Andil Purbaya Yudhi Sadewa Lobi Pegatron Hingga Berlabuh di Batam

Andil Purbaya Yudhi Sadewa Lobi Pegatron Hingga Berlabuh di Batam

Pegatron Memperluas Bisnis di Kota Batam

Pegatron, perusahaan manufaktur elektronik asal Taiwan yang juga merupakan produsen iPhone terbesar kedua setelah Foxconn, kini memperluas sayap bisnisnya ke Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Perusahaan ini melalui anak usahanya, PT Pegaunihan Technology Indonesia, telah beroperasi sejak Kamis (24/4/2025) di Jalan Markisa Lot 127 - Lot 138, Kawasan Industri Batamindo, Kelurahan Muka Kuning, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam.

Grand opening perusahaan ini turut dihadiri oleh beberapa pejabat penting seperti Walikota Batam, Amsakar Achmad; Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Batam hingga Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan Indonesia, Yusril Ihza Mahendra.

Pegatron fokus pada desain dan manufaktur berbagai produk elektronik, termasuk peralatan rumah tangga dan produk dekorasi rumah. Selain produk elektronik 3C, perusahaan ini juga mendesain peralatan rumah tangga seperti TV LCD, lampu LED, dan telepon.

Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sosok di balik perusahaan raksasa asal Taiwan itu merubah rencana bisnisnya di Batam. Salah satu tokoh yang turut berkontribusi adalah Purbaya Yudhi Sadewa, yang kini menjabat Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu RI).

Cerita ini terungkap saat Purbaya menjawab pertanyaan dari Menteri Perdagangan Republik Indonesia (2011-2014) saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gita Wirjawan dalam tayangan YouTube-nya. Dalam sesi tersebut, Purbaya mengungkapkan bagaimana ia mengundang Pegatron ke Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Purbaya bertemu dengan Chief Information Officer (CIO) perusahaan yang memiliki penjualan sebesar 47 miliar dolar dalam satu tahun. "CIO-nya perempuan kebetulan waktu itu. Emang bukan bidang saya. Saya berangkat aja, disuruh," ucap Purbaya yang dikenal sebagai Menteri 'Koboi' itu.

Dalam diskusi itu, Purbaya menanyakan rencana mereka memindahkan 10 persen kapasitas produksi mereka dari Cina ke sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Ketika itu, mereka sudah memilih lima Negara, namun tidak ada nama Indonesia di sana. "Udah. sudah pilih lima Negara. Indonesia gak masuk. Saya bilang, ya udah selamat kamu dapat Negara yang bagus," ujarnya.

Purbaya kemudian bertanya kepada CIO Pegatron itu, apa yang diberi Negara itu sampai perusahaan memilih lima Negara tersebut. Dalam pertemuan itu, perwakilan manajemen perusahaan menyebut ada delapan hal yang membuat mereka tertarik. Purbaya tak menjelaskan secara detail apa saja delapan hal itu.

"Saya investor yang serius. Kalau ada insentif yang bagus, saya akan masuk," ucapnya menirukan perkataan CIO Pegatron ketika itu. Mendengar itu, Purbaya langsung ambil sikap dengan memberi semua hal yang perwakilan perusahaan itu sebutkan.

CIO Pegatron itu pun terkejut mendengar pernyataan Purbaya ketika itu. Dalam waktu sepekan, mereka akhirnya memutuskan untuk pindah ke Batam. "Ya udah, saya kasih semua yang Anda minta tadi. Saya authorized dan saya kasih sekarang untuk Anda. Dia kaget. Saya dari Kementerian yang serius. Saya kasih itu dan saya autorized. Saya kasih yang Anda sebutkan semua," bebernya.

Semuanya tak berjalan manis. Kendala muncul ketika Purbaya kembali melobi agar perusahaan itu memindahkan kapasitas produknya semua ke Indonesia. Mereka menanyakan ketersediaan insinyur untuk merealisasikan target kapasitas produksi mereka. Untuk ini saja, mereka memerlukan sedikitnya 150 engineer.

Ketika itu, Purbaya menjawab lantang dengan menyatakan kesiapannya. Termasuk memfasilitasi perusahaan bekerja sama dengan sejumlah sekolah di Indonesia. "Tapi iya, supply kita gak cukup banyak untuk menyerap mereka. Tantangannya seperti itu," sebutnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan