
Peran Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Asia Timur
Perluasan ketegangan antara Tiongkok dan Jepang di kawasan Asia Timur telah menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas regional. Respons agresif Tiongkok terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menganggap skenario serangan Tiongkok terhadap Taiwan sebagai ancaman bagi negaranya, memicu berbagai tindakan penguatan posisi Tiongkok. Tindakan tersebut mencakup diplomasi, ekonomi, dan keamanan.
Beberapa langkah yang dilakukan Tiongkok meliputi: * Pemanggilan warga Tiongkok untuk tidak berkunjung ke Jepang. * Pembatasan impor makanan laut dari Jepang. * Aktivitas militer di sekitar Kepulauan Senkaku. * Penguncian radar pengendali tembakan pesawat tempur Tiongkok ke arah pesawat Jepang di dekat kepulauan Okinawa.
Pandangan Akademisi tentang Netralitas Indonesia
Para akademisi, pemerhati hubungan internasional, serta praktisi pertahanan sepakat bahwa Indonesia harus tetap menjaga netralitas dalam menghadapi situasi ini. Hal ini disampaikan dalam diskusi ilmiah “Menghadapi Risiko Eskalasi di Indo Pasifik: Strategi Indonesia Menjaga Kepentingan Nasional di Tengah Rivalitas China-Jepang,” yang diselenggarakan Fakultas Strategi Pertahanan (FSP) Universitas Pertahanan (Unhan) dan Forum Sinologi Indonesia (FSI).
Chaula Rininta Anindya, PhD, pengajar Program Studi Hubungan Internasional Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa respons agresif Tiongkok bukanlah hal baru. Contohnya, saat konflik dengan Korea Selatan terkait penempatan THAAD, Tiongkok juga melakukan himbauan kepada warganya untuk menghindari perjalanan ke Korea Selatan, pelarangan produk dan entertainment asal Korea, serta tekanan militer.
Johanes Herlijanto, pemerhati China dan dosen pada Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH), menilai ada beberapa faktor di balik respons keras Tiongkok. Pertama, isu Taiwan sangat sensitif bagi Beijing karena berkaitan dengan legitimasi Partai Komunis China (PKC). Kedua, Jepang dianggap sebagai antagonis oleh Tiongkok melalui narasi sejarah dan budaya populer. Ketiga, kondisi internal Tiongkok yang tidak stabil juga menjadi alasan.
Strategi Netralitas dan Bebas Aktif Indonesia
Menurut Johanes, sikap netralitas dan strategi bebas aktif Indonesia patut diapresiasi. Dukungan terhadap salah satu kubu tidak sejalan dengan kepentingan Indonesia karena situasi dapat berubah seiring waktu. Ia menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan geopolitik di kawasan.
Dekan Fakultas Strategi Pertahanan Unhan, Mayor Jenderal TNI Oktaheroe Ramsi, mengakui kompleksitas keamanan di kawasan Asia Pasifik akibat rivalitas antara Tiongkok dan Jepang. Ia menyebut adanya potensi dampak bagi Indonesia, termasuk jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang cukup besar di Taiwan dan Jepang.
Mayjen Oktaheroe menilai Indonesia harus tetap menjaga netralitas dengan prinsip non-blok, serta menjalin persahabatan dengan semua pihak. Ia juga mendorong Indonesia memanfaatkan peran ASEAN sebagai stabilizer kawasan.
Pentingnya Kemampuan Militer dan Strategi Pertahanan
Laksamana Pertama TNI Oka Wirayudhatama menjelaskan arti strategis Taiwan dalam kancah geopolitik. Lokasi Taiwan berada dalam "rantai pertahanan pertama" Tiongkok dalam menghadapi ancaman dari luar. Selain itu, Taiwan menjadi zona penyangga bagi ekspansi Angkatan Laut Tiongkok. Di sisi ekonomi, Taiwan memiliki peran penting dalam rantai pasokan semikonduktor global.
Laksma Oka juga menekankan pentingnya Indonesia menciptakan "ambiguitas strategis" agar kubu yang bersaing kesulitan menilai keberpihakan Indonesia. Analogi yang digunakan adalah "mendayung di antara dua karang", sebuah strategi jitu dalam politik luar negeri Indonesia.
Perspektif Profesor Anak Agung Banyu Perwita
Profesor Anak Agung Banyu Perwita menilai pentingnya memahami sudut pandang Tiongkok dalam memperoleh gambaran menyeluruh tentang postur geopolitik di Asia Timur dan Asia Tenggara. Ia menekankan pentingnya menjaga sentralitas ASEAN dalam menghadapi ketegangan yang berkembang, serta tetap aktif dalam inisiatif multilateral.
Ia juga menekankan pentingnya Indonesia untuk mengedepankan nasionalisme ekonomi secara selektif, termasuk membangun kemandirian ekonomi secara selektif.
Kesimpulan
Situasi geopolitik yang memanas di kawasan Asia Timur memerlukan pendekatan yang hati-hati dan strategis dari Indonesia. Dengan menjaga netralitas, memperkuat kemampuan militer, dan memanfaatkan peran ASEAN, Indonesia dapat memastikan kepentingan nasionalnya tetap terjaga tanpa terlibat langsung dalam konflik antara Tiongkok dan Jepang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar