Apakah Hewan Juga Terinfeksi Rasa Keterasingan?

Fungsi Menguap pada Hewan

Menguap bukan hanya fenomena yang terjadi pada manusia, tetapi juga hampir semua spesies hewan. Fenomena ini ditandai dengan membuka mulut sebesar-besarnya, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Meski terlihat sederhana, menguap memiliki manfaat penting seperti mendinginkan otak, meningkatkan kewaspadaan, dan memberi dorongan energi. Namun, bagi hewan, fungsi menguap tidak selalu berkaitan dengan rasa kantuk atau kelelahan.

Beberapa spesies hewan menggunakan refleks menguap untuk tujuan lain. Contohnya, singa laut Amerika Selatan (Otaria flavescens) diketahui menggunakan refleks menguap sebagai tanda rasa cemas. Selain itu, singa laut jantan juga memanfaatkan menguap sebagai bentuk agresi terhadap jantan lain yang mencoba mengusik atau merebut wilayahnya. Hal ini menunjukkan bahwa menguap pada hewan tidak selalu berarti sedang lelah atau kantuk.

Selain singa laut, beberapa spesies kera dan monyet menggunakan refleks menguap untuk mengatasi stres. Ketika mengalami situasi yang menyebabkan stres akibat interaksi sosial, mereka sering kali lebih banyak menguap dari biasanya. Dengan demikian, bagi beberapa spesies hewan, menguap bisa menjadi cara untuk melakukan interaksi sosial. Faktor ini akan membantu menjawab pertanyaan utama kita tentang apakah hewan juga bisa menguap menular.

Menguap Menular Ternyata Hanya Ditemukan pada Hewan Tertentu

Fenomena menguap menular (contagious yawn) memang sudah dikonfirmasi bisa dilakukan oleh hewan. Namun, sejauh ini fakta tersebut hanya ditemukan pada golongan hewan tertentu saja. Secara umum, fenomena ini baru terkonfirmasi pada mamalia darat yang hidup secara berkelompok.

Hewan seperti simpanse, gajah, domba, serigala, dan singa dikonfirmasi mengalami fenomena menguap menular. Bagi mereka, fenomena ini lebih pada ekspresi rasa empati terhadap individu yang pertama kali menguap. Uniknya, setelah menguap menular terjadi pada mamalia berkelompok, perilaku mereka selanjutnya terlihat lebih sinkron dan menumbuhkan kesadaran kolektif.

Dua hal tersebut bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh bagi mamalia yang hidup berkelompok. Sebab, kehidupan sosial pada hewan-hewan tersebut “memaksa” mereka untuk senantiasa kompak dengan anggota kelompok masing-masing dalam menghadapi berbagai situasi. Misalnya, koordinasi ketika berburu, menjaga anak-anak, sampai mempertahankan diri dari serangan predator.

Sejauh ini, kita belum tahu apakah menguap menular turut terjadi diluar keluarga mamalia yang hidup berkelompok. Kalaupun ada tanda-tandanya, tujuan dari fenomena tersebut juga belum diketahui secara menyeluruh, mengingat proses penelitiannya yang terbilang rumit. Yang jelas, bagi dunia hewan, menguap tak hanya tanda tubuh meminta istirahat, tetapi juga jalan untuk menyampaikan pesan dan interaksi dengan sesama.

Beberapa Bahkan Ada yang "Tertular" dari Manusia

Fenomena menguap menular ternyata tidak mesti terjadi pada satu spesies hewan saja. Soalnya, ada beberapa hewan sosial yang ternyata bisa “tertular” fenomena ini hanya dengan melihat manusia menguap di sekitarnya. Salah satu contoh yang paling banyak diamati adalah menguap menular pada anjing domestik yang dipelihara manusia.

Anjing yang sudah dipelihara lama dan punya ikatan batin dengan manusia hampir pasti mengalami menguap menular karena ikatan dan empati antara keduanya sudah terjalin dengan erat. Kerennya, bukan cuma anjing yang mengalami hal tersebut. Simpanse dan gajah turut mengalami menguap menular ketika melihat manusia yang jadi perawat mereka menguap. Malahan, khusus bagi simpanse, pernah terekam fenomena menguap menular ketika ia melihat sebuah robot yang diprogram agar dapat “menguap”.

Pada akhirnya, fenomena menguap menular ternyata baru diketahui muncul pada golongan mamalia yang hidup secara berkelompok, termasuk manusia. Hebatnya lagi, menguap menular juga bukan sekadar respon acak ketika otak diberi stimulus untuk ikut menguap. Ada banyak makna dibaliknya yang berkaitan dengan interaksi sosial pada kelompok mamalia. Jadi, kalau lain kali kamu terkena fenomena menguap menular, itu artinya ada empati dan ikatan sosialmu sebagai mamalia yang hidup secara berkelompok.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan