
Angka Kesehatan: Bukan Sekadar Nomor, Tapi Narasi yang Membentuk Pandangan Kita
Pagi itu, seperti banyak pagi lainnya, seseorang berdiri di atas timbangan. Angkanya muncul pelan-pelan, lalu berhenti. Seketika suasana hati ikut berubah. Kalau turun, senyum muncul. Kalau naik, hari terasa berat bahkan sebelum sarapan. Padahal, timbangan itu hanya benda mati. Tapi angka yang ditunjukkannya bisa mengatur emosi, rasa percaya diri, bahkan keputusan makan sepanjang hari. Di situlah kita mulai sadar: angka-angka dalam kesehatan bukan sekadar ukuran, melainkan narasi yang memengaruhi cara kita memandang tubuh sendiri.
Berat badan, tinggi badan, kadar gula darah, kolesterol, tekanan darah---semuanya angka. Kita sering menganggapnya objektif, pasti, dan final. Padahal, banyak dari angka itu sesungguhnya bersifat "imajiner" dalam arti sosial: ia adalah hasil kesepakatan ilmiah, statistik populasi, dan standar medis yang tidak selalu sepenuhnya mewakili kondisi unik setiap individu. Namun justru angka-angka itulah yang sering menjadi hakim paling galak dalam hidup kita.
Berat Badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT)
Mari mulai dari yang paling populer: berat badan dan tinggi badan. Dari dua angka ini lahir satu angka lain yang sangat berpengaruh: Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Rumusnya sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Seseorang bisa tiba-tiba dilabeli "kelebihan berat badan" atau "obesitas" hanya dari hasil hitung-hitungan ini. Padahal, banyak literatur kesehatan menyebutkan bahwa BMI tidak membedakan massa otot, lemak, dan kepadatan tulang. Atlet berotot bisa dianggap obesitas, sementara orang dengan lemak viseral tinggi bisa lolos dari kategori berisiko. Namun tetap saja, angka BMI sering menjadi pintu pertama penilaian, bahkan stigma.
Gula Darah: Angka yang Mengundang Kecemasan
Lalu ada angka gula darah. Ketika hasil cek menunjukkan angka di atas ambang "normal", panik sering datang lebih cepat daripada edukasi. Padahal, kadar gula darah sangat dipengaruhi oleh waktu pengukuran, apa yang dimakan sebelumnya, tingkat stres, kualitas tidur, hingga aktivitas fisik. Angka puasa, angka dua jam setelah makan, dan HbA1c masing-masing bercerita dengan bahasa yang berbeda. Sayangnya, yang sering terdengar hanya satu kalimat pendek: "Gulanya tinggi." Titik. Seolah tubuh hanya bisa dibaca dari satu angka, bukan dari proses panjang yang melatarinya.
Kolesterol: Angka yang Terlalu Sering Disederhanakan
Kolesterol pun tak jauh berbeda. Selama bertahun-tahun, kolesterol total dijadikan momok. Angka tertentu langsung dianggap musuh bersama. Padahal, ilmu gizi dan kardiologi terus berkembang. Kita kini mengenal LDL, HDL, trigliserida, rasio kolesterol, bahkan ukuran partikel LDL. HDL yang tinggi justru protektif, dan kolesterol juga berperan penting dalam pembentukan hormon serta fungsi sel. Tetapi di ruang percakapan sehari-hari, kolesterol tetap direduksi menjadi satu angka "tinggi" atau "normal", tanpa konteks metabolisme dan gaya hidup.
Tekanan Darah: Angka yang Bisa Menyebabkan Kecemasan
Tekanan darah mungkin adalah contoh paling nyata bagaimana angka bisa mengatur hidup. 120/80 mmHg sering disebut sebagai angka "ideal", seolah menjadi mantra kesehatan. Begitu angka bergerak sedikit ke atas, istilah "hipertensi" mulai bergaung. Padahal, tekanan darah bersifat dinamis: dipengaruhi emosi, aktivitas, waktu, bahkan suasana ruang pemeriksaan---fenomena yang dikenal sebagai white coat hypertension. Satu kali pengukuran tidak selalu cukup untuk menceritakan kondisi sebenarnya, tetapi sering kali sudah cukup untuk menimbulkan kecemasan.
Angka sebagai Alat Bantu, Bukan Vonis
Di sinilah problem utama angka-angka kesehatan: kita sering lupa bahwa angka adalah alat bantu, bukan vonis. Ia diciptakan untuk memudahkan deteksi dini dan pengambilan keputusan klinis, bukan untuk mengerdilkan kompleksitas tubuh manusia. Literatur kesehatan masyarakat dan kedokteran preventif menekankan pentingnya melihat tren jangka panjang, konteks individu, dan faktor sosial-budaya dalam membaca data kesehatan. Namun dalam praktik sehari-hari, angka sering berdiri sendiri, kaku, dan menakutkan.
Dampak Psikologis dari Fokus pada Angka
Lebih jauh lagi, angka-angka ini juga punya dampak psikologis. Penelitian tentang health anxiety menunjukkan bahwa fokus berlebihan pada angka bisa memicu stres kronis, rasa bersalah, dan hubungan yang tidak sehat dengan makanan maupun tubuh. Seseorang bisa menjadi sangat "patuh angka" tetapi kehilangan kepekaan terhadap sinyal tubuhnya sendiri: lapar, kenyang, lelah, atau butuh istirahat. Kesehatan pun berubah dari proses merawat diri menjadi proyek mengejar target numerik.
Angka sebagai Kompas, Bukan Tujuan
Bukan berarti angka harus diabaikan. Justru sebaliknya, angka penting sebagai kompas. Tapi kompas pun harus dibaca bersama peta. Angka berat badan perlu dibaca bersama lingkar perut, komposisi tubuh, dan kebiasaan hidup. Angka gula darah perlu dipahami bersama pola makan, aktivitas, dan riwayat keluarga. Tekanan darah perlu dilihat sebagai pola, bukan momen. Ketika angka ditempatkan dalam cerita yang utuh, ia menjadi sahabat, bukan algojo.
Kesehatan Bukan Soal Angka "Sempurna"
Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak angka, melainkan cara pandang yang lebih manusiawi terhadap angka. Tubuh kita bukan mesin pabrik dengan spesifikasi seragam. Ia hidup, beradaptasi, dan dipengaruhi oleh banyak hal yang tak selalu bisa ditangkap oleh alat ukur. Angka-angka kesehatan adalah bahasa sains, tetapi tubuh juga berbicara dalam bahasa rasa, kebiasaan, dan keseharian.
Kesimpulan: Kesehatan adalah Proses yang Cair dan Personal
Pada akhirnya, kesehatan bukan soal mencapai angka "sempurna", melainkan tentang menjaga keseimbangan yang masuk akal. Timbangan boleh naik turun, tensi boleh sedikit berfluktuasi, gula darah boleh sesekali melonjak. Yang penting adalah arah jangka panjang dan kualitas hidup yang menyertainya. Jadi lain kali ketika melihat hasil cek kesehatan, cobalah bertanya: angka ini sedang bercerita apa tentang hidup saya---bukan sekadar apakah ia tinggi atau rendah.
Karena di balik angka-angka yang tampak pasti itu, kesehatan sejatinya adalah proses yang cair, personal, dan sangat manusiawi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar