Akhir 2025: Teknologi Canggih, Manusia Bingung, Ini Zaman AI atau Ikut-ikutan?

Akhir 2025: Teknologi Canggih, Manusia Bingung, Ini Zaman AI atau Ikut-ikutan?

Perkembangan Teknologi di Tahun 2025

Menjelang akhir tahun 2025, perkembangan teknologi terasa semakin pesat dan sering kali membuat masyarakat merasa kewalahan. Hampir semua aspek kehidupan sehari-hari kini dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (AI), mulai dari bangun tidur hingga akan tidur kembali. Ponsel pintar, rumah pintar, jam tangan pintar, bahkan mobil pun kini memiliki fitur canggih yang memudahkan kehidupan. Namun, banyak orang bertanya dalam hati: apakah ini era AI atau hanya era ikut-ikutan?

Selama tahun 2025, teknologi tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, tetapi menjadi penentu cara hidup. AI kini mengatur pekerjaan, menyarankan gaya hidup, memantau kesehatan, hingga menentukan pilihan hiburan. Banyak orang merasa terbantu oleh teknologi, tetapi tidak sedikit pula yang merasa “dikejar-kejar” oleh perkembangan ini.

Fenomena ini sangat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Saat bangun pagi, jam tangan pintar memberi pengingat. Masuk rumah, lampu menyala otomatis. Membuka ponsel, aplikasi sudah menyarankan apa yang harus dibaca, ditonton, bahkan dibeli. Semuanya terasa praktis, tetapi juga membuat manusia semakin jarang mengambil keputusan sendiri.

Di media sosial, respons publik beragam. Ada yang kagum, ada yang tertawa, dan ada pula yang merasa lelah. Candaan seperti “hidup sekarang diset AI” atau “salah dikit langsung disaranin” menjadi gambaran keresahan sekaligus humor khas masyarakat digital.

Bagi generasi muda, teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Namun bagi sebagian masyarakat, terutama di daerah, perkembangan ini datang terlalu cepat. Belum sepenuhnya memahami teknologi lama, sudah hadir teknologi baru yang lebih kompleks.

Di sisi lain, teknologi juga membuka peluang besar. Akses informasi lebih luas, peluang usaha digital terbuka, pendidikan bisa dijangkau lebih jauh. AI dan internet memungkinkan masyarakat daerah terhubung dengan dunia luar tanpa harus pindah tempat.

Namun tantangan juga tak kalah besar. Literasi digital menjadi kunci. Tanpa pemahaman yang cukup, masyarakat berisiko hanya menjadi pengguna pasif, mengikuti tren tanpa tahu manfaat dan risikonya. Teknologi yang seharusnya membantu justru bisa membingungkan.

Para pengamat menilai, 2025 adalah masa transisi. Manusia sedang belajar hidup berdampingan dengan teknologi yang semakin pintar. Adaptasi menjadi kata kunci. Bukan menolak teknologi, tapi juga tidak menyerahkan semua keputusan kepada mesin.

Bagi wilayah seperti Flores dan daerah lain di Indonesia, tantangan adaptasi ini terasa nyata. Akses teknologi mulai terbuka, namun pendampingan dan edukasi masih dibutuhkan. Teknologi harus hadir sebagai alat pemberdayaan, bukan sekadar tren.

Menjelang 2026, satu hal menjadi jelas: teknologi akan terus berkembang, suka atau tidak. Yang menentukan dampaknya bukan seberapa canggih teknologinya, tetapi seberapa siap manusia menggunakannya dengan bijak.

Akhir tahun 2025 pun menjadi momen refleksi. AI boleh pintar, perangkat boleh canggih, tapi manusia tetap harus memegang kendali. Jangan sampai teknologi mengatur hidup sepenuhnya, sementara manusia hanya ikut-ikutan sambil bingung.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan