
Peran KRL Commuter Line dalam Mobilitas Warga Jabodetabek
Setiap hari, jutaan masyarakat urban Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) bergantung pada transportasi umum. Salah satu moda yang menjadi pilihan utama adalah kereta rel listrik (KRL) Commuter Line. Penggunaannya sangat umum untuk pergi bekerja, bersekolah, atau melakukan aktivitas sehari-hari. KRL Commuter Line dipilih karena kecepatan, biaya terjangkau, dan kemampuannya mengatasi kepadatan lalu lintas di jalan raya.
Dengan menggunakan KRL, waktu perjalanan lebih terukur, sehingga pengguna bisa lebih leluasa mengatur waktu untuk kegiatan produktif. Namun, di balik peran vital tersebut, ada kenyataan mendesak yang sering disuarakan oleh masyarakat, yaitu jumlah penumpang yang terus meningkat sementara sebagian armada sudah memasuki masa pensiun teknis. Hal ini menyebabkan banyak penumpang merasa perjalanan semakin penuh sesak.
Yunita (28), seorang komuter dari Parung Panjang, mengeluh tentang kondisi ini. Ia mengatakan bahwa meskipun KRL merupakan transportasi yang nyaman, penumpang sering kali harus berdesak-desakan. “Kadang pintu hampir tidak bisa menutup. Kalau memaksa masuk, ya harus berdiri berimpitan sampai kantor,” ujarnya.
Meski sering mengeluh, Yunita tetap setia menggunakan KRL. Baginya, KRL adalah transportasi paling masuk akal karena biayanya murah. Untuk perjalanan dari Parung Panjang ke Palmerah, ia hanya mengeluarkan Rp 4.000 per sekali jalan. Setelah itu, ia melanjutkan dengan ojek online hingga kantor. Opsi transportasi lain memang ada, tetapi energi, waktu, dan kocek bisa habis untuk pekerja muda seperti dia.
Rizka (34), seorang pekerja yang juga bergantung pada KRL, mengalami hal serupa. Untuk menjangkau kantornya di Palmerah, ia perlu naik KRL dari Cisauk-Palmerah dengan biaya Rp 3.000. Meski murah, perjuangan pada jam-jam tertentu sangat luar biasa. “Saya berangkat pagi sekali. Kalau telat, risikonya harus naik kereta selanjutnya dan biasanya lebih penuh sesak,” katanya.
Keduanya berharap, suatu saat transportasi terjangkau bisa dinikmati dengan nyaman. Mereka optimistis, selama transportasi publik tetap menjadi perhatian pemangku kebijakan, kebutuhan sarana dan prasarana masyarakat bisa lebih dimaksimalkan.
Penumpang Kian Membludak
Data PT KAI Commuter Indonesia (KCI) mencatat, volume pengguna KRL Commuter Line Jabodetabek pada Oktober 2025 mencapai 29.933.224 orang. Angka tersebut meningkat sebesar 6,1 persen dibandingkan periode Oktober 2024. Secara kumulatif, periode Januari hingga Oktober 2025 mencapai 287.297.882 penumpang, meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
KCI memproyeksikan pengguna Commuter Line Jabodetabek akan mencapai 334.34 juta orang hingga akhir 2025. Jumlah perjalanan juga bertambah setelah pemberlakuan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) pada 1 Februari 2025 dari 1.048 perjalanan menjadi 1.063 perjalanan per hari.
VP Corporate Secretary PT KCI Karina Amanda mengatakan, peningkatan ini mencerminkan semakin pentingnya peran Commuter Line bagi mobilitas warga Jabodetabek. Dengan rata-rata penumpang pada weekday sebanyak 1.038.471 orang dan weekend pada angka 755.718 orang, Commuter Line menjadi transportasi pilihan utama masyarakat karena terjangkau, aman, dan nyaman. Di samping itu, Commuter Line efektif dalam mengurangi kepadatan di jalan raya dan mampu mengurangi tingkat polusi.
Upaya KCI Menjawab Kebutuhan
Lonjakan jumlah pengguna menjadi alarm bagi operator dan pemerintah untuk segera memperkuat armada. Tanpa langkah konkret, kenyamanan penumpang bisa terus menurun dan keandalan layanan terancam. Untuk itu, KCI menyiapkan langkah antisipatif sejak 2023 yaitu rencana pengadaan trainset baru. Bahkan, Penyertaan Modal Negara (PMN) juga diprioritaskan untuk penambahan armada KRL.
Kajian dari PwC memperkirakan pengguna KRL akan mengalami lonjakan okupansi pengguna pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari bisa mencapai 242 persen per perjalanan pada 2027 jika KCI tidak melakukan pengadaan sarana baru. Kekurangan armada bukan hanya soal kenyamanan. Kondisi ini dapat memicu turunnya jumlah pengguna, meningkatnya keluhan, risiko keselamatan dan keamanan, hingga potensi kerugian finansial karena target pelayanan publik tidak tercapai.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah dalam mengembangkan sistem transportasi perkeretaapian nasional. Menurutnya, kereta api dan seluruh sistem transportasi massal merupakan bagian dari kehidupan masyarakat modern yang sangat strategis dan vital.
Proyeksi Kebutuhan ke Depan
KCI memperkirakan, pada 2029 layanan KRL Jabodetabek membutuhkan 127 trainset atau 1.444 unit kereta dengan mayoritas formasi 12 kereta (SF12). Selain meningkatkan efisiensi waktu dan produktivitas pekerja, keberadaan KRL terbukti menciptakan multiplier effect di sektor properti dan usaha mikro.
Banyak pengembang memanfaatkan akses KRL sebagai nilai jual utama, sementara masyarakat menikmati kemudahan menjangkau pusat kota dengan biaya rendah. Pada saat yang sama, kegiatan ekonomi mikro, seperti warung makan, ojek pangkalan, dan usaha kecil menengah ikut tumbuh di sekitar stasiun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa investasi negara melalui PMN tidak hanya berdampak pada peningkatan pelayanan publik, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal dan mempercepat urbanisasi terencana di kawasan penyangga.
Bagi penumpang seperti Yunita dan Rizka, fenomena lonjakan penumpang seharusnya jadi alarm bagi pemerintah dan pemangku kebijakan transportasi untuk memprioritaskan penambahan sarana demi kenyamanan bermobilitas para pengguna. Terlebih, solusi untuk mengurai kemacetan yang diupayakan pemerintah juga mengerucut pada saran bagi masyarakat agar memakai transportasi umum. Hal ini pun sudah diikuti masyarakat, dibuktikan kesadaran menggunakan transportasi publik yang semakin meluas hingga berbagai kalangan profesi dan usia.
Penambahan armada, pembaruan fasilitas, dan integrasi antarmoda, utamanya di kawasan penyangga harusnya jadi prioritas. Sebab, kalau kapasitas dan konektivitasnya ditingkatkan, penumpang bisa lebih nyaman dan punya banyak opsi untuk beralih dari transportasi pribadi. Dengan begitu, kemacetan akan terurai dengan sendirinya.
Pada akhirnya, investasi pada sarana KRL bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Penambahan armada baru menjadi harapan besar masyarakat urban untuk bisa menikmati transportasi publik yang terjangkau sekaligus nyaman.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar