
Momen Akhir Tahun yang Penuh Perubahan
Akhir tahun ini akan menjadi momen penting bagi masyarakat, terutama dalam hal Harbolnas dan liburan akhir tahun. Secara umum, tren untuk healing dan self reward akan meningkat. Namun, kondisi ekonomi yang tidak stabil serta bencana banjir di Sumatra akan memengaruhi realisasi Harbolnas dan aktivitas wisata.
Bulan Desember bukan hanya momen pergantian tahun, tetapi juga waktu liburan yang panjang bagi banyak pekerja. Ada hari raya Natal dan Tahun Baru yang membuat banyak orang memiliki kesempatan untuk berlibur. Dalam tradisi, periode ini sering kali meningkatkan konsumsi masyarakat karena adanya banyak promo pada tanggal-tanggal spesial seperti 12.12, yang juga menjadi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas).
Selain itu, banyak orang memanfaatkan liburan untuk melakukan perjalanan wisata, baik ke dalam maupun luar negeri. Sepanjang bulan ini, masyarakat sering mengabadikan momen dengan menggunakan hashtag seperti healing, hidden gem, diskon gajian, diskon akhir tahun, self-reward, atau promo belanja bareng bestie.
Namun, sepanjang tahun ini juga terjadi banyak dinamika negatif. Kondisi ekonomi secara keseluruhan sedang tidak stabil, terlihat dari banyaknya pemutusan hubungan kerja. Selain itu, bencana banjir bandang yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra juga memberikan dampak signifikan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi bahwa banjir bandang Sumatra akan memperlambat ritme pemulihan ekonomi yang sedang digencarkan pemerintah. Ketiga provinsi terdampak yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat memiliki kontribusi sebesar 7,82% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional dari 38 provinsi yang ada.
Lalu, apakah kemeriahan Harbolnas dan wisata akhir tahun ini bisa sama seperti tahun-tahun sebelumnya? Potensi pergeseran tren belanja Harbolnas menjadi pertanyaan besar.
Perkembangan Harbolnas dan Tren Konsumsi
Peringatan Harbolnas sudah berlangsung selama 13 tahun sejak pertama kali diselenggarakan pada 12 Desember 2012. Tahun lalu, Harbolnas mencatat transaksi sebesar Rp31,2 triliun dengan fitur populer seperti live shopping dan link afiliasi. Angka tersebut naik dari 2023 yang awalnya Rp25,7 triliun meskipun meleset dari target sebesar 40 triliun. Tahun ini, pemerintah menargetkan nilai transaksi sebesar Rp35 triliun.
Namun, tahun 2025 kemungkinan akan berbeda. Bencana banjir bandang yang terjadi di sebagian besar wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara telah memberikan tekanan psikis bagi masyarakat Indonesia. Belum lagi, badai siklon yang masih mengancam dan bergeser ke Pulau Jawa, jantung ekonomi nasional.
Dalam situasi ekonomi yang tidak kondusif dan adanya bencana berskala besar, perputaran konsumsi akan bergeser pada kebutuhan pokok dan medis. Aktivitas konsumsi pun berubah dari konsumsi sekunder yang dianggap mewah menjadi konsumsi mikro yang simbolik, seperti produk wellness, perawatan diri, secangkir kopi untuk hari yang buruk, atau delivery food untuk perayaan momen bahagia di rumah.
Pengaruh Bencana pada Logistik dan Wisata
Selain pola konsumsi yang berubah, bencana juga memengaruhi aktivitas logistik. Pengiriman barang akan tersendat karena belum pulihnya titik-titik vital di kawasan terjadinya belanja yang juga merupakan titik ekonomi besar yakni Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Masyarakat enggan bepergian. Harbolnas tidak hanya menawarkan produk barang, tetapi juga jasa dan travel melalui aplikasi pemesanan online, salah satunya paket wisata yang banyak diburu di akhir tahun.
Dalam survei terbaru untuk tahun ini yang dilakukan oleh platform perjalanan online RedDoorz bertajuk Domestik vs Internasional, 86% pelancong Indonesia lebih memilih perjalanan domestik untuk mengisi libur natarunya. Namun, untuk menakar minat publik terhadap wisata diperlukan pendekatan interdisipliner yang tidak hanya terdiri dari perspektif ekonomi, tetapi juga mencakup ekologi, manajemen risiko, dan kondisi sosiokultural masyarakat dalam situasi sosioekologis yang semakin tidak pasti.
Perubahan Pola Konsumsi dan Wisata
Dalam momen ketidakpastian terhadap ancaman dan bencana, tentunya masyarakat akan menekan nafsu melancongnya. Aktivitas leisure time seperti belanja dan berwisata tidak dapat dipahami dari kerangka ekonomi sebagai sudut pandang tunggal, karena keberlangsungannya sangat ditentukan oleh situasi ekologis dan infrastruktur sosial yang menopangnya.
Risiko ekologis seperti dampak bencana hidrometeorologi akan tetap jadi faktor negatif di tengah keinginan masyarakat untuk melakukan perjalanan. Atau setidaknya calon pelancong akan melakukan riset terlebih dahulu terhadap risiko bencana daerah tujuannya.
Kesulitan dalam Menekan Dorongan Konsumsi
Intervensi pemerintah untuk puncak ekonomi emosi masyarakat di akhir tahun ini tidak bisa melalui faktor ekonominya saja. Sebab, konteks ekologi dan sosial juga bisa memengaruhi preferensi belanja dan penurunan aktivitas wisata.
Makna Harbolnas dan puncak libur akhir tahun bukan sekadar pesta diskon, tetapi cermin dari dinamika sosial ekonomi Indonesia. Untuk bisa menjamin output yang diinginkan dari ekonomi emosi, diperlukan pemahaman dengan pendekatan multi-disiplin yang melihat hubungan antara ekonomi, psikologi, budaya, dan kondisi lingkungan.
Di akhir tahun, banyak orang terdorong melepas penat dari rutinitas yang serba cepatsalah satunya dengan berbelanja. Sementara bagi sebagian lainnya, ini jadi waktu yang pas untuk menjalani hidup lebih pelan. Tapi, hal ini seringkali cuma sementaraemosi yang muncul pun terputus-putus dan cenderung berulang saat rutinitas kembali menghantam.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar