
nurulamin.pro - Pernah merasa jantung berdebar tanpa alasan, detaknya terasa tidak beraturan atau tubuh terasa cepat lelah?
Hati-hati, itu bisa jadi tanda aritmia, yaitu gangguan irama jantung yang dapat menghambat aliran darah dan memicu pembekuan darah, sehingga berujung pada stroke bahkan kematian mendadak.
Dijelaskan oleh dr. Agung Fabian Chandranegara, Sp.JP(K), FIHA dari Mayapada Hospital Tangerang dan Jakarta Selatan, “Aritmia terjadi ketika sinyal listrik yang mengatur detak jantung menjadi tidak beraturan, salah satu yang paling umum adalah fibrilasi atrium (FA), di mana ruang atas jantung (atrium) bergetar cepat dan tidak terkoordinasi, sehingga darah tidak mengalir dengan lancar dan menggenang di kantung kecil jantung atau Left Atrial Appendage (LAA).”
Dokter Agung melanjutkan, “Genangan darah ini lama-kelamaan dapat membentuk gumpalan (trombus). Bila gumpalan ini pecah dan terbawa ke otak, dapat menyebabkan stroke sumbatan (iskemik), atau bila menyumbat organ lain, dapat menimbulkan sumbatan di pembuluh darah (trombosis sistemik).”
Tak hanya itu, terdapat dampak serius lainnya seperti penyumbatan pembuluh darah paru (emboli paru), gangguan fungsi jantung karena beban kerja meningkat, hingga gagal jantung pada aritmia yang terjadi terus-menerus.
Kondisi aritmia ini harus segera ditangani untuk mencegah terjadinya pembekuan darah. Menurut dr. Agung, terdapat beberapa metode penanganan aritmia yang dapat dilakukan di antaranya pemeriksaan Elektrofisiologi (EP Study).
“Prosedur ini mampu memetakan aktivitas listrik di dalam jantung guna menentukan lokasi pasti sumber aritmia. Tujuannya adalah untuk mengetahui jenis aritmia dan menentukan terapi paling tepat,” jelasnya.
Lalu, Pulsed Field Ablation (PFA), teknologi ablasi terbaru yang menonaktifkan jaringan jantung penyebab aritmia.
“Metode ini lebih aman, cepat, dan minim komplikasi dibandingkan ablasi
konvensional seperti radiofrekuensi atau krioterapi,” lanjut dr. Agung.
Ada pula tindakan LAA Closure untuk pasien dengan risiko tinggi stroke akibat pembekuan darah di area kantung kecil jantung (LAA).
“Tindakan ini dilakukan dengan menutup area tempat gumpalan darah, untuk menurunkan risiko stroke,” ujarnya.
Terakhir, terapi medis dan pemantauan Holter 24 Jam.
“Terapi ini dilakukan untuk memantau irama jantung secara berkelanjutan dan mendeteksi gangguan tersembunyi yang mungkin tidak muncul saat pemeriksaan rutin,” tutup dr. Agung.
Mengingat risiko aritmia yang dapat menimbulkan komplikasi serius, diperlukan peningkatan kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat.
Sebagai upaya meningkatkan deteksi dan penanganan aritmia secara komprehensif, Mayapada Hospital melalui Cardiovascular Center menghadirkan layanan menyeluruh di unit Mayapada Hospital Kuningan, Jakarta Selatan, Tangerang, Bandung, dan Surabaya.
Layanan ini didukung tim dokter spesialis dan subspesialis jantung berpengalaman yang mampu melakukan berbagai tindakan lanjutan untuk kondisi jantung.
Jika terjadi kondisi gawat darurat jantung, Mayapada Hospital juga memiliki layanan Cardiac Emergency yang siaga 24 jam menangani serangan jantung dengan protokol internasional (door to wire <60>Layanan ini dapat diakses melalui call center 150990 atau fitur Emergency Call di MyCare.
Informasi kesehatan lainnya tersedia dalam fitur Health Articles & Tips di MyCare. Ada pula fitur Personal Health yang terhubung dengan Google Fit dan Health Access untuk memantau detak jantung, kalori, langkah, dan Body Mass Index (BMI).
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar