
Perjalanan Menemukan Diri yang Tidak Terlalu Sempurna
Saya lama percaya bahwa hidup saya akan baik-baik saja jika pikiran ini bisa ditertibkan. Sebagai penyandang disleksia dan ADHD, saya tumbuh dalam dunia yang terus meminta saya "lebih fokus", "lebih tenang", dan "lebih normal". Saya belajar membuat sistem, strategi, dan disiplin ketat demi menaklukkan kekacauan di kepala. Dunia pendidikan, pelatihan guru, hingga literatur psikologi modern sering mengajarkan hal yang sama: kendalikan pikiranmu, maka kamu akan berhasil. Tapi semakin saya berusaha mengendalikan, semakin lelah rasanya hidup di dalam diri sendiri.
Secara ilmiah, ADHD memang kerap dipahami sebagai persoalan fungsi eksekutif otak. Russell Barkley menjelaskan bahwa ADHD berkaitan dengan hambatan pada kemampuan mengatur perhatian, impuls, waktu, dan emosi, bukan karena kurangnya kecerdasan atau kemauan. Fakta ini saya temukan berulang kali di lapangan, saat mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus di berbagai daerah Indonesia. Mereka cerdas, penuh ide, dan kreatif, tetapi tumbuh dalam sistem yang menuntut keseragaman. Akibatnya, yang rusak bukan hanya prestasi akademik, melainkan harga diri dan relasi mereka dengan diri sendiri.
Luka Emosional yang Sering Diabaikan
Namun ada satu hal yang jarang dibicarakan secara jujur: luka emosional. Anak dengan disleksia dan ADHD tidak hanya berjuang memahami pelajaran, mereka juga memikul rasa malu, rasa gagal, dan rasa "tidak cukup" sejak dini. Penelitian tentang emotional dysregulation pada ADHD menunjukkan bahwa kesulitan mengelola emosi sering kali lebih menyakitkan daripada kesulitan fokus itu sendiri. Di sinilah saya sadar, selama ini kita sibuk mengelola pikiran, tetapi lupa menyembuhkan hati.
Pengalaman pribadi saya sebagai anak yang dulu dianggap "bermasalah" membuat saya paham betul rasanya hidup dalam mode bertahan. Saya tidak hanya belajar membaca dan menulis dengan cara yang berbeda, saya juga belajar menahan tangis, menelan ejekan, dan berpura-pura kuat. Sampai suatu hari, saya menyadari bahwa semua teknik manajemen diri yang saya pelajari tidak pernah menyentuh luka terdalam saya: rasa tidak diterima apa adanya. Saya bisa mengatur jadwal, tapi tidak bisa mengatur perasaan hampa yang terus datang diam-diam.
Kesimpulan yang Mengguncang
Perjalanan refleksi ini membawa saya pada satu kesimpulan sederhana tapi mengguncang: tidak semua hal bisa disembuhkan dengan logika. Ada bagian dalam diri penyandang ADHD dan disleksia yang tidak butuh strategi, tetapi kehadiran. Tidak butuh target, tetapi pengakuan. Dalam praktik di lapangan, perubahan paling besar justru terjadi ketika guru hadir dengan empati, ketika orangtua berhenti membandingkan, dan ketika anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri. Lingkungan yang ramah emosi terbukti menurunkan perilaku impulsif dan meningkatkan regulasi diri, jauh lebih efektif daripada hukuman atau tekanan akademik.
Mungkin inilah yang sering kita sebut sebagai "pulang". Pulang dari perang panjang melawan diri sendiri. Pulang dari tuntutan untuk selalu membuktikan bahwa kita layak. Pulang ke kesadaran bahwa otak yang berbeda tidak perlu diperbaiki, tetapi dipahami. ADHD dan disleksia bukan hanya cerita tentang gangguan, melainkan tentang manusia yang terlalu lama diminta keras pada dirinya sendiri.
Kesadaran yang Membawa Perubahan
Dan jika hari ini kita masih lelah, mungkin bukan karena kita kurang berusaha, tetapi karena kita belum pernah benar-benar diizinkan beristirahat sebagai diri sendiri. Kita tidak pernah benar-benar rusak; kita hanya terlalu lama diminta berperang dengan diri sendiri, padahal yang kita butuhkan hanyalah diterima.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar