aiotrade Dalam kehidupan modern, media menjadi jendela utama yang memperkenalkan kita pada dunia. Apa yang kita ketahui tentang politik, ekonomi, konflik internasional, hingga kehidupan selebritas, hampir semuanya dibingkai oleh media. Namun, apa jadinya jika jendela itu tidak sebening yang kita bayangkan?
Noam Chomsky—seorang intelektual publik yang dikenal kritis—menawarkan 8 teknik utama bagaimana media membentuk, memengaruhi, bahkan memanipulasi persepsi publik. Setelah memahami teori-teori ini, Anda mungkin akan mulai bertanya-tanya: “Selama ini apakah saya benar-benar melihat dunia apa adanya, atau hanya versi yang ingin media tampilkan?”
Mari kita bahas delapan strateginya satu per satu—dan bersiaplah melihat berita dengan kacamata baru.
1. Mengalihkan Perhatian: Menyerang Fokus Publik ke Arah Lain
Media sering menggunakan teknik distraction: ketika ada isu besar yang tidak menguntungkan pihak tertentu, publik digiring untuk fokus ke berita lain yang lebih dramatis, emosional, atau sensasional. Contoh sehari-hari? Ketika ada kebijakan kontroversial, berita tentang selebritas, kriminalitas, atau hal-hal yang memancing emosi tiba-tiba membanjiri layar.
Pelajaran untuk Anda:
Tanya selalu: “Apa yang tidak diberitakan hari ini?” Seperti melihat ilusi, sering kali yang menentukan bukan apa yang terlihat, tetapi justru apa yang sengaja tidak diperlihatkan.
2. Menciptakan Masalah, Lalu Menawarkan Solusi
Chomsky menyebutnya strategi problem–reaction–solution. Media menonjolkan sebuah masalah (atau membesar-besarkannya), membuat publik panik, lalu mendorong publik menerima solusi tertentu yang sebenarnya sudah direncanakan sejak awal. Teknik ini sangat efektif dalam isu keamanan, kriminalitas, atau kebijakan publik.
Pelajaran untuk Anda:
Ketika berita menakutkan muncul tiba-tiba, perhatikan: Siapa yang paling diuntungkan dari rasa takut ini?
3. Menggunakan Strategi Bertahap: Perubahan Kecil yang Tak Terasa
Jika ada kebijakan yang tidak populer, media akan mengemasnya sebagai bagian dari perubahan kecil, bertahap, dan tidak mencolok. Publik jarang protes karena setiap perubahan tampak “wajar”. Begitu bertahun-tahun berlalu, publik baru sadar bahwa mereka telah menerima sesuatu yang dulunya akan mereka tolak habis-habisan.
Pelajaran untuk Anda:
Baca pola, bukan hanya berita harian. Apa yang berubah dalam 5 tahun terakhir? 10 tahun? Kejutan terbesar biasanya datang setetes demi setetes.
4. Menunda Penolakan: Kebijakan Buruk yang Dikemas untuk Masa Depan
Teknik ini sederhana: media menunjukkan kebijakan yang tidak populer, tetapi mengemasnya sebagai sesuatu yang “akan baik untuk masa depan”. Contohnya, kenaikan tarif, aturan baru, atau pembatasan tertentu yang dijanjikan akan membawa manfaat jangka panjang.
Pelajaran untuk Anda:
Jika suatu kebijakan kelihatan tidak adil hari ini, jangan mudah percaya ketika dijanjikan “akan baik nanti”. Evaluasilah siapa yang benar-benar menanggung biaya perubahannya.
5. Menggunakan Bahasa Emosional, Bukan Rasional
Media sadar bahwa emosi lebih cepat menggerakkan publik dibandingkan logika. Karena itu, judul clickbait, gambar dramatis, dan narasi yang memancing marah atau takut menjadi trik utama. Berita yang seharusnya bersifat informatif berubah menjadi hiburan emosional.
Pelajaran untuk Anda:
Ketika berita membuat Anda marah, takut, atau benci, tanyakan: “Apakah informasi ini faktual, atau saya sedang diarahkan untuk merasakan sesuatu?”
6. Memperlakukan Publik Seperti Anak Kecil
Chomsky mengatakan media sering berbicara dengan nada meremehkan, seolah-olah publik tidak mampu berpikir kritis. Narasi disederhanakan berlebihan, penuh dramatisasi, dan menghindari penjelasan yang mendalam. Akhirnya, masyarakat menerima informasi dangkal dan berhenti bertanya.
Pelajaran untuk Anda:
Jika sebuah berita terasa terlalu sederhana untuk isu yang kompleks, Anda mungkin hanya mendapatkan versi untuk anak-anaknya.
7. Menekan Pikiran Kritis dengan Hiburan
Teknik ini sangat relevan di era digital. Publik dibombardir hiburan tanpa henti—game, reality show, gosip, video pendek, challenge, skandal—hingga tidak sempat lagi memikirkan isu sosial dan politik. Ketika masyarakat larut dalam distraksi, kekuasaan bekerja lebih bebas.
Pelajaran untuk Anda:
Pertanyaan penting: “Berapa jam saya menonton hal-hal yang tidak menambah apa pun?” Karena waktu adalah alat kontrol yang sangat kuat.
8. Menanamkan Rasa Bersalah: “Ini Salahmu Sendiri”
Ketika ada masalah sosial—pengangguran, kemiskinan, ketimpangan—media sering menyederhanakannya menjadi kegagalan individu, bukan sistem. Pesannya jelas: jika Anda gagal, itu sepenuhnya salah Anda. Padahal, struktur sosial selalu memiliki kontribusi besar terhadap hasil hidup seseorang.
Pelajaran untuk Anda:
Jika sebuah berita menyalahkan individu tanpa menyinggung sistem, hati-hati—itu bukan analisis, itu framing.
Kesimpulan: Setelah Ini, Anda Tidak Akan Lagi Menjadi Penonton Pasif
Delapan teori Chomsky ini bukan sekadar kritik terhadap media. Ini adalah undangan untuk melek media—untuk berhenti menjadi penonton pasif dan mulai menjadi pembaca aktif yang sadar akan narasi, framing, dan agenda yang tersembunyi. Kini, setiap kali Anda menonton berita, Anda akan bertanya:
“Mengapa ini diberitakan?”
“Mengapa ini ditekankan?”
“Apa yang sedang disembunyikan?”
“Siapa yang diuntungkan?”
Pada akhirnya, tujuan bukan untuk membuat Anda paranoid—melainkan merdeka secara informasi. Karena begitu Anda mampu melihat pola, Anda tidak akan pernah lagi melihat media dengan cara yang sama.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar