Akhir tahun 2025 akhirnya tiba juga. Rasanya baru kemarin kita merayakan pergantian tahun, namun sekarang kita sudah berada di penghujung bulan Desember. Bagi banyak orang, momen ini identik dengan keriuhan, pesta, dan perjalanan jauh yang seringkali menguras kantong serta tenaga. Namun, tahun ini saya memilih untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: "Apa kabar jiwa?"
Pertanyaan sederhana ini seringkali kita lupakan karena terlalu sibuk mengejar target pekerjaan atau memenuhi ekspektasi sosial. Kita terus berlari tanpa henti sampai lupa bahwa batin kita juga butuh ruang untuk bernapas. Maka, di akhir tahun ini, saya memutuskan untuk membasuh lelah yang menumpuk selama setahun terakhir dengan cara yang berbeda. Saya tidak mencari kemewahan, melainkan ketenangan yang tulus.
Membasuh lelah tidak selalu harus dilakukan dengan terbang ke luar negeri atau menginap di hotel berbintang lima. Seringkali, kemewahan material justru membawa kelelahan baru karena persiapan yang rumit dan biaya yang besar. Saya ingin membuktikan bahwa pemulihan jiwa bisa dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Intinya adalah mengizinkan diri ini untuk menghirup napasnya sendiri tanpa beban.
Liburan kali ini menjadi sangat istimewa karena saya menjalaninya bersama istri dan ketiga anak saya. Sebagai kepala keluarga, saya ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari seberapa banyak uang yang kita keluarkan. Kami sepakat untuk mencari kegiatan yang mampu menyegarkan pikiran tanpa harus membuat tabungan menipis atau merasa tertekan oleh rencana yang terlalu padat.
Menemukan Kedamaian di Taman Hutan Raya
Pilihan kami jatuh pada sebuah tempat yang sangat dekat dengan tempat tinggal kami di Kota Bandung. Kami memutuskan untuk berkunjung ke Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, atau yang lebih dikenal dengan Tahura di daerah Dago. Tempat ini adalah paru-paru kota yang menawarkan kesejukan luar biasa di tengah hiruk pikuk Bandung. Bagi kami, ini adalah destinasi yang sempurna untuk melepas penat.
Sesampainya di sana, kami disambut oleh jajaran pohon pinus dan pohon jenis lain yang menjulang tinggi dan aroma tanah basah yang sangat menenangkan. Udara segar yang kami hirup seolah langsung membersihkan paru-paru dari polusi kota. Di sini, saya merasa benar-benar bisa "menghirup napas sendiri". Tidak ada bunyi klakson, tidak ada notifikasi pekerjaan, yang ada hanyalah suara gesekan daun dan kicauan burung yang alami.
Istri saya terlihat sangat menikmati suasana tenang tersebut sambil berjalan santai di bawah rindangnya pepohonan. Sementara itu, ketiga anak saya tampak sangat antusias mengeksplorasi jalan setapak dan melihat monyet-monyet yang terkadang muncul di kejauhan. Melihat kegembiraan di wajah mereka tanpa perlu gadget atau mainan mahal adalah sebuah kepuasan batin yang luar biasa bagi saya.
Kami berjalan perlahan menuju area gua peninggalan sejarah dan menikmati aliran air sungai yang jernih. Tidak ada target waktu, tidak ada daftar tempat yang harus dikunjungi dalam satu hari. Kami hanya mengikuti langkah kaki dan berhenti di mana pun kami merasa nyaman. Kebebasan waktu seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh jiwa yang selama ini terbelenggu oleh jadwal yang ketat.
Kesederhanaan dalam Memulihkan Batin
Salah satu hal yang paling saya syukuri adalah betapa kami bisa hemat biaya liburan dengan pilihan ini. Tiket masuk ke Tahura sangat terjangkau bagi kantong keluarga. Kami juga membawa bekal makanan sederhana dari rumah dan menikmatinya sambil duduk di bangku kayu di bawah pohon. Makan bersama di tengah alam seperti ini rasanya jauh lebih nikmat daripada makan di restoran mewah manapun.
Karena lokasinya yang dekat dengan rumah, kami tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk bahan bakar atau transportasi umum yang mahal. Kami juga terhindar dari rasa lelah akibat perjalanan jauh yang biasanya justru merusak suasana liburan. Kami berangkat dalam kondisi segar dan pulang pun dalam kondisi hati yang senang, tanpa merasa kelelahan secara fisik maupun finansial.
Liburan di Tahura memberikan pelajaran berharga bagi kami sekeluarga. Ternyata, alam selalu punya cara untuk menyembuhkan luka dan lelah. Kita hanya perlu meluangkan waktu untuk hadir sepenuhnya dan menikmati apa yang sudah disediakan Tuhan YME, Allah SWT dengan cuma-cuma. Di sini, kemewahan bukan lagi soal fasilitas, melainkan soal kualitas waktu yang kita habiskan bersama orang-orang tersayang.
Strategi Hemat Biaya Liburan
Pengalaman di akhir tahun 2025 ini menyadarkan saya bahwa membasuh lelah adalah tentang melepaskan, bukan menambah. Melepaskan keinginan untuk pamer, melepaskan rasa gengsi, dan melepaskan beban pikiran yang tidak perlu. Saat kita berhenti mengejar sesuatu yang mewah, kita justru memiliki lebih banyak ruang untuk merasakan syukur atas hal-hal kecil yang ada di depan mata.
Mengizinkan diri menghirup napasnya sendiri berarti memberikan jeda bagi jiwa untuk kembali ke fitrahnya. Jiwa manusia pada dasarnya mencintai ketenangan dan kesederhanaan. Dengan berada di alam terbuka seperti Tahura Dago, kita seperti sedang menyelaraskan kembali detak jantung kita dengan detak jantung alam. Proses ini sangat efektif untuk menghilangkan stres dan kecemasan yang sering muncul di akhir tahun.
Anak-anak saya belajar bahwa liburan adalah tentang kebersamaan, bukan tentang pamer destinasi di media sosial. Mereka belajar untuk menghargai setiap helai daun, setiap tetes air sungai, dan setiap canda tawa bersama orang tua. Pendidikan karakter seperti ini sulit didapatkan jika kita hanya fokus pada hiburan yang bersifat konsumtif dan instan di pusat perbelanjaan.
Saya juga merasa bahwa dengan berhemat, pikiran menjadi lebih tenang. Tidak ada kekhawatiran tentang saldo ATM yang berkurang drastis setelah liburan usai. Ketenangan finansial ini adalah bagian dari kesehatan jiwa. Banyak orang yang setelah liburan justru merasa lebih stres karena harus memikirkan cara menutupi biaya yang sudah dikeluarkan secara berlebihan demi sebuah kesenangan sesaat.
Strategi hemat biaya liburan ini akan terus saya terapkan di masa mendatang. Bandung memiliki banyak sudut yang indah jika kita mau mencarinya dengan hati yang terbuka. Tidak perlu jauh-jauh ke luar kota jika di dekat rumah saja sudah ada tempat seindah Tahura. Yang terpenting bukanlah ke mana kita pergi, tapi dengan siapa kita pergi dan bagaimana suasana hati kita saat menjalaninya.
Memulai Langkah Baru dengan Jiwa yang Bersih
Istirahat yang berkualitas adalah saat kita bisa menutup mata dengan tenang tanpa ada ganjalan di hati. Membasuh lelah dengan air alam, dengan udara segar, dan dengan kasih sayang keluarga adalah obat yang paling mujarab. Judul "Apa Kabar Jiwa?" kini sudah terjawab dengan perasaan lega yang menyelimuti seluruh batin saya dan keluarga.
Kita seringkali terlalu keras pada diri sendiri dengan menetapkan standar kebahagiaan yang terlalu tinggi. Kita merasa belum sukses jika belum bisa berlibur ke tempat mewah. Padahal, kebahagiaan itu ada di dalam pikiran kita. Jika kita bisa merasa cukup dengan kesederhanaan, maka setiap hari pun bisa terasa seperti liburan yang menyegarkan.
Menghirup napas sendiri juga berarti tidak lagi mengikuti ritme napas orang lain. Jika orang lain merasa bahagia dengan kemewahan, biarlah itu menjadi pilihan mereka. Kita tidak perlu ikut-ikutan jika itu tidak sesuai dengan kemampuan atau keinginan batin kita yang terdalam. Menjadi diri sendiri adalah puncak dari ketenangan jiwa yang sesungguhnya.
Di sisa hari libur akhir tahun ini, saya berencana untuk tetap menjaga ritme yang tenang ini. Saya ingin memasuki tahun 2026 dengan semangat baru, tapi tetap dengan jiwa yang membumi. Saya ingin membawa memori kesejukan Tahura ke dalam ruang kerja saya nanti, sebagai pengingat bahwa ketenangan selalu bisa ditemukan jika kita tahu cara mencarinya.
Kesimpulan
Liburan akhir tahun tidak harus selalu identik dengan pengeluaran besar dan kemewahan. Melalui kunjungan sederhana ke tempat-tempat alam terdekat seperti Tahura Dago di Bandung, kita bisa melakukan upaya hemat biaya liburan sekaligus mendapatkan pemulihan jiwa yang maksimal.
Inti dari istirahat sejati adalah memberikan perhatian pada kondisi batin, melepaskan beban ekspektasi, dan merayakan kesederhanaan bersama keluarga. Dengan "membasuh lelah tanpa mewah," kita memberikan hak bagi jiwa untuk kembali segar dan siap menghadapi kehidupan dengan perspektif yang lebih positif dan tenang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar