
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Kenaikan Tarif Impor Meksiko Tidak Berdampak pada Indonesia
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa kebijakan kenaikan tarif impor yang akan diterapkan oleh Meksiko tidak akan berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Airlangga saat berada di kantornya di Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Menurut Airlangga, kebijakan tersebut hanya berlaku untuk barang-barang yang masuk ke pasar Meksiko. Sementara itu, Indonesia tidak memiliki ketergantungan impor yang besar dari negara tersebut. "Kalau itu kan terhadap barang yang masuk ke Meksiko jadi buat Indonesia enggak (berdampak)," ujarnya.
Saat ini, pemerintah Indonesia belum memiliki rencana negosiasi khusus seperti yang dilakukan antara Indonesia dan Amerika Serikat terkait kebijakan tarif. Namun, Airlangga menekankan bahwa pihaknya tetap mengawasi perkembangan situasi secara dekat.
Perubahan Tarif Impor di Meksiko
Sebelumnya, Senat Meksiko pada Rabu (10/12/2025) menyetujui kenaikan tarif hingga 50 persen tahun depan untuk impor dari China dan beberapa negara Asia lainnya. Tujuan dari kenaikan tarif ini adalah untuk memperkuat industri lokal Meksiko, meskipun mendapat penentangan dari kelompok bisnis setempat.
Dikutip dari Reuters, Kamis (11/12/2025), keputusan tersebut, yang sebelumnya telah disahkan oleh majelis rendah, akan menaikkan atau memberlakukan bea masuk baru hingga 50 persen mulai tahun 2026. Tarif ini akan diberlakukan pada barang-barang tertentu seperti mobil, suku cadang mobil, tekstil, pakaian, plastik, dan baja dari negara-negara tanpa perjanjian perdagangan dengan Meksiko, termasuk China, India, Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia.
Sebagian besar produk akan dikenakan tarif hingga 35 persen. Senat Meksiko mengesahkan RUU tersebut dengan 76 suara mendukung, 5 menentang, dan 35 abstain. RUU yang disetujui lebih lunak daripada RUU yang terhenti di majelis rendah musim gugur ini, dengan tarif pada sekitar 1.400 lini produk yang berbeda, yakni sebagian besar tekstil, pakaian, baja, suku cadang otomotif, plastik, dan alas kaki, serta pengurangan bea masuk pada sekitar dua pertiga dari produk tersebut dibandingkan dengan proposal aslinya.
Dampak pada Perekonomian Indonesia
Meskipun kenaikan tarif impor Meksiko bisa saja berdampak pada ekspor Indonesia, Airlangga menekankan bahwa Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasar Meksiko. Hal ini membuat dampak dari kebijakan tersebut relatif kecil. Pemerintah juga terus memantau situasi ini dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan jika ada perubahan signifikan.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga sedang menjajaki berbagai kesepakatan perdagangan dengan negara-negara lain untuk mengurangi ketergantungan pada satu pasar. Dengan demikian, walaupun ada perubahan dalam kebijakan tarif di berbagai negara, Indonesia tetap dapat menjaga stabilitas ekonominya.
Langkah Strategis Pemerintah
Pemerintah Indonesia juga sedang memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara lain melalui berbagai inisiatif seperti kerja sama bilateral dan multilateral. Dengan adanya diversifikasi pasar ekspor, Indonesia mampu mengurangi risiko yang muncul akibat perubahan kebijakan tarif di negara-negara tujuan ekspor.
Selain itu, pemerintah juga fokus pada pengembangan industri dalam negeri agar dapat bersaing di pasar global. Dengan meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk, Indonesia dapat memperkuat posisi ekonominya di tengah tantangan global.
Kesimpulan
Kenaikan tarif impor yang diberlakukan oleh Meksiko tidak akan berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Meskipun begitu, pemerintah tetap memantau situasi ini dan siap mengambil langkah-langkah strategis jika diperlukan. Dengan diversifikasi pasar ekspor dan pengembangan industri dalam negeri, Indonesia dapat menjaga stabilitas ekonominya di tengah dinamika global.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar