Pengalaman Arisan Keluarga yang Penuh Makna

Pada Jumat sore, di minggu pertama bulan terakhir tahun 2025 ini, saya melaju dengan kuda besi tua menuju rumah salah seorang kerabat untuk mengikuti arisan keluarga. Tiba di tempat arisan, suasana sudah ramai. Di ruang tamu yang agak sempit itu sudah sesak, tidak hanya oleh peserta arisan tetapi juga oleh wadah cemilan yang dihidangkan tuan rumah.
Dari halaman terdengar tawa bahagia kaum hawa yang tengah melepas rindu setelah sebulan tidak bertatap muka. Ramai sekali. Di grup WA juga demikian. Kalau satu sudah mengirim pesan, yang lain akan menimpali nyaris tanpa jeda. Itu memang ciri khas ibu-ibu. Kalau sudah bertemu, mereka saling bercerita tanpa jeda. Semuanya merasa berhak menjadi pembicara tanpa titik. Satu pengalaman kecil bisa jadi alur cerita yang panjang macam cerita bersambung. Di ujung mulut ibu-ibu, kisah jagung bakar bisa terdengar dramatis dan berkembang menjadi kelangkaan elpiji, cucian kotor, bocah tantrum, hingga skin care. Kalau dibukukan bisa kalah tebal buku Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. Mungkin juga bisa lebih seru dari petualangan Sherlock Holmes. Namun di situlah makna dan warna arisan.
Arisan yang dijadwalkan minggu pertama setiap bulan itu dilaksanakan di tempat yang berbeda-beda, nomaden, berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Ini tergantung kesepakatan dan kesediaan anggota arisan. Sebagian besar anggota arisan tinggal dalam satu kecamatan. Hanya beberapa saja yang berada di luar kecamatan. Jadi tidak terlalu sulit untuk berkumpul. Kalau ada anggota arisan yang tidak hadir bisa jadi korban tuduhan tidak setia pada janji awal.
"Ini bukan soal rajin setor uang arisan tetapi tentang perjumpaan, kebersamaan, dan makna dan nilai pertemuan," kata salah seorang anggota arisan.
Dalam beberapa hal saya sendiri tidak selalu nyaman berada dalam sebuah kerumunan atau situasi yang melibatkan banyak orang. Namun arisan itu membuat saya berusaha untuk berdamai dengan ketidaknyamanan. Ada yang lebih penting dan cukup berarti bagi keluarga. Maka saya selalu menyempatkan diri hadir. Kecuali beberapa kali karena halangan tertentu.
Nama saja arisan keluarga. Anggotanya masih keluarga semua. Saya sendiri terikat hubungan keluarga dari pihak ibu. Semua peserta arisan merupakan keluarga besar yang mengerucut kepada satu nama Papuk Igok (Kakek Igok). Nama itu dipandang sebagai generasi awal keluarga peserta arisan. Di antara anggota arisan mungkin hanya 2-3 orang yang pernah bertatap muka dengan Papuk Igok karena masa hidupnya yang teramat lampau.
Arisan tersebut merupakan inisiatif yang muncul karena hubungan kekerabatan terasa menjadi semakin jauh. Sebelum arisan sebagian besar tidak saling mengenal. Kalaupun saling mengenal, amat jarang saling berkunjung dan berkomunikasi. Ciri khas kehidupan masyarakat dewasa ini yang merasa selalu sibuk membuat keluarga sulit terhubung satu sama lain. Perjumpaan hanya mungkin pada saat ada yang meninggal atau hari raya.
Dengan pertimbangan perbedaan kemampuan keuangan, setoran arisan disesuaikan dengan standar paling minimal agar tidak terasa berat bagi sebagian anggota. Jamuan saat kumpul juga menjadi pertimbangan. Biaya konsumsi bersifat gorong royong. Sejak awal peserta arisan membuat kesepakatan untuk tidak memaksakan diri menyediakan hidangan melebihi anggaran yang dikeluarkan. Termasuk dilarang membicarakan kekurangan dan kelebihan hidangan yang disajikan tuan rumah.
Arisan keluarga dipandang sebagai alternatif yang cukup mumpuni untuk menjalin simpul kekerabatan yang makin rapuh. Ia memberikan makna penting lebih daripada sekadar mengumpulkan uang dan melakukan pengundian untuk menentukan anggota yang berhak menerimanya.
Sorak dan tepuk tangan anggota arisan saat undian adalah nyanyian kebahagiaan bersama. Ia adalah ritme kerinduan cucu kepada kakek nenek, dongeng bibi untuk keponakan kecilnya, atau kegembiraan sepupu yang lama tak bertemu. Gemuruh suara saat undian adalah teriakan kemenangan kolektif melawan sikap congkak individualistis.
Arisan keluarga memiliki dampak emosional yang jauh lebih dalam dan bermakna di balik debar jantung atau teriakan anggota saat undian dilakukan. Ia mampu merajut kembali simpul hubungan batin kekerabatan yang sempat longgar ditempa ruang dan waktu.
Arisan memungkinkan kita mengenal keluarga yang sebelumnya asing. Setiap tatapan adalah penghubung dengan para leluhur dimana semua generasi bermula. Setiap senyuman adalah penghapus sekat. Semua merasa tidak lagi berjarak.
Arisan keluarga memberikan kita kesempatan menjeda petualangan bising kehidupan yang serba cepat dalam hiruk pikuk kesibukan yang memasung setiap orang. Arisan keluarga adalah ruang kedamaian, tempat nyaman untuk pulang kembali kepada orang-orang tercinta. Pertemuan di beranda atau di teras rumah mengajak kita menapaki kembali setiap kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Arisan keluarga adalah persinggahan tempat melepas penat dalam perjalanan panjang kehidupan menuju kematian.
Arisan keluarga adalah lingkar kecil yang merangkum banyak kehidupan. Di dalamnya, ada tangan-tangan yang dulu berpegangan pada masa kanak-kanak, kini saling berjabat dalam usia yang menua. Kumpul bersama keluarga saat arisan menjadi ruang tutur lintas generasi. Mereka yang tua menanamkan hikmah lewat kisah masa lalu, yang muda menyemai harapan lewat mimpi-mimpi masa depan. Di antara keduanya nilai kebersamaan tumbuh perlahan, seperti pohon yang akarnya menguatkan tanah tempat semua berdiri.
Pada akhirnya, arisan keluarga bukan tentang uang yang berpindah tangan, juga bukan hidangan lezat yang dihidangkan. Ia adalah tentang jiwa yang tetap saling merangkul dan menguatkan. Arisan adalah simpul waktu, yang menautkan masa lalu, merawat hari ini, dan menyimpan harapan dimana kebersamaan tak lekang keangkuhan diri dan perubahan zaman.
Lombok Timur, 13 Desember 2025
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar