
Remaja Surabaya Mengubah Sampah Menjadi Inovasi Pangan Sehat
Di usia yang masih sangat muda, Aqeel Ataullah Yahyaputra, siswa SMPN 6 Surabaya, Jawa Timur (Jatim), telah membuktikan bahwa langkah kecil bisa memberi dampak besar bagi lingkungan. Dengan inovasinya, ia berhasil mengolah 1 ton sampah organik menjadi kompos yang digunakan untuk menanam selada. Hasilnya, ia mampu menghasilkan lebih dari 6.600 tanaman selada dan menjual produk-produk olahan seperti keripik sehat hingga es krim selada yang diminati hingga mancanegara.
Aqeel adalah anggota termuda dari komunitas lingkungan Kosagrha Lestari. Sejak Mei lalu, ia memulai proyek pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos untuk urban farming skala rumah. Ia mulai dengan mengumpulkan sampah organik warga setiap akhir pekan, mencapai 20 kilogram per minggu. Selama enam bulan, total hampir 1 ton sampah organik berhasil diolah menjadi kompos sebagai media tanam selada.
Mengelola Sampah Menjadi Kompos
Aqeel melihat bahwa rumah kompos di lingkungan tempat tinggalnya jarang dimanfaatkan. Ia pun mengambil inisiatif untuk mengumpulkan sampah organik warga setiap akhir pekan. Ia menyadari bahwa selada mudah ditanam dan lebih dikenal orang, sehingga lebih gampang dijelaskan ke masyarakat. Yang penting semangatnya menanam.
Selama musim tanam, Aqeel telah menghasilkan lebih dari 6.600 tanaman selada. Meski sempat gagal akibat panas, hujan, hingga benih yang tidak cocok, Aqeel akhirnya menemukan benih lokal yang lebih murah Rp 5.000–10.000 per kemasan, namun sangat cocok untuk dataran rendah Surabaya.
Keberhasilannya menular ke warga. Banyak warga mulai menanam selada di halaman rumah. Awalnya, hasil selada dibagikan untuk kegiatan Posyandu hingga RT setempat, namun permintaan meningkat hingga akhirnya ia menjual selada segar dan pernah memperoleh pendapatan hingga Rp 2 juta.
Membuat Keripik Sehat dan Es Krim Selada
Tak berhenti di pasar selada segar, Aqeel membuat inovasi baru, keripik selada sehat. Selada dikeringkan menggunakan dehidrator pada suhu 60° celcius dan dibumbui bawang putih, garam serta lada. “Rasanya enak sebenarnya. Banyak yang suka,” ujar Aqeel.
Inovasi terbesar Aqeel muncul saat ia menciptakan es krim selada, dengan tambahan sedikit daun kelor agar warnanya lebih hijau dan menarik. Produk ini selalu laris saat bazar Kosagrha Lestari, bahkan dipesan sejumlah pejabat. “Es krim ini Alhamdulillah banyak yang suka,” kata Aqeel yang pernah mempresentasikan proyek seladanya di hadapan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.
Es krim selada itu juga dipamerkan kepada tamu asing, mulai dari mahasiswa Asia hingga perwakilan Pemerintah Singapura yang datang dalam kunjungan edukasi ke SMPN 6 dan Kosagrha Lestari. Aqeel mempresentasikan proyeknya dalam bahasa Inggris, menjelaskan konsep zero waste dan urban farming. “Mereka tertarik dengan proyek ini,” ujarnya.
Bahkan, beberapa tamu dari Singapura tertarik menjajaki kerja sama dalam program pertanian ramah lingkungan.
Target Masa Depan: Jadikan Es Krim Selada Produk Unggulan Kampung
Sebagai anggota termuda Kosagrha Lestari, Aqeel aktif dalam edukasi lingkungan, produksi pangan sehat, sampai pengembangan wisata edukasi kampung. Target berikutnya, ia ingin memperbesar produksi es krim selada dan mengembangkan kembali keripik selada agar dapat diproduksi massal.
“Es krim selada ini sekarang jadi produk unggulan di sini,” ujar Aqeel yang rutin sosialisasi urban farming di tingkat RW.
Dari Sampah Dapur Hingga Mendunia
Langkah seorang remaja Surabaya ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa bermula dari langkah kecil. Dengan setangkai selada, segenggam sampah dapur dan keberanian mencoba, Aqeel tidak hanya menggerakkan warga untuk bertanam, tetapi juga menghadirkan inovasi pangan sehat yang menginspirasi hingga mancanegara.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar