Tren Pernikahan Intim yang Akan Menjadi Era Baru pada Tahun 2026
Tren pernikahan global saat ini menunjukkan pergeseran signifikan dari pesta besar dan mewah menuju perayaan yang lebih intim dan bermakna. Pola ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2026, dengan banyak pasangan masa kini, terutama generasi milenial dan Gen Z, memprioritaskan kualitas di atas kuantitas. Mereka lebih memilih menghabiskan anggaran untuk menciptakan pengalaman yang intim bagi lingkaran terdekat mereka daripada menjamu banyak tamu.
Berikut beberapa fakta lengkap terkait tren pernikahan intim yang akan menjadi era baru pada tahun 2026:
1. Prediksi Tahun 2026 akan Lebih Sering Menghadirkan Pernikahan Intim dengan Sentuhan Personal
Menurut tim dari vendor Pggyshrn Stylist, tren pernikahan intim diprediksi semakin kuat pada tahun 2026. Pasca pandemi, pasangan merasa lebih nyaman dengan acara yang kecil dan hangat karena memungkinkan mereka lebih dekat dan berinteraksi dengan para tamu undangan yang mereka kenal.
Bahkan untuk pernikahan berskala ballroom sekalipun, elemen keintiman tetap disisipkan, seperti foto-foto perjalanan pasangan atau dekorasi yang menceritakan kisah mereka. Tamu tidak lagi hanya datang dan duduk pasif, tetapi diajak masuk dalam perjalanan pasangan melalui visual, cerita, hingga aktivitas yang membuat pengalaman lebih bermakna.
“Kalau misalnya scale-nya ballroom, mereka infuse sesuatu yang intimate. Misalnya di meja itu mereka masukin kayak fotografi dengan gambar mereka sedang bepergian atau apa pun, atau dikasih foto yang langsung di-print, pakai disposable camera untuk foto that moment. Mungkin yang sifatnya activities atau journey seperti itu, mungkin sekarang orang lebih jadi lebih nyari,” jelasnya.

2. Hadirnya Momento yang Berkesan
Sebagai seorang Wedding Stylist dari Pggyshrn Stylist, Peggy Sharon menyebut bahwa memento atau kenang-kenangan akan menjadi atribut yang nantinya naik daun. Tren ini menonjolkan engagement antara pasangan dan tamu melalui benda-benda personal, seperti foto dari pasangan tersebut.
Bahkan, di setiap tempat duduk tamu itu ada place card dengan nama masing-masing tamu dengan bentuk beragam dan bisa dibawa pulang. “Ada mungkin satu pernak-pernik, barang-barang kecil bisa dibawa pulang, mungkin pakai namanya mereka, seperti place card. Setiap tamu duduk dengan nama masing-masing itu dalam bentuk yang bermacam-macam, patung kecil atau frame foto yang mana bisa dibawa pulang,” ungkap Peggy.
Setiap tamu mendapatkan sesuatu yang membuat mereka merasa menjadi bagian dari pernikahan tersebut. Pasangan muda kini tak mau pernikahannya hanya menjadi acara sekali lewat, tetapi meninggalkan jejak emosional yang intim dan personal bagi semua yang hadir.
“Mostly pengin yang nggak mau cuma sekali lewat saja acaranya pernikahannya, mereka pengin ingat. Lebih ke activity journey-nya yang dicari, menurut aku tren dari stylist seperti itu,” pungkasnya.

3. Jumlah Tamu Dibatasi dan Fokus untuk Orang-orang Terdekat Saja
Pernikahan 2026 diperkirakan akan semakin tegas dalam hal jumlah tamu, seperti yang dikatakan Franciska selaku Project Manager dari Riviera Wedding Organizer. Ia mengatakan bahwa anak-anak muda sekarang membatasi jumlah undangan hanya untuk orang-orang yang benar-benar dekat, umumnya 200–300 tamu atau bahkan lebih sedikit.
“Sekarang itu mostly mereka (pasangan) maksimum di 200 hingga 300 pax. Mereka punya pandangan kalau bisa membuat acara sekecil itu, yang mana mereka kenal dengan tamu-tamunya, bukan yang berdiri di depan dengan bertanya-tanya siapa saja yang datang, entah itu tamu papanya atau mamanya,” ucap Franciska.
Generasi sekarang sudah mulai menolak keharusan memenuhi “jatah tamu orangtua” demi menjaga suasana tetap dekat dan hangat. Fokus mereka adalah menciptakan kenangan bermakna dengan orang-orang terdekat, bukan pesta besar tanpa kedekatan emosional. Hal ini juga membuat suasana pernikahan lebih nyaman, tidak canggung, dan penuh interaksi.
“Kalau intimate itu mereka benar-benar tahu yang diundang memang benar-benar close friend, keluarga inti, keluarga terdekat,” sambungnya.

4. Intimate Wedding dengan Konsep Duduk
Pada umumnya orang-orang yang kondangan terbiasa standing atau berdiri. Namun, bagi Sri Yoko selaku Accessibility Manager, ke depannya pernikahan tahun 2026 diprediksi mengarah pada konsep intimate wedding yang lebih santai namun berdurasi panjang.
Menurutnya, generasi sekarang lebih menyukai konsep duduk atau disebut sitting wedding yang memungkinkan mereka berinteraksi lebih dekat dan lebih lama dengan para tamu. “Mungkin next bukan hanya 2 jam, mungkin bisa lebih karena duduknya itu bisa jangkanya (waktunya) akan lebih,” kata Yoko.
Seperti pada venue hotel, permintaan penggunaan waktu yang lebih panjang juga meningkat, termasuk opsi untuk melanjutkan acara hingga malam hari. Selain itu, pilihan hiburan dan konsumsi seperti soft drink hingga alkohol mulai dilirik untuk menciptakan suasana yang lebih personal dan fleksibel, mengikuti tren yang sudah lebih dulu terlihat pada pesta pernikahan di Bali.
Semua ini menunjukkan bahwa Jakarta dan kota besar lainnya berpotensi mengikuti arah yang sama, yakni pernikahan yang lebih intimate, lebih lama, dan lebih berfokus pada pengalaman bersama orang terdekat.
“Saya yakin Jakarta akan muncul ke situ, lebih intimate dan waktunya lebih lama,” tuturnya.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar