
Apa Itu Super Flu dan Bagaimana Cara Menghadapinya?
Super Flu adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan varian virus Influenza A H3N2 yang kini diklasifikasikan sebagai Subclade K. Istilah ini semakin ramai dibicarakan akhir-akhir ini karena meningkatnya kasus influenza di beberapa negara. Namun, para ahli kesehatan menegaskan bahwa Super Flu bukanlah penyakit baru atau virus misterius yang muncul tiba-tiba.
Subclade K merupakan bagian dari proses alami evolusi virus influenza yang terus berubah seiring waktu. Perubahan genetik pada virus ini tidak sepenuhnya luar biasa dalam dunia virologi, karena virus influenza dikenal sangat adaptif terhadap lingkungan dan imunitas manusia.
Gejala Super Flu: Lebih Parah atau Sama Saja?
Secara klinis, gejala Super Flu Subclade K tidak jauh berbeda dengan influenza musiman yang selama ini dikenal masyarakat. Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:
- Demam tinggi, sering disertai menggigil
- Sakit kepala dan nyeri otot
- Nyeri atau gatal pada tenggorokan
- Pilek dan batuk
Namun, dr. Nastiti Kaswandani, anggota UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa varian virus tidak bisa dikenali hanya dari gejala fisik. Untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi Subclade K, diperlukan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) di laboratorium khusus. Hal ini mirip dengan cara membedakan varian Delta atau Omicron pada Covid-19.
Kelompok Paling Berisiko
Meskipun Super Flu dapat menyerang siapa saja, terdapat kelompok tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala berat hingga komplikasi serius. Beberapa kelompok tersebut antara lain:
- Bayi dan anak usia balita
- Lansia
- Ibu hamil
- Individu dengan penyakit penyerta (komorbid), seperti penyakit jantung bawaan, kanker, HIV, gangguan autoimun
- Pasien yang mengonsumsi obat penekan sistem imun
Pada kelompok ini, influenza tidak boleh dianggap sepele karena dapat berujung pada rawat inap bahkan kematian jika tidak ditangani dengan baik.
Pola Penyebaran Influenza di Indonesia
Berbeda dengan negara-negara empat musim yang mengalami lonjakan influenza saat musim dingin, Indonesia memiliki karakteristik penularan yang berbeda. Kasus influenza dapat muncul sepanjang tahun.
Menurut dr. Nastiti, peningkatan kasus biasanya mulai terlihat pada periode Oktober hingga November. Karena itu, vaksinasi influenza tidak harus menunggu musim tertentu dan dapat diberikan kapan saja, terutama untuk anak usia minimal 6 bulan serta kelompok berisiko tinggi.
Upaya Pencegahan dan Penanganan
Untuk menekan penularan sekaligus mencegah komplikasi akibat Super Flu, sejumlah langkah pencegahan tetap dianjurkan, antara lain:
- Vaksinasi influenza, yang hingga kini masih efektif dan belum terbukti gagal melawan Subclade K
- Pemberian antivirus, seperti Oseltamivir, terutama pada pasien dengan risiko tinggi sesuai anjuran dokter
- Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rutin mencuci tangan, memakai masker saat sakit, menjaga jarak, dan etika batuk
Kesimpulan
Meski istilah Super Flu terdengar menakutkan, masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada. Pemahaman yang benar, deteksi dini, serta pencegahan yang konsisten menjadi kunci utama menghadapi evolusi virus influenza yang terus berlangsung.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar