Analisis Kebakaran Mobil Listrik: Teknologi vs Pendidikan


JAKARTA, nurulamin.pro – Kasus mobil listrik yang terbakar belum lama ini menjadi perhatian masyarakat luas. Berbagai pihak mulai mempertanyakan penyebab dan risiko dari penggunaan kendaraan berbasis listrik tersebut. Menurut pandangan para ahli otomotif, dua faktor utama yang menyebabkan kejadian ini adalah teknologi yang belum sepenuhnya matang serta kurangnya edukasi terhadap pengguna.

Kasus Terbaru

Beberapa waktu lalu, terjadi kebakaran di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Insiden tersebut menewaskan lima orang dan menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna mobil listrik. Kebakaran diduga berasal dari percikan api saat proses pengecasan mobil listrik di rumah tersebut. Percikan api itu kemudian mengenai minyak thinner dan cat yang digunakan untuk membuat aksesori vas bunga.

Selain itu, rumah tersebut juga digunakan sebagai tempat usaha, sehingga meningkatkan risiko kebakaran akibat penggunaan alat-alat elektronik dan bahan-bahan kimia.

Dugaan Penyebab

Menurut Yannes Martinus Pasaribu, seorang pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kasus ini. Ia menyoroti instalasi soket home charging yang digunakan. "Kita tidak pernah tahu siapa yang memasang soket ini. Apakah bersertifikat atau hanya main-main," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sistem charging memiliki tegangan tinggi, sehingga jika instalasi tidak sesuai standar, bisa menimbulkan bahaya. "Colokannya ini jangan-jangan menggunakan logika sederhana, satu kabel multi sakelar. Tapi, itu belum diketahui, menunggu hasil kepolisian," tambahnya.

Yannes juga menyampaikan bahwa jika baterai LFP mengalami thermal runaway, berarti suhu mencapai di atas 220 derajat Celcius. "Itu tidak bisa diatasi oleh api biasa, artinya ada bahan kimia lain yang membantu api semakin besar," katanya.

Teknologi dan Edukasi

Yannes menambahkan bahwa teknologi mobil listrik masih dalam proses pengembangan. Berbeda dengan mobil bensin yang sudah berkembang selama lebih dari 100 tahun. "Kita lihat saja baterai sekarang terus berkembang. Harga makin murah, waktu pengecasan makin singkat, jarak tempuh makin bertambah. Bisa jadi tahun depan lebih maju," ujarnya.

Namun, ia menilai masyarakat masih menggunakan logika seperti mobil bensin. "Orang-orang awam, karena tidak ada edukasi, jalan. Ini perlu peran pemerintah, harusnya pemerintah yang memberikan edukasi," tambahnya.

Kesimpulan

Dari semua analisis tersebut, Yannes menekankan bahwa transisi ke kendaraan listrik tidak bisa hanya mengandalkan kemajuan teknologi. Edukasi kepada masyarakat, khususnya tentang instalasi pengisian daya dan aspek keselamatan, menjadi kunci agar risiko serupa tidak terulang. Pemerintah dan lembaga terkait perlu lebih aktif dalam memberikan informasi dan pelatihan yang cukup kepada pengguna mobil listrik. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih waspada dan menghindari kejadian berbahaya yang bisa terjadi akibat kesalahan penggunaan atau instalasi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan