
Amerika Serikat Melakukan Ratusan Operasi Militer di Berbagai Wilayah Dunia Tahun 2025
Pada tahun 2025, Amerika Serikat kembali menjadi perhatian dunia setelah meluncurkan serangkaian operasi militer yang mencakup berbagai wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Washington tetap didominasi oleh penggunaan kekuatan militer meskipun presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan dirinya sebagai “presiden perdamaian”.
Daftar Negara yang Dibom oleh Amerika Serikat pada Tahun 2025
Berikut adalah daftar negara-negara yang menjadi target serangan militer AS selama tahun 2025:
1. Venezuela dan Kawasan Karibia
Amerika Serikat mengonfirmasi telah menyerang sebuah fasilitas dermaga di wilayah Venezuela pada akhir 2025. Serangan ini menandai aksi militer pertama AS di daratan Venezuela sejak Washington mulai menargetkan kapal-kapal Venezuela di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur pada September 2025.
Presiden Donald Trump mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan karena adanya aktivitas penyelundupan narkoba. Namun, beberapa laporan menyebut bahwa Venezuela bukan sumber utama narkotika lintas negara. Human Rights Watch melaporkan sedikitnya 95 orang tewas akibat serangan terhadap kapal-kapal kecil di Karibia dan menuduh Amerika Serikat melakukan “pembunuhan di luar proses hukum”.
Serangan AS ke Venezuela terus berlanjut hingga awal Januari 2026 yang berujung pada operasi militer berskala besar dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026). Maduro diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan di pengadilan federal Amerika Serikat, sebuah langkah yang memicu kecaman keras dari pemerintah Venezuela.
2. Nigeria
Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Nigeria pada Hari Natal, 25 Desember 2025. Trump menyebut serangan tersebut sebagai aksi “kuat dan mematikan” terhadap kelompok yang diklaim berafiliasi dengan ISIS di Negara Bagian Sokoto, Nigeria barat laut. Serangan ini menjadi aksi militer kinetik pertama Amerika Serikat yang diketahui terjadi di Nigeria.
3. Somalia
Amerika Serikat secara signifikan meningkatkan serangan udara di Somalia sepanjang 2025. Washington menargetkan kelompok al-Shabab dan ISIS-Somalia, dua kelompok bersenjata yang aktif di wilayah tersebut. Sedikitnya 111 serangan tercatat dilakukan AS di Somalia tahun ini, menurut lembaga pemantau konflik. Investigasi Drop Site News mengungkap sedikitnya 11 warga sipil, termasuk tujuh anak-anak, tewas dalam serangan AS di wilayah Lower Juba pada Desember 2025.
4. Suriah
Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke 70 lokasi ISIS di Suriah pada 19 Desember 2025. Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas penembakan di Palmyra yang menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut serangan tersebut sebagai “deklarasi balas dendam” terhadap ISIS.
5. Iran
Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran pada 22 Juni 2025. Serangan tersebut menargetkan Natanz, Isfahan, dan Fordow, yang terlibat dalam pengayaan uranium. Trump mengatakan serangan itu bertujuan menghentikan “ancaman nuklir” Iran. Iran mengonfirmasi kerusakan besar pada fasilitas nuklirnya dan membalas dengan serangan simbolis ke pangkalan AS di Qatar.
6. Yaman
Amerika Serikat terus menggempur kelompok Houthi di Yaman sepanjang awal 2025. Serangan meningkat menjadi hampir setiap hari pada Maret 2025 dalam operasi bernama Operation Rough Rider. Serangan AS menghantam pelabuhan, bandara, sistem radar, lokasi peluncuran rudal, hingga pusat penahanan migran. Kementerian Kesehatan Yaman menyebut sedikitnya 123 orang tewas, sebagian besar warga sipil.
7. Irak
Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Provinsi Anbar, Irak, pada 13 Maret 2025. Serangan tersebut menewaskan wakil pimpinan ISIS, Abdallah “Abu Khadijah” al-Rifai. Perdana Menteri Irak menyebut al-Rifai sebagai “salah satu teroris paling berbahaya di Irak dan dunia”.
Kritik terhadap Kebijakan Militer Trump
Trump sebelumnya berjanji akan mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik asing. Namun, Sarang Shidore dari Quincy Institute menilai kebijakan Trump “kurang didukung diplomasi jangka panjang”. Serangan-serangan Amerika Serikat sepanjang 2025 menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Washington masih sangat bertumpu pada kekuatan militer di tengah dinamika geopolitik global.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar