
SURABAYA, nurulamin.pro
– Organisasi Masyarakat Madura Asli (Madas) memberikan pernyataan resmi terkait video yang viral beberapa waktu lalu. Video tersebut menampilkan salah satu anggota organisasi yang berjanji akan memberikan 10 rumah dan satu karung emas kepada nenek Elina Wijayanti. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap kritik dan hujatan netizen pasca kejadian pembongkaran rumah sang nenek.
Dalam video yang beredar, Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) Madas, Nurul Huda, mengajukan tantangan kepada Wakil Wali Kota Surabaya Armuji. Ia menawarkan imbalan besar jika Armuji dapat menjawab sebuah pertanyaan dengan benar untuk nenek Elina.
“Jika Bapak (Armuji) bisa menjawab dengan benar, saya akan membangunkan 10 rumah untuk nenek itu dan memberikan satu karung emas,” ujar Huda dengan nada marah dalam video tersebut.
Respons atas stigma
Nurul Huda menjelaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan bentuk luapan emosi akibat stigma negatif yang terus-menerus dialami masyarakat Madura di media sosial. Ia merasa bahwa tuduhan-tuduhan yang berkembang saat ini sangat menyudutkan organisasinya serta warga Madura secara keseluruhan.
“Tidak lebih dan tidak kurang, ini hanya bentuk melupakan emosi kami terhadap tuduhan-tuduhan yang terus-menerus menyerang kami dan seluruh masyarakat Madura,” jelas Huda.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas kritik tegas yang diberikan oleh berbagai pihak, termasuk dari praktisi hukum, terkait opini-opini yang ia keluarkan dalam video tersebut.
Lakukan evaluasi
Menanggapi kegaduhan ini, Ketua Umum DPP MADAS Sedarah, Moh Taufik, menegaskan bahwa pernyataan Nurul Huda tidak mewakili sikap resmi organisasi. Ia menyebut janji 10 rumah dan satu karung emas itu murni merupakan pendapat pribadi.
“Itu hanya (opini) pribadi, bukan mengatasnamakan organisasi,” ujar Taufik saat dikonfirmasi oleh nurulamin.pro, Sabtu (3/1/2026).
Taufik menjelaskan bahwa segala hujatan yang diterima Madas belakangan ini akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki diri. Ia menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk melakukan klarifikasi sebelum menilai buruk sebuah organisasi.
“Coba diklarifikasi, ditanyakan, apakah betul dari Madas atau tanyakan minimal KTA-nya (Kartu Tanda Anggota). Apakah ada tertulis tanda anggotanya dan apa betul itu kegiatan dalam keorganisasian Madas,” katanya.
Pihaknya berharap ke depan ormas Madas bisa lebih solid dan melakukan hal terbaik bagi masyarakat, meski ia menyadari bahwa niat baik tidak selalu dinilai positif oleh orang lain.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar