
Anggun C. Sasmi: Bangga dengan Kulit Keturunan Jawa dan Menolak Tren Pemutih
Anggun C. Sasmi, seorang diva internasional asal Indonesia, telah lama menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama dalam hal kepercayaan diri dan penghargaan terhadap keunikan kulit. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa ia tidak tertarik pada tren pemutih atau standar kecantikan yang memaksakan kulit harus semakin cerah.
Kepercayaan Diri dan Penghargaan terhadap Warna Kulit Asli
Di tengah maraknya tren pemutih dan standar kecantikan yang sering kali mengarah pada perubahan warna kulit, Anggun justru bangga dengan warna kulit keturunan Jawa-nya. Ia menyatakan bahwa tone kulit asli ini sangat diidamkan oleh banyak orang di luar negeri.
“Kulitku bukan putih karena aku dari Jawa, dan ini justru warna kulit yang dicari di mana-mana,” ujarnya dalam acara pengenalan brand ambassador W3B Selfcare di Jakarta Selatan. Ia juga menegaskan bahwa orang luar negeri sering kali ingin memiliki kulit seperti miliknya.
Anggun menekankan bahwa perempuan tidak perlu merasa harus menutupi kekurangan mereka melalui makeup atau tindakan medis yang berlebihan. Bahkan, ia secara tegas menolak penggunaan krim pemutih, suntik putih, atau operasi wajah.
“Perempuan kalau makeup jangan menutupi diri sendiri, tapi menggarisbawahi kecantikan. Kita harus percaya diri dengan kulit kita,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa yang lebih penting adalah memiliki kulit yang sehat, bukan sekadar cerah.
Standar Kecantikan yang Subjektif
Menurut Anggun, standar kecantikan seharusnya tidak membuat seseorang merasa harus mengubah bentuk atau warna kulitnya. “Cantik itu subjektif. Yang penting kepercayaan diri kita, dan itu datang dari kesehatan kulit,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ia tidak pernah menggunakan botox atau filler. “Aku nggak pakai botox, filler, apa-apa,” tambahnya.
Jejak Karier yang Menginspirasi
Anggun C. Sasmi memulai karier internasionalnya sejak pertengahan 1990-an. Setelah sukses di Indonesia dan bahkan mendirikan perusahaan rekaman sendiri di usia muda, ia memutuskan untuk meninggalkan tanah air dan pindah ke Eropa pada 1994. Awalnya, ia tinggal di London, tetapi perjuangan di sana tidak mudah. Akhirnya, ia memilih pindah ke Paris, Prancis, di mana ia belajar bahasa Prancis dan membangun kembali kariernya dari awal.
Pada 1997, album internasional pertamanya Au nom de la lune dan versi internasionalnya Snow on the Sahara membawanya ke panggung dunia. Album ini menjadi pintu gerbangnya ke dunia musik internasional dan membuatnya dikenal di banyak negara.
Sejak saat itu, Anggun memilih menetap di Paris dan berkarya secara konsisten di kancah internasional. Hal ini menjadikannya salah satu artis Indonesia pertama yang benar-benar berkarir dan menyabet predikat go global.
Pengalaman di Kanada dan Pentingnya Perawatan Kulit
Pengalamannya saat menjalani syuting di Kanada saat musim panas memperkuat keyakinannya bahwa merawat kulit dengan benar jauh lebih penting daripada mengubahnya. “Di Kanada lagi musim panas, heatwave, dan ini bantu banget karena ada SPF,” ujarnya. Makeup artist sampai bertanya, “kamu pakai apa sih?” kata Anggun.
Ia juga menyampaikan bahwa perempuan Indonesia memiliki keunikan kulit yang justru dihargai di banyak negara. Ia menyayangkan adanya anggapan bahwa kulit cantik harus selalu putih. “Kita ini udah punya kulit yang eksotis, sehat, dan menarik. Jangan malah diubah jadi sesuatu yang bukan diri kita,” ungkapnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar