosional yang berpotensi menyesatkan publik. Alih-alih membantu, sikap ini justru memperkeruh keadaan dan membuka peluang munculnya informasi palsu yang merugikan posisi hukum Do Ra Ik.
6. Agensi yang menutup diri dan sulit diajak bekerja sama
Sebagai idol, Do Ra Ik berada di bawah kendali agensi yang seharusnya menjadi pihak pendukung utama. Namun dalam kasus ini, agensi justru bersikap defensif dan tertutup. Mereka enggan berbagi data, jadwal, maupun informasi internal yang bisa membantu pembelaan.
7. Do Ra Ik seperti berusaha menyembunyikan sejumlah fakta dari Maeng Se Na
Tantangan paling berat bagi Maeng Se Na adalah perasaan bahwa Do Ra Ik menyembunyikan sesuatu darinya. Ia merasa ada informasi atau rahasia yang tidak sepenuhnya diungkap Do Ra Ik, entah karena ia ingin melindungi seseorang atau ketidakpercayaan. Bagi seorang pengacara, kondisi ini sangat berbahaya karena pembelaan hukum membutuhkan keterbukaan total.
Melalui tantangan-tantangan ini, Maeng Se Na tidak sekadar membela Do Ra Ik dari tuduhan pembunuhan, melainkan melawan budaya penghakiman, manipulasi kekuasaan, dan kebenaran yang sengaja disembunyikan di Idol I. Inilah yang membuat perjuangannya terasa berat, manusiawi, dan sangat relevan.
4 Dilema Maeng Se Na saat Jadi Pengacara Do Ra Ik di Drakor Idol I 7 Momen Heroik Se Na Menyelamatkan Ra Ik di Drakor Idol I







Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar