Angka Stunting Jember Paling Tinggi di Jatim, Pemkab Percepat Program Pencegahan

Kabupaten Jember Menghadapi Masalah Stunting yang Tinggi

Kabupaten Jember tercatat memiliki tingkat stunting tertinggi di Jawa Timur berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DPPPAKB) Jember, Moh. Djamil, menyatakan bahwa selama tiga tahun terakhir angka stunting di wilayah ini masih mengalami fluktuasi.

Pada tahun 2022, prevalensi stunting mencapai 33,9 persen, kemudian turun menjadi 29,7 persen pada 2023, dan kembali naik sedikit menjadi 30,4 persen pada 2024 hingga 2025. Djamil menjelaskan bahwa meskipun angka ini tidak selalu berada di posisi pertama, tetapi Jember sering kali berada di posisi kedua di Jawa Timur. Hal ini menunjukkan adanya masalah yang perlu diperbaiki dalam penanganan stunting.

Upaya Pencegahan dari Hulu

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah kabupaten Jember melakukan langkah-langkah pencegahan yang dilakukan sejak dini. Fokus utama adalah pada edukasi remaja hingga calon pengantin. DinasPPPAKB memberikan sosialisasi tentang kedewasaan usia perkawinan, kesiapan mental, serta pengetahuan dasar tentang kehidupan keluarga dan pola asuh.

Salah satu pesan utama dalam sosialisasi tersebut adalah mendorong remaja untuk tidak menikah pada usia anak dan idealnya menikah minimal pada usia 21 tahun. Edukasi serupa juga diberikan kepada calon pengantin, termasuk pembekalan pola asuh anak dan pemahaman kebutuhan keluarga.

Selain itu, koordinasi dilakukan dengan Kantor Urusan Agama (KUA) dan pengadilan agama untuk memperketat pengajuan dispensasi kawin. Langkah ini bertujuan untuk menunda pernikahan anak yang berisiko melahirkan generasi dengan kerentanan gizi.

Program yang Dipercepat Sejak Era Bupati Fawait

Meski program pencegahan stunting bukan hal baru, Djamil menyatakan bahwa akselerasinya terasa meningkat pada masa kepemimpinan Bupati Jember Muhammad Fawait. Sejak kepemimpinan Muhammad Fawait, (program) masif sekali. Karena kita kan merasakan satu dekade dalam posisi melejit terus kasus stunting, ujarnya.

Upaya lapangan juga diperkuat melalui kader PKK, kader KB, dan para bidan yang bertugas melakukan pendampingan keluarga berisiko stunting di desa-desa. Dinas menggabungkan pendekatan teknis, nonteknis, hingga manajerial dalam kerangka kerja yang selaras dengan arah kebijakan penanganan stunting nasional.

Data dan Tindakan Lapangan

Berdasarkan SSGI 2024, Jember mencatat prevalensi stunting tertinggi di Jawa Timur. Namun, data penimbangan balita Dinkes Jember pada Mei 2024 menunjukkan angka di bawah 10 persen dengan lokus terbesar di Rambipuji, Pakusari, Kaliwates, dan Jelbuk.

Sejumlah pihak, termasuk kader perempuan partai dan puskesmas, turut menyiapkan intervensi hulu untuk menutup sumber penyebab stunting. Tindakan ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk mengurangi angka stunting di wilayah Jember.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan