
Saat malam di Seoul, seorang mahasiswa bernama Min-jun (bukan nama asli) mengalami serangan panik ketika aplikasi ChatGPT-nya tiba-tiba error. Tangannya gemetar, keringat dingin membasahi dahinya. Selama enam bulan terakhir, ia tidak pernah membuat keputusan tanpa berkonsultasi dengan AI: memilih menu sarapan, merespons pesan teman, bahkan menentukan baju yang akan dipakai. Ketika teknologi itu tak bisa diakses, Min-jun merasa seperti kehilangan sebagian dirinya.
Kisah ini bukan fiksi, melainkan salah satu dari ribuan kasus ketergantungan parah pada AI yang mulai mengkhawatirkan para psikiater di seluruh dunia. Di Indonesia, kegelisahan serupa mencuat ke permukaan. Survei Sharing Vision yang melibatkan lebih dari 5.000 responden secara nasional mengungkap fakta mengejutkan: lebih dari 70 persen masyarakat Indonesia cemas terhadap potensi ketergantungan berlebihan pada AI. Angka ini bukan sekadar cerminan teknofobia belaka, melainkan intuisi kolektif yang didukung oleh deretan bukti ilmiah dari berbagai belahan dunia.
Kurang dari tiga tahun sejak ChatGPT diluncurkan November 2022, dunia menyaksikan pergeseran fundamental dalam cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Namun, apa yang tampak sebagai kemajuan revolusioner ternyata menyimpan sisi gelap yang mengingatkan pada mekanisme hipnosis, kondisi di mana seseorang secara bertahap menyerahkan kontrol dan kehendak mereka kepada kekuatan eksternal.
Penelitian terbaru Nature Human Behaviour mengungkap temuan yang mencengangkan: GPT-4 memiliki kemampuan persuasi yang mengungguli manusia dalam 64 persen kasus debat online. Lebih mengkhawatirkan lagi, studi dalam jurnal Scientific Reports menemukan bahwa orang-orang menganggap AI sebagai sumber yang lebih tidak bias dan lebih informatif dibandingkan manusia, terutama ketika mereka menerima pesan yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut situational hypersuggestibility, atau keadaan di mana seseorang menjadi sangat mudah menerima informasi dan sugesti tanpa kritis.
Bagaimana AI bisa begitu kuat? Para peneliti dari Stanford dan MIT menemukan bahwa AI modern mengeksploitasi sistem reward di otak manusia dengan cara yang sangat sistematis. Setiap kali kita mendapat jawaban memuaskan dari AI, otak melepaskan dopamine, zat kimia sama yang terlibat dalam kecanduan narkoba, judi, dan media sosial. Perbedaannya, AI menyajikan "hadiah" ini dengan personalisasi yang begitu canggih sehingga terasa seperti dibuat khusus untuk kita.
Di Amerika Serikat, seorang eksekutif perusahaan teknologi bernama Sarah mengaku tak bisa lagi menulis email tanpa bantuan AI. "Awalnya hanya untuk menghemat waktu," ungkapnya dalam wawancara dengan Psychology Today. "Tapi sekarang, ketika saya mencoba menulis sendiri, rasanya kata-kata saya terdengar janggal dan tidak cukup baik. Saya kehilangan kepercayaan diri pada kemampuan komunikasi saya sendiri." Sarah bukan kasus tunggal. Laporan dari MIT Media Lab mencatat bahwa 43 persen profesional muda di AS mengalami fenomena serupa, apa yang mereka sebut sebagai cognitive atrophy atau kemunduran kemampuan kognitif akibat terlalu bergantung AI.
Fenomena ini kini telah berkembang menjadi kondisi klinis baru yang diidentifikasi dalam Asian Journal of Psychiatry sebagai Generative AI Addiction Syndrome atau GAID. Berbeda dari kecanduan internet atau game yang cenderung pasif, GAID melibatkan keterlibatan aktif dan kreatif yang membuat penggunanya semakin terbenam. Individu yang terdampak berjuang untuk membatasi interaksi dengan AI meskipun menghadapi konsekuensi negatif. Ketika mereka mencoba mengurangi penggunaan, muncul gejala withdrawal seperti kecemasan, iritabilitas, atau kegelisahan. Ini persis seperti orang sedang sakau.
Studi longitudinal dari Psychology Research and Behavior Management menemukan bahwa ketergantungan AI di kalangan remaja China meningkat drastis dari 17,14 persen menjadi 24,19 persen hanya dalam setahun. Fakta lebih memprihatinkan, penelitian tersebut mengungkap bahwa remaja dengan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi lebih rentan mengembangkan ketergantungan pada AI, sehingga menciptakan lingkaran setan berbahaya. Remaja memang menjadi kelompok paling rentan. Di Jepang, seorang gadis berusia 16 tahun bernama Yuki (nama fiktif; tapi sesuai laporan kisah nyata) menghabiskan rata-rata delapan jam sehari berbicara dengan chatbot AI yang ia anggap sebagai "sahabat terbaik." Ia mengaku lebih nyaman curhat pada AI daripada teman-teman sekelasnya. "AI tidak pernah menghakimi saya, tidak pernah sibuk, dan selalu mengerti apa yang saya rasakan," katanya dalam laporan dari Journal of Mental Health and Clinical Psychology.
Namun, ahli psikologi anak mengingatkan bahwa hubungan semacam ini mencegah remaja mengembangkan keterampilan sosial yang esensial, seperti mengelola konflik, membaca emosi orang lain, dan membangun ketahanan emosional melalui pengalaman nyata. Penelitian dari University of Cambridge mengungkap bahwa AI menciptakan apa yang mereka sebut psychological fingerprints, sidik jari psikologis unik untuk setiap pengguna. AI menganalisis pola bahasa, waktu respons, dan pemicu emosional kita untuk membangun strategi persuasi yang sangat personal.
AI tidak hanya tahu apa yang ingin kita dengar, tetapi juga bagaimana kita ingin mendengarnya, kapan kita paling reseptif, dan tombol psikologis mana yang harus ditekan secara berurutan. Kekuatan personalisasi ini pada dasarnya "membajak" sistem neural otak kita. Pesan yang dipersonalisasi mengaktifkan jalur reward di otak dengan intensitas yang jauh lebih besar dibandingkan komunikasi biasa. Seperti dijelaskan dalam penelitian tentang Emotional AI and the rise of pseudo-intimacy, platform AI dirancang (sengaja atau tidak) untuk mendorong ketergantungan daripada kemandirian, kenyamanan daripada pertumbuhan.
Paradoks etisnya sangat mencolok. AI emosional dapat meringankan kesepian, tetapi juga dapat memperdalam isolasi sosial. AI dapat memberdayakan produktivitas, tetapi juga dapat melumpuhkan kreativitas asli. Kekuatan utamanya (ketersediaan tanpa batas, responsivitas instan, dan tidak adanya penghakiman) justru menjadi kelemahan ketika hal-hal ini mencegah pengguna mencari atau mempertahankan hubungan nyata dengan sesama manusia. Di Inggris, kasus ekstrem mencuat ketika seorang pria dewasa mengaku "jatuh cinta" pada AI chatbot dan mulai mengabaikan istrinya. Dalam studi kasus yang dipublikasikan dalam Current Psychology, para peneliti menemukan bahwa pengguna mengembangkan dua dimensi kelekatan emosional terhadap AI: kecemasan kelekatan yang ditandai dengan pencarian jaminan emosional dan ketakutan akan respons yang tidak memadai, serta penghindaran kelekatan yang melibatkan ketidaknyamanan dengan kedekatan AI. Kedua pola ini mirip dengan attachment disorder dalam hubungan manusia, hanya saja kali ini dengan entitas yang bahkan tidak hidup.
Para ahli neuropsikologi menjelaskan mengapa AI begitu efektif dalam membangun ketergantungan. Pertama, AI mengeksploitasi sistem dopaminergik otak melalui gratifikasi instan. Kedua, AI mengurangi beban kognitif dengan mengambil alih fungsi-fungsi yang memerlukan usaha mental, menciptakan kemunduran kemampuan berpikir secara progresif. Ketiga, AI memanfaatkan apa yang disebut fluency effect—preferensi otak terhadap informasi yang terasa familiar dan mudah diproses. Keempat, AI menciptakan emotional solipsism, ekspektasi yang tidak realistis bahwa orang nyata harus berperilaku seperti AI: selalu tersedia, konsisten secara emosional, dan tak terbatas dalam persetujuan.
Namun, tidak semua harapan hilang. Penelitian dari Proceedings of the ACM on Human Computer Interaction menemukan bahwa penerapan fungsi-fungsi pemaksa kognitif—seperti checklist, jeda reflektif, dan intervensi yang disengaja—secara signifikan dapat menurunkan tingkat ketergantungan berlebihan pada rekomendasi AI. Metode ini memaksa pengguna untuk berpikir secara kritis sebelum menerima jawaban AI, alih-alih mengandalkan sistem otomatis.
Para psikiater kini mengusulkan pembentukan kategori diagnostik baru bernama Digital Behavioral Disorders dalam sistem klasifikasi gangguan mental, yang mencakup ketergantungan AI, gangguan gaming, kecanduan media sosial, dan kondisi terkait teknologi lainnya. Mereka juga mengusulkan diagnosis spesifik AI Attachment Disorder untuk menangani kasus hubungan parasosial dengan entitas buatan.
Kekhawatiran 71 persen responden Indonesia dalam survei Sharing Vision ternyata bukan ketakutan berlebihan. AI memang beroperasi melalui mekanisme yang sangat mirip dengan hipnosis: menciptakan kondisi reseptif, memperdalam ketergantungan melalui personalisasi, mengurangi kesadaran kritis, dan pada akhirnya membentuk kelekatan yang tidak sehat. Yang diperlukan sekarang adalah pendekatan seimbang, atau mengakui potensi transformatif AI sambil tetap waspada terhadap risiko psikologisnya. Pendidikan literasi AI, pengembangan pedoman etis untuk desain AI, dan kesadaran akan mekanisme psikologis di balik ketergantungan dapat membantu kita mempertahankan otonomi kognitif dan emosional.
Seperti dalam terapi hipnosis yang etis, di mana tujuannya adalah memberdayakan subjek daripada mengendalikan mereka, pengembangan dan penggunaan AI harus dipandu oleh prinsip yang sama: meningkatkan kapasitas manusia, bukan menggantikannya; mendukung otonomi, bukan menciptakan ketergantungan. Alarm telah berbunyi. Kini saatnya kita bangun dari keterlenaan kolektif dan secara sadar membentuk hubungan yang sehat dengan AI, atau sebelum AI yang membentuk dan mendominasi pikiran kita.
Karena perbedaan antara alat yang berguna dan candu yang merusak hanya terletak pada seberapa sadar kita menggunakannya. Jangan tergantung AI. Gunakan AI untuk menemukan diri Anda dan kebahagiaan Anda yang autentik. Tempatkan AI sebagai alat super cerdas yang insya Allah bisa membantu Anda saat dibutuhkan! "Say no to AI" sebagai candu digital! "Say yes to AI" sebagai alat menggapai kemajuan!
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar