
berita
, JAKARTA Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) mengungkapkan beberapa faktor utama yang dianggap akan menjadi penopang perkembangan industri dana pensiun pada tahun 2026.
Faktor Pertama: Stabilitas Ekonomi dan Suku Bunga
Ketua Umum ADPI Abdul Hadi menyebutkan bahwa faktor pertama adalah stabilitas dan prospek ekonomi yang lebih terukur serta suku bunga yang stabil. Hal ini dinilai bisa memberikan ruang bagi penguatan kinerja investasi jangka panjang.
Faktor Kedua: Kebijakan dan Regulasi yang Mendukung
Faktor kedua adalah arah kebijakan dan regulasi yang mendorong perluasan cakupan program pensiun, baik untuk Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) maupun Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Dengan adanya kebijakan yang mendukung, diharapkan lebih banyak individu dan perusahaan dapat memanfaatkan layanan dana pensiun.
Faktor Ketiga: Tren Investasi yang Berorientasi Jangka Panjang
Faktor ketiga mencakup tren investasi yang semakin berorientasi pada kewajiban jangka panjang. Selain itu, manajemen risiko yang baik, diversifikasi, dan instrumen pasar yang lebih matang juga menjadi elemen penting dalam meningkatkan kinerja dana pensiun.
Kombinasi faktor-faktor ini kami nilai akan menciptakan momentum positif bagi penguatan industri dana pensiun secara menyeluruh, tegas Presiden Direktur Dana Pensiun Telkom tersebut.
Pentingnya Pelayanan, Edukasi, dan Digitalisasi
Abdul menekankan bahwa pelayanan, edukasi, dan digitalisasi harus ditingkatkan oleh para penyelenggara dana pensiun agar industri ini dapat berkembang dengan baik di tahun mendatang.
Menurutnya, tiga hal tersebut bisa membuat publik semakin memahami dana pensiun, sehingga jumlah peserta bisa meningkat, terutama dari kalangan pekerja informal dan individual. Selain itu, aset kelolaan juga diharapkan bisa ikut meningkat.
Potensi Pertumbuhan Industri Dana Pensiun
Secara umum, ADPI menilai bahwa industri dana pensiun di 2026 tetap dalam kondisi positif dan memiliki potensi untuk tumbuh, baik dari sisi aset kelolaan (AUM) maupun dari jumlah peserta.
Diharapkan dengan kondisi ekonomi yang terus membaik membuat aset kelolaan meningkat, karena kinerja investasi dapat memberikan kontribusi pertumbuhan aset. Pertumbuhan peserta masih terbuka, baik dari peserta secara korporasi maupun individual yang dapat memiliki iuran sukarela dan program pensiun secara mandiri, jelas dia.
Tantangan yang Masih Ada
Meski demikian, Abdul tidak menampik bahwa masih ada tantangan utama yang akan dihadapi industri dana pensiun di 2026 nanti. Misalnya, menjaga kinerja investasi di tengah dinamika pasar yang masih fluktuatif, sekaligus memastikan kecukupan pendanaan jangka panjang.
Selain itu, menurutnya industri dana pensiun perlu memperkuat tata kelola, kepatuhan, dan manajemen risiko seiring regulasi yang semakin detail.
Transformasi Digital dan Kapabilitas SDM
Transformasi digital dan peningkatan kapabilitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi agenda penting, agar dana pensiun mampu beradaptasi dan tetap relevan di tengah perubahan lingkungan ekonomi dan demografi.
Rekomendasi ADPI
Oleh karena itu, ADPI menyarankan agar para penyelenggara dana pensiun dapat memperkuat disiplin manajemen risiko, menjaga kesesuaian antara aset dan liabilitas dalam setiap keputusan investasi, dengan tetap menerapkan diversifikasi investasi yang sehat.
Selain itu, imbuhnya, penyelenggara perlu meningkatkan kualitas layanan, transparansi, dan literasi kepada peserta supaya produk dana pensiun semakin dipahami dan diminati.
Di tengah dinamika ekonomi 2026, pendekatan investasi yang prudent, governance yang kuat, serta komunikasi yang efektif kepada peserta akan menjadi kunci menjaga kinerja dan memperkuat daya tarik program, ujarnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar