
Pusat Kendali Digital BERANI Samporoa Diresmikan
Di detik-detik terakhir tahun 2025, Gubernur Anwar Hafid melakukan peresmian yang mengejutkan dengan mengumumkan “otak” baru pemerintahannya: Command Center BERANI Samporoa. Pusat kendali digital ini diharapkan mampu mengubah cara kerja birokrasi menjadi lebih cepat dan transparan, sekaligus menghilangkan kebiasaan lama yang sering membuat warga kesal.
Command Center BERANI Samporoa dirancang untuk memastikan setiap aduan dari masyarakat dapat ditangani secara efisien. Setiap laporan yang masuk akan langsung diberi nomor tiket, sehingga warga bisa memantau prosesnya secara real time, mirip dengan melacak pengiriman paket online. Dengan demikian, tidak ada lagi laporan yang hilang atau tertunda tanpa alasan jelas.
Salah satu fitur unggulan dari sistem ini adalah adanya mekanisme disiplin yang ketat. Terdapat fitur khusus untuk menolak laporan yang tidak relevan atau iseng. Selain itu, semua operator yang bekerja di Command Center serta di tiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) akan diberikan sistem scoring. Kecepatan dan kualitas respons mereka dinilai, dan skor buruk berarti kinerja yang tidak memenuhi standar.
Tekanan waktu sangat ketat dalam sistem ini. Operator Command Center harus merespons laporan warga dalam waktu maksimal 60 menit. Sementara itu, OPD akan dikejar sesuai dengan kompleksitas layanannya. Tidak ada ruang bagi penundaan yang tidak beralasan.
Dalam acara peresmian yang digelar pada malam hari tanggal 31 Desember, Gubernur Anwar Hafid memberikan peringatan keras kepada seluruh kepala OPD. Ia menegaskan bahwa meskipun sistem ini canggih, jika data yang dimasukkan tidak valid, maka sistem tersebut tidak akan berfungsi dengan baik. Ia memberi waktu selama tiga bulan untuk melakukan pembenahan data secara total.
Hafid juga telah menyiapkan langkah-langkah berikutnya. Ia ingin Command Center ini bisa terhubung langsung dengan pemerintah kabupaten/kota hingga instansi vertikal. Tujuannya adalah agar tidak ada lagi aduan warga yang “ngambang” karena masalah kewenangan. Nama “Samporoa”, yang berarti “berteman”, dipilih sebagai simbol janji kedekatan antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah berjanji bahwa melalui pusat kendali ini, warga akan merasa benar-benar didengar dan memiliki tempat untuk mengadu.
Peresmian yang dihadiri oleh Wakil Gubernur dr. Reny Lamadjido dan sejumlah pejabat tinggi ini disebut sebagai tonggak penting dalam transformasi digital di Sulawesi Tengah. Ini adalah ujian nyata bagi birokrasi untuk berubah menjadi lebih cepat dan transparan.
Namun, di balik kemegahan teknologi, tantangan terbesar justru ada pada manusia di balik layar. Apakah sistem skor ini benar-benar ditegakkan, atau hanya akan menjadi alat kontrol sementara yang kemudian meredup?
“Ini adalah otaknya pelayanan kita,” seru Gubernur Anwar Hafid. Command Center BERANI Samporoa resmi berdenyut. Kini, semua mata tertuju pada implementasinya. Apakah janji pelayanan super cepat dan akuntabel ini benar-benar bisa direalisasikan, atau hanya akan menjadi slogan di tahun baru? Waktu yang akan menjawab.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar