Angka Kematian Ibu dan Bayi di Banyumas Meningkat, 194 Kematian Bayi Hingga November 2025

Angka Kematian Ibu dan Bayi di Banyumas Meningkat, 194 Kematian Bayi Hingga November 2025

Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi di Banyumas Mengundang Perhatian Serius

Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Banyumas pada tahun 2025 menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan. Hingga November 2025, tercatat 13 ibu meninggal dunia dan 194 bayi meninggal dalam kurun waktu tersebut. Dari data ini, rata-rata kasus kematian bayi mencapai 17,6 per bulan. Artinya, hampir setiap dua hari sekali, ada satu bayi yang meninggal di wilayah ini.

Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, dr. Dany, menyampaikan bahwa meskipun penanganan stunting menunjukkan perkembangan positif, masih banyak faktor risiko yang menjadi tantangan besar. Salah satunya adalah tingginya jumlah keluarga yang memiliki kebiasaan merokok. Hal ini tidak hanya mengganggu anggaran untuk kebutuhan gizi, tetapi juga meningkatkan paparan asap rokok yang berdampak buruk bagi kesehatan anak-anak.

Faktor Risiko Stunting yang Menjadi Perhatian Utama

Stunting, atau pertumbuhan yang terhambat akibat kekurangan gizi, menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi masyarakat Banyumas. Kebiasaan merokok di lingkungan rumah tangga dinyatakan sebagai faktor risiko terbesar. Paparan asap rokok dapat memengaruhi perkembangan fisik dan mental anak-anak, termasuk pertumbuhan mereka secara keseluruhan.

Meski demikian, Banyumas mencatat hasil positif dalam penanganan stunting. Kasus baru stunting berada di bawah target sebesar 2,5 persen, sehingga kabupaten ini mendapatkan penghargaan sebagai kabupaten dengan kinerja baik dalam pencegahan stunting. Namun, Kecamatan Purwojati masih menjadi wilayah dengan insiden stunting tertinggi.

Tantangan dalam Pemberian Makanan Tambahan

Cakupan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) per November 2025 masih berada di bawah rata-rata nasional. Beberapa kendala seperti keterbatasan anggaran, sasaran yang belum terjangkau, serta variasi faktor input menjadi hambatan di lapangan. Upaya penguatan Posyandu juga menjadi fokus utama dalam menjaga kualitas layanan kesehatan masyarakat.

Posyandu saat ini menjalankan layanan kesehatan sepanjang siklus hidup, termasuk untuk lansia. Namun, beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:

  • 60 persen atau 10.213 kader belum pernah mendapat pelatihan.
  • Banyak kader berada pada usia produktif sehingga beberapa desa hanya bisa membuka Posyandu pada malam hari atau hari libur.
  • Keterbatasan alat antropometri dan kebutuhan sarana lainnya.
  • Insentif kader belum merata, meski aturan telah mengharuskannya.

dr. Dany berharap perhatian pemerintah daerah dapat meningkat, khususnya dalam pemberian insentif untuk menjaga motivasi kader Posyandu.

Peran Posyandu dan Program Pencegahan Stunting

Bupati Banyumas, Sadewo, menegaskan bahwa penurunan AKI, AKB, dan stunting harus menjadi gerakan kolektif. Ia menekankan bahwa hal ini tidak bisa dibebankan hanya pada Dinas Kesehatan. "Ini tugas kemanusiaan. Semua sektor, profesi, dan komunitas harus terlibat," ujarnya.

Sadewo juga menyoroti peran Posyandu sebagai pintu pertama pelayanan kesehatan keluarga. Ia menekankan pentingnya klinik bagi wanita usia subur dan pasangan usia subur dalam menyiapkan kehamilan sehat. Program skrining layak hamil perlu diperkuat karena mampu mendeteksi risiko sebelum kehamilan terjadi, sehingga berkontribusi pada penurunan AKI dan AKB.

Intervensi stunting kini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga balita dan ibu hamil. Program Makan Bergizi Gratis dari pemerintah pusat juga diperluas agar manfaatnya menjangkau lebih banyak kelompok rentan.

"Kita harus bekerja lebih dekat, lebih kompak, dan lebih cepat untuk menghadirkan layanan kesehatan yang berkualitas dan berdampak nyata bagi masyarakat Banyumas," ujar Bupati Sadewo.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan