AI sebagai alat tingkatkan kesejahteraan rakyat

AI sebagai alat tingkatkan kesejahteraan rakyat

Peran Kecerdasan Buatan dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, M. Fauzan Adziman menekankan bahwa kecerdasan buatan (AI) harus menjadi alat strategis untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Ia menegaskan bahwa AI tidak boleh hanya dianggap sebagai tujuan pengembangan teknologi semata, melainkan sebagai sarana yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“AI bukanlah tujuan akhir. Sebaliknya, AI berfungsi sebagai alat yang sangat kuat dan strategis, sebuah enabler, untuk mencapai peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia secara menyeluruh,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada awal Desember 2025.

Dengan tujuan tersebut, ia berharap agar pengembangan penelitian tentang AI tidak hanya unggul secara teknis dan komersial, tetapi juga berlandaskan tata kelola yang baik, etika yang jelas, dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Pemerintah mendorong penerapan kolaborasi antara akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, dan media sebagai arsitektur solusi inovasi AI yang inklusif dan bertanggung jawab. Harapannya, kolaborasi ini akan menjadikan pengembangan AI di Indonesia lebih bertanggung jawab dan inklusif. “Dengan mengantisipasi bias data, disrupsi tenaga kerja, serta berbagai isu etika melalui dialog dan sinergi multi-pemangku kepentingan,” katanya.

Pemanfaatan AI dalam Riset Kesehatan

Pemanfaatan AI semakin menonjol dalam riset kesehatan di Indonesia. Hal ini terlihat pada ajang Ristek Kalbe Science Awards (RKSA) 2025, di mana dua dari tiga penelitian terpilih mengusung inovasi berbasis AI untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan memperluas akses layanan medis.

Sebelumnya, sebanyak 420 judul penelitian yang dikurasi dalam program RKSA 2025. Penyelenggaraan RKSA tiap dua tahun untuk mendukung riset dan inovasi dalam bidang kesehatan yang menjadi salah satu fokus pemerintah. Fokus bidang penelitian RKSA 2025 adalah pharma & biopharma, allogeneic cell therapy, e-health, medical devices, diagnostics, health, food & beverages, dan natural products. Tahun ini, RKSA juga mendorong penelitian yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau kecerdasan buatan (AI).

Pemenang RKSA 2025

Pemenang pertama RKSA 2025 adalah Achmad Himawan dari Universitas Hasanuddin. Ia mengambil tema riset AI-assisted Diagnostics of Atopic Dermatitis: Combination of Photographic Recognition and Transdermal Biomarker Sampling To Replace Dated Clinical Scoring. Lalu kedua ada Aulia Arif Iskandar dari Swiss German University. Aulia meneliti soal Perangkat EKG Cerdas 5-Lead Portabel dengan AI untuk Skrining Kardiovaskular secara Real-time. Ketiga ada Widiastuti Setyaningsih dari Universitas Gadjah Mada. Widiastuti meneliti soal Hilirisasi Tablet Effervescent Kombucha Rosella sebagai Minuman Fungsional Antidiabetik dengan Integrasi Kalibrasi AI-NIR untuk Pengendalian Mutu Real-Time.

Pentingnya Kualitas Riset dalam RKSA

Ketua Dewan Juri RKSA 2025 Amin Soebandrio dalam pemilihan pemenang, menekankan pentingnya kualitas riset yang terintegrasi dengan misi kemandirian dalam bidang kesehatan untuk mendukung ketahanan nasional. Selain itu, riset juga akan dilihat seberapa mudah proses aplikasinya dan bagaimana pemahaman perspektif regulasi. “Kami utamakan riset yang bisa dihilirisasi dan dikomesialisasi sesuai ketentuan,” katanya.

Agar bisa diaplikasi ke masyarakat, penjurian pun melibatkan akademisi, pemerintah dan juga industri.

Harapan untuk Sains dan Teknologi

Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Junaidi Khotib berharap agar sains dan teknologi bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menyampaikan bahwa penelitian-penelitian hasil RKSA diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai permasalahan di bidang kesehatan serta memberikan dampak yang luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Irawati Setiady mengatakan RKSA 2025 harapannya bisa memperkuat riset nasional. Kalbe meyakini bahwa Indonesia memiliki banyak potensi inovasi sains dan teknologi. Melalui RKSA, Kalbe menjembatani sinergi antara industri dan peneliti sekaligus mempercepat hilirisasi. “Tujuannya adalah agar penerapan riset memiliki hasil berupa produk dan jasa yang bermanfaat, baik secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat Indonesia,” kata Irawati Setiady.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan